Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 18


__ADS_3

Tubuh Hendra menggeliat ke dalam lubang dan lenyap. Makin banyak saja gumpalan tanah dan batu berguling ke bawah melewati gundukan ke arah mereka.


Yang terakhir dilihat Magisna ialah sepatu bot Hendra.


"Lu mau duluan?" tanya Magisna.


"Tunggu deh," balas Alexza. "Dia pasti bakal kasih tau kita kalo situasinya aman."


Oke, pikir Magisna. Pilih yang ini atau yang lain.


Mereka menunggu beberapa detik, tapi tidak mendengar apa-apa.


"Ndra?" panggil Alexza.


Tak ada jawaban.


"Hendra?" ia mengulangi, lebih keras.


Tak ada apa-apa.


Magisna mengelap telapak tangannya yang berkeringat pada celana jeans-nya dan menggenggam obor. Berapa lama lagi mereka harus menunggu? Kenapa Hendra tidak menyahut?


Barangkali ia tak bisa menjawab, pikirnya.


"Ndra!" Alexza berteriak. "Nyaut, Setan!"


Kepala Hendra muncul melalui lubang. "Apaan sih?"


Magisna mendesah lega.


"Lu bikin gua takut aja," Alexza mengomel. "Ngapa lu gak nyaut?"


"Gua abis ngerangkak rada jauh tadi," sahut Hendra. "Ayo naek. Ati-ati, tapi. Di sini rada gokil,"


Kepala Hendra lenyap lagi.


"Lu duluan," Magisna menawarkan.


"Gak mau," sahut Alexza. "Lu aja yang duluan. Gua masih gak yakin apa gua bisa..."


"Lexza," Magisna menatap ke dalam mata gadis itu. "Lu pasti bisa. Harus. Lu gak bisa tinggal di sini."


Alexza mengangguk. "Iya, gua tau," bisiknya. "Tapi lu duluan, gih! Ntar gua nyusul."


Magisna balas mengangguk. Ia tidak tahu apakah Alexza benar-benar akan mengikutinya atau tidak. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan.


Kecuali menarik lehernya, pikirnya.


"Oke," katanya. "Sampai ketemu di sisi lain kehidupan kita," kelakarnya masam.


Alexza mengangguk lagi.


Magisna menoleh ke arah tumpukan tanah lagi.


Ia menarik napas dalam-dalam, dan mulai memanjat. Serta-merta ia tergelincir ke belakang. Gumpalan tanah baru runtuh dari langit-langit.


Ini seperti pasir, pikirnya. Bagaimana tadi Hendra melewati ini?


Gerak cepat, katanya.


Gerak cepat dengan pergelangan kaki seperti ini? Kurasa tidak.


Tapi ia harus mencoba.

__ADS_1


Ia mundur ke belakang, menjauh dari gundukan, mengalihkan obor ke tangan kirinya. Lalu ia menguatkan hati dengan menghitung.


Satu... dua...


Ia melompat. Ia memanjat tanah dengan sebelah tangan dan kedua lututnya.


Jangan jatuhkan obornya! perintahnya pada diri sendiri.


Lubang itu makin dekat sekarang. Gumpalan tanah dingin jatuh dari langit-langit.


Tapi ia tak bisa berhenti. Tidak sekarang.


Ia berusaha lebih keras, menyeret kaki ke atas sekuat tenaga. Ia tidak memedulikan tanah yang runtuh. Tidak menggubris rasa sakit pada pergelangan kakinya.


Ia berkonsentrasi dalam-dalam untuk ledakan energi terakhir, lalu melemparkan dirinya ke dalam terowongan yang sempit itu.


Serta-merta ia tahu ia tak bisa berhenti.


Di terowongan itu tak ada apa-apa selain tanah semata. Tanah mengalir di sekelilingnya, membuat obornya terpental. Ia dapat menggalinya---tapi setiap kali ia menggali segenggam, yang lain runtuh menggantikan tempatnya.


Yang bisa ia lakukan hanya bergerak ke depan, dan berharap Alexza mengikuti.


Rasa takut mencengkeram perut Magisna.


Aku takkan berhasil, pikirnya ngeri. Terowongan itu terlalu sempit. Ini akan ambruk!


Gerakannya menjadi tersentak-sentak, seperti kejang.


Aku harus tenang!


Tapi ia tak bisa. Ia bernapas makin lama makin cepat. Ia tak memperoleh cukup udara. Tak ada cukup udara di dalam terowongan!


Paru-parunya terangkat lebih kuat. Kakinya seperti terbakar. Terowongan ini tak ada ujungnya.


"Aduh!" teriaknya, sambil meludahkan tanah itu dari mulutnya.


Ia mengguncangkan kepalanya dengan hebat, mencoba mengibaskan tanah dari rambutnya. Cahaya obor berkerlap-kerlip suram di depannya.


