
Keempat remaja itu berdiri tepat di belakang Senja ketika pria itu menarik pintu depan. Embusan angin dingin menyerbu masuk ke dