
Hendra memandu jalan keluar dan masuk ke dalam ruangan utama lagi. Sejauh ini situasi aman.
"Ke mana kita?" tanya Dika.
"Silahkan pilih arah," Hendra menawarkan.
"Shh!" desis Magisna. "Dengerin deh!"
Semua terdiam. Langkah-langkah kaki berdetak di ubin.
Jantung Magisna mulai berdebar-debar. Kali ini bukan takut pada saus tomat---ini sungguhan. "Kepala sekolah datang!" ia berbisik.
"Buruan jalan," teriak Hendra. Ia mendorong Dika menuju pintu keluar sebelah kiri mereka.
"Jangan!" protes Novi. "Dia di situ sekarang!"
"Enggak, dia gak di sana," Dika menyahut. Ia menunjuk pintu keluar di sebelah kanan. "Dia di sini."
Langkah-langkah kaki bergema di dinding dan langit-langit kantin.
Magisna merasa tegang, tapi tak dapat mengatakan dari mana suara itu berasal.
"Cepetan," bisik Magisna. "Dia datang."
"Kembali ke kelas," perintah Novi.
"Jangan," Hendra menjawab. "Dia bakal ngegorok kita. Gua tau jalan. Ayo."
Ia kembali ke dapur yang berliku-liku.
Magisna mengikutinya.
Ketika mereka berjalan melewati lemari-lemari baja antikarat yang sangat besar, denyut jantungnya berdentam di telinganya.
Bagaimana jika Pak Isa menangkap mereka?
Hukuman lagi?
Atau lebih buruk dari itu?
Magisna menarik napas dalam-dalam dan terus berjalan.
Hendra memimpin mereka menuju pintu di sisi lain dapur. Mereka berhenti dan mendengarkan.
Langkah-langkah kaki itu tak terdengar.
Untuk saat ini.
Magisna mendesah lega.
Dengan hati-hati Hendra menarik selot yang mengunci pintu. Ia memutar kenop pintu hingga menimbulkan bunyi klik keras seperti bunyi tembakan dalam keheningan.
Masih tak terdengar langkah-langkah kaki.
Hendra menarik pintu hingga terbuka lebar. Di balik pintu itu ada koridor panjang dengan deretan loker---dan nyaris gelap pekat. Tak ada jendela di koridor ini.
Hendra mengisyaratkan mereka untuk maju. Satu per satu, mereka melangkah ke dalam gang. Pintu dapur menutup di belakang mereka.
__ADS_1
Magisna tak bisa melihat apa-apa.
Gedebuk. Gedebuk.
Langkah kaki itu!
Makin keras sekarang.
Magisna mencoba menentukan arahnya dalam kegelapan.
Langkah kaki itu begitu dekat!
Seolah-olah dari tangga tepat di sebelah dapur.
"Jalan," geram Hendra. Ia melesat di sepanjang gang.
Magisna mengejarnya, melakukan gerakan setengah berlari, setengah berjinjit. Ia tidak menengok ke belakang untuk melihat apakah yang lain mengikutinya.
Langkah-langkah itu makin keras. Magisna mencoba berlari lebih cepat, tapi percuma saja. Gang itu terlalu panjang. Pak Isa akan keluar dari tangga, memandang ke ujung gang, dan melihat mereka berlari. Mendengar kaki mereka menginjak lantai.
Dan permainan akan berakhir.
Mereka sampai di ujung gang dan Hendra berhenti.
"Lu gila, ya?" kata Novi marah. "Jalan, b e g o!"
"Dengerin," sergah Hendra.
Suara langkah kaki itu lenyap.
Hendra menatapnya sejenak, seakan-akan mempertimbangkan apa yang ia katakan. Setelah pandangan mereka menyesuaikan diri dengan kegelapan, tempat itu tidak terlalu gelap lagi sekarang. Pipi Magisna makin memanas, dan ia berdiri tak nyaman. Ia jengah kalau Hendra menatapnya seperti itu.
"Dia bener," akhirnya Hendra berkata. "Kalo kita tetep di sini, Isa bakal mergokin kita, pasti."
"Kirain lu gak peduli," kata Novi kasar.
"Emang kagak," sanggah Hendra.
"Gua tau ke mana kita bisa pergi," Magisna menawarkan. Ia tidak tahu apakah itu pilihan bagus, tapi tinggal di gang ini terlalu berisik. "Ayo."
Ia bergerak ke depan beberapa langkah, lalu melihat ke belakang.
Keempat-empatnya menatap dirinya.
"Kalian mau debat soal ini apa mau ikut sama gua?" tanya Magisna.