Magisna memutar lidahnya di seputar mulutnya, menyatukan gumpalan besar lumpur dan meludahkannya, memuntahkannya.


Makin banyak tanah turun ke rambutnya.


Aku harus bergerak, katanya dalam hati. Atau aku mati di bawah sini!


Kakinya menendang dengan kalut dalam tanah. Ia mendorong tumpukan tebal ke samping dengan lengannya. Seperti berenang menembus pasir.


Lalu tiba-tiba, ia bisa bernapas lagi. Udara segar di atas sana. Dan ia melihat kerlap-kerlip obor lain.


Magisna mendesah panjang dan merangkak ke depan.


Ia muncul di ruangan beratap rendah, persis seperti semua ruangan lain yang telah mereka lewati. Ia mengerjap dan memandang tajam ke sekeliling, mencoba menentukan di mana ia berada. Mula-mula ia melihat Hendra di bawahnya, mengangkat obornya.


Magisna menyeret tubuhnya sepanjang jalan dengan gerutuan. Ia meluncur turun melewati gundukan tanah di lantai, sembari memegang obornya di depan agar tetap menyala. Ia berdiri, dan segera merasakan perbedaan udara. Tidak sepadat udara di sepanjang Doolhof. Tidak lembap oleh air hujan dan sampah busuk. Baunya juga tidak begitu menyengat. Tidak terlalu busuk seperti dari masa lalu...


"Apa yang lu liat?" tanya Magisna, matanya masih merah karena debu. "Apa lu udah nemu jalan keluar?"


"Kagak," jawab Hendra tanpa beban sedikitpun.


Tak lama Alexza meluncur ke bawah melewati gundukan di belakang mereka. Ia menjerit, dan mendarat keras. Obornya terlepas.


"Lu kenapa?" tanya Magisna.


"Gua ketimbun tanah segaban-gaban," kata Alexza sengit. "Gua kira gua udah mati!"

__ADS_1


Hendra menoleh dan menautkan alis. "Apaan segaban-gaban?"


"Segunung, t o l o l!" Alexza memelotinya.


Hendra terkekeh geli.


Magisna mendadak kaku. "Apa terowongannya kesumbat sekarang?"


Alexza memelototi Magisna sekarang. "Kok lebih kuatir sama terowongannya daripada gua?"


"Kalo terowongannya kesumbat, kita mau keluar lewat mana kalo di ujung lain ternyata gak ada pintu keluar?" Magisna balas memelototinya.


Alexza mendesah kasar. Lalu menggelengkan kepalanya. "Kayaknya enggak sih, tapi ampir."


Hendra membantu Alexza berdiri. Ia tertutup tanah, dan Magisna membayangkan dirinya tak jauh berbeda dari itu. Alexza menepuk-nepuk tubuhnya, tapi tidak membantu.


"Di mana kita?" tanya Alexza.


"Di mana pun kita sekarang, ini jelas bukan tempat yang kita arepin," sahut Hendra.


"Kenapa?" tanya Magisna curiga.


"Liat aja sendiri."


Magisna menatap ke balik bayangan berkelap-kelip, tapi tak melihat apa-apa.


Lalu napas Alexza tersentak.


Apa yang mereka lihat? tanyanya dalam hati. Dengan cepat ia menyeka matanya dengan ujung sweater-nya dan mencoba memfokuskan pandangannya.


Kemudian Magisna melihatnya.


Oh, tidak, pikirnya. Tidak mungkin... ini mustahil!


Tapi itulah.


Magisna tahu mereka akhirnya secara tak sengaja telah menemukan rahasia Doolhof.


Dan semua cerita itu benar.


Ais tidak membual, pikirnya.


Ia menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan jeritan..


Di depan mereka tergeletak tiga belas kerangka manusia berwarna cokelat yang membusuk.


Magisna mengerang. Kerangka. Mayat manusia yang membusuk. Terperangkap dalam lubang ini. Ia ingin pergi. Ingin lari sekarang juga dan tak pernah menoleh lagi.


Tapi ia bahkan tak bisa berhenti memandang kerangka itu.


Pakaian mereka compang-camping. Beberapa kerangka itu duduk dengan punggung bersandar pada dinding---seakan-akan mereka menunggu seseorang datang---siapa saja. Yang lainnya terbaring dengan rahang terbuka lebar. Tulang mereka sewarna tanah kuburan.


Tapi yang paling tak bisa Magisna lupakan adalah rongga mata mereka...


Kosong. Gelap. Dan... mati!


Ia menahan teriakannya. Ia tak dapat mempercayai penglihatannya. Tiga belas orang mati!


Siapakah orang-orang ini?


Para mandor? 


Mandor besar?

__ADS_1


__ADS_2