
"Awas, hati-hati!" Senja memperingatkan Hendra. "Aku mengisi semua senapan," katanya. Ia mengembalikan senapannya ke rak dan menutup kacanya. "Kalau-kalau…"
Kalau-kalau apa? tanya Magisna dalam hati.
"Aku akan cerita supaya kalian tidak perlu terlalu hati-hati dengan senjata api," kata Senja pada Hendra dan Agustin yang membelakangi perapian. "Ada seorang anak bernama Michael."
Hendra dan Magisna spontan bertukar pandang dengan raut wajah gelisah.
"Dia suka sekali berburu pada saat badai. Dasar idiot gila. Aku berani bertaruh dia akan keluar bahkan pada hari yang buruk seperti sekarang. Dia bilang itu lebih menantang."
"Apa yang dia buru?" tanya Agustin.
"Bebegig!" sela Ais dari atas sofa sembari tertawa dengan suara lucu kekanakan.
Bebegig artinya orang-orangan sawah.
"Kerud," jawab Senja serius, lalu mulai bercerita sembari berjalan mondar-mandir. "Dia selalu bilang dia bisa melihat kerud lebih jelas dalam badai. Kerud tidak bisa bersembunyi dengan baik saat badai. Itu yang dia katakan. Tapi dia melakukan kesalahan, kau tahu. Maksudku, memang lebih mudah untuk melihat kijang di salju, tapi seorang heckuva lebih sulit untuk melihat seorang pemburu. Kalian mengerti apa yang kukatakan?"
Magisna menelan ludah. Hendra dan Agustin tergagap. Ais berhenti tertawa.
Seisi ruangan menatap Senja dengan mata dan mulut membulat.
Heckuva adalah istilah untuk menyebutkan si pembawa sial.
Agustin mengangguk dan tersenyum gelisah.
"Yah, kurasa kau sudah bisa menebak akhir ceritanya!" Senja menyeringai lebar ke arah Agustin.
Hendra tertunduk dengan wajah cemberut, tampaknya ia mulai merasa tak nyaman.
Ais menarik duduk tubuhnya dan menatap api seraya memeluk kedua lututnya.
Dia pasti tidak menyukai cerita itu, pikir Magisna seraya meliriknya. Sama seperti aku.
"Kepala anak malang itu ditembak oleh beberapa orang pemburu bodoh!" Senja menyentakkan kepalanya ke belakang dan tertawa.
Hendra bergabung dengannya, tertawa sembari menggeleng-geleng. Agustin menatap ke belakang ke arah Magisna dan memutar bola matanya, seolah-olah berkata, ada apa sih dengan orang-orang ini?
Magisna juga tidak bisa melihat bagian lucunya. Cerita ini sangat mengerikan, pikirnya. "Apakah anak malang itu teman Anda?" tanyanya ragu-ragu.
__ADS_1
"Yah," jawab Senja sembari menoleh pada Magisna dan membelalakkan matanya. Dan entah karena apa, hal itu malah membuatnya tertawa lebih keras. "Apa kau mempercayainya?"
Magisna mengerjap dan memalingkannya wajahnya.
"Maksudku, apakah kau percaya orang itu benar-benar idiot gila yang seperti itu?" ulang Senja seraya mengedikkan sebelah bahunya. Lalu menggeleng sekilas dan menyeringai lebar.
Hendra memandang tajam ke arah Magisna. Seperti sedang berusaha menebak pikirannya.
Magisna menelan ludah dengan susah payah, kemudian melirik rak senjata di belakang Hendra dengan raut wajah cemas.
Agustin hanya menggelengkan kepalanya, lalu kembali menuju sofa ke arah Ais.
"Mungkin nanti kita semua bisa pergi berburu bersama," kata Senja pada Hendra. "Bagaimana pendapatmu?" Ia bertanya pada Agustin.
"Tidak," sergah Agustin cepat-cepat. "Saya lebih suka tinggal di sini saja di depan perapian. Saya dan Ais sudah bosan jalan-jalan dalam hutan saat badai."
Raut wajah Senja kelihatan tidak suka. Jawaban Agustin tampaknya tidak menyenangkannya.
Tiba-tiba Magisna merasa kedinginan lagi meskipun masih berada di depan perapian. Menggigil dan tampak tidak nyaman. Mungkin karena ia terlalu kelelahan atau bisa jadi karena melihat senjata-senjata itu dan mendengar cerita Senja.