Ia kembali berjalan seraya berkata pada dirinya sendiri bahwa ia tak peduli mereka ikut atau tidak. Tapi nyatanya ia tak bisa untuk tak peduli. Ia tak ingin sendirian di gang yang gelap.
Sewaktu ia memandang sekilas ke belakang, ia kaget melihat yang lain dekat di belakangnya.
Magisna tak dapat menahan senyumnya. Hendra bukan satu-satunya orang yang bisa menjadi pemimpin.
Ia hanya berharap rute pelariannya tidak membuat mereka tertangkap.
"Kita mau ke mana sih?" tanya Dika.
"Liat aja nanti," sahut Magisna.
__ADS_1
"Tunggu!" seru Hendra. "Ini keren, tau."
Magisna mengangguk senang. Mereka sekarang berada di gudang pupuk yang menjadi wilayah kantor administrasi perkebunan, sembari memandang tumpukan karung pupuk yang berderet dalam gelap. Suara mereka bergema di ruangan besar itu.
"Gimana kalo dikasih sedikit pencahayaan?" usul Novi.
"Gosah macem-macem, Kampret," Hendra memperingatkan.
"Yah---itu bisa merusak lelucon Hendra berikutnya," gerutu Alexza.
Hendra tertawa kecil. "Lu masih marah soal itu?"
"Gak lucu," jawab Alexza.
"Buat gua itu lucu," debat Hendra.
"Lu emang berengsek," Alexza menggerutu. "Harusnya gua gak ngomong sama lu."
"Mana ada," kata Hendra padanya. "Gua tau lu gak bisa marah lama-lama sama gua."
"Oh, ya?" sergah Alexza. Tapi seringai kecil di wajahnya menunjukkan pada Magisna bahwa Hendra benar.
"Ini gudang paling jelek yang pernah gua liat," Dika menyela.
Magisna menoleh untuk melihat. Gambar grafiti berpola aneh memenuhi seluruh dinding. Mirip gambar misterius pada relief bangunan Mesir kuno.
"Wah jelek," gumam Dika mencela. "Monyet aja bisa bikin gambar yang lebih bagus."
"Iya, Nyet," sindir Hendra.
Tiba-tiba Dika menyeringai.
Ia bergerak menuju lemari perkakas yang terbuka di pojok ruangan. Ia menarik sebuah kotak kayu berisi kaleng-kaleng cat. Dika memilih botol pencet cat akrilik warna hitam---dan menyemprotkannya pada dinding. Lalu ia membuka tutup botol cat biru. Lalu oranye.
Magisna merasakan getaran rasa malu. Dika telah menyeberangi batas kesenangan dengan kesewenangan yang keterlaluan. Ia tak dapat membayangkan bagaimana reaksi para pekerja perkebunan bahkan mandor mereka pada hari Senin pagi.
"Orang-orang mungkin butuh waktu bertahun-tahun buat bikin grafiti itu," gumam Novi, seolah-olah menggemakan pikiran Magisna. "Bisa aja gambar itu mengandung arti khusus."
"Badai Alisyah menghancurkan semuanya," jawab Dika. "Mereka mestinya naro penjaga."
Suatu bunyi melengking membuat Magisna terlompat.
Ia berpaling dan melihat Hendra duduk bersila di atas tumpukan pupuk dengan sebatang seruling tradisional berbahan bambu di tangannya. Ia meniup seruling bambu itu sekuat tenaga untuk menguji apakah seruling itu masih berfungsi dan akhirnya terdengar jeritan melengking ke seluruh ruangan.
"Asyik," komentar Hendra sambil nyengir. Ia membuat suara melengking lagi. "Gua kira udah rusak!"
"Itu seruling buat manggil kawanan macan kumbang, b e g o," Novi berteriak mengatasi suara berisik itu, setengah berkelakar setengah menakut-nakuti. Tapi tentu saja hal itu tidak berpengaruh pada Hendra.
Hendra meniup seruling itu lebih kencang lagi.
"Berisik, setan," teriak Magisna pada Hendra. "Kenapa gak sekalian aja lu panggil Pak Is!"
Tapi Hendra tetap meniup-niup seruling itu tanpa teknik dan suara yang dihasilkannya sangat menjengkelkan.
Magisna melangkah ke belakang tumpukan pupuk, melewati berkarung-karung pupuk yang disusun tinggi hingga ke langit-langit.
Di bagian belakang, jauh dari bunyi lengkingan seruling Hendra, Magisna menemukan tirai berwarna hitam. Tergantung begitu tinggi hingga Magisna tak bisa melihat ujungnya. Seseorang telah memakukan tirai itu di dinding dengan paku tajam yang sangat kecil.
__ADS_1