Jangan biarkan dirimu terpengaruh oleh ceritanya, kata Magisna dalam hati. Tapi ia tetap tak habis pikir bagaimana Senja bisa berpikir cerita temannya yang terbunuh begitu menggelikan baginya.
Lalu Magisna menegur dirinya sendiri karena terlalu berlebihan menilai situasi. Dia hanya mencoba beramah-tamah saja. Dia juga merasa tak nyaman bersama kami. Bagaimanapun dia sudah cukup baik karena sudah menampung kami semua. Aku hanya tidak terbiasa menghadapi orang seperti Senja, sehingga pria itu membuatku merasa tak nyaman, ia menyimpulkan. Lalu bangkit dan melangkah menuju jendela besar yang hampir memenuhi seluruh dinding.
"Pak Senja—" Magisna menoleh pada Senja dengan ragu-ragu.
Pria itu meliriknya dengan raut wajah datar. "Ya?"
"Siapa nama belakang anak malang itu?" tanya Magisna setengah tercekat.
"Isaac," jawab Senja. "Michael Isaac!"
Magisna tersentak ke arah Hendra dan tergagap dengan wajah pucat.
Hendra balas menatapnya dengan tajam, seolah bertanya, apa sih yang kau pikirkan?
Siapa pria ini sebenarnya?
Apakah dia adalah Senja yang namanya tertulis pada dinding di doolhof?
__ADS_1
Senja yang itu sudah jadi hantu!
Hantukah dia?
Cukup! Magisna menghardik dirinya. Berhentilah menakut-nakuti diri sendiri!
Magisna menghela napas berat, menjauh dari jendela dan berjalan ke arah dapur. Senja hanya menggodaku, katanya dalam hati. Dia hanya berusaha menakut-nakutiku. Mungkin dia mengenal Pak Isa. Tapi bagaimana dia bisa tahu sesuatu terjadi pada Pak Isa meski bukan ditembak para pemburu?
Tidak, bantah Magisna dalam hati. Dia tidak tahu apa-apa soal Pak Isa. Dia membicarakan Michael Isaac yang lain!
Aku harus berbicara dengan Gabe. Dengan begitu aku bisa mengalihkan sedikit pikiran burukku. Siapa tahu aku bisa sekalian mengorek informasi mengenai pasangan ini. Barangkali tidak terlalu buruk.
Bau apel dan kayu manis tercium ketika Magisna memasuki dapur.
Dapurnya besar dan hangat dengan panel kayu warna gelap, menampakkan kasau-kasau di atasnya.
Sama sekali tidak terlihat seperti dapur pondok berburu. Selain itu, ia melihat sebuah sudut yang nyaman untuk sarapan dengan meja kayu panjang, lemari kabinet dari kayu di tiga sisi dinding, dan sebuah jendela besar bertirai yang menghadap ke halaman belakang.
Sebuah kompor kuno besar menempel di satu dinding. Ada sesuatu yang sedang mengepul dalam panci tembaga berbentuk bundar di atas kompor itu.
Gabe sedang berada di tempat cuci piring ganda, sedang mencuci cangkir-cangkir kopi yang habis dipakai keempat remaja itu.
"Hai," sapa Magisna ragu-ragu. Suaranya mengejutkan wanita itu.
Kelihatannya Gabe sedang memikirkan sesuatu. Dia menatap Magisna dengan alis bertautan. "Maaf," katanya dengan wajah agak kemerahan. "Aku lupa siapa namamu!"
"Magisna. Maaf, saya mengganggu Anda!" Magisna mendekatinya. "Tapi saya masih kedinginan," katanya beralasan. "Boleh saya minta secangkir teh? Saya bisa sendiri kok, kalau boleh."
"Tidak apa-apa," Gabe mengeringkan tangannya dengan serbet, kemudian berjalan melewati Magisna dan meraih ke atas untuk membuka salah satu kabinet. Dia berjinjit dan mulai merogoh-rogoh isi setiap rak, mencari teh.
Dia mencari teh di dapurnya sendiri?
"Bisa saya bantu?" Magisna menawarkan.
"Tidak. Aku akan menemukannya!" Gabe membuka lemari kabinet dan membuka lemari yang lainnya.
Magisna menelan ludah dan tergagap.
Tiba-tiba hal itu membuat Magisna merasa heran. Jika ini memang dapurnya, kenapa Gabe tidak mengetahui di mana tempat teh itu?
__ADS_1
Apakah aku saja yang menafsirkan terlalu jauh? pikir Magisna.
Atau keadaan ini memang benar-benar aneh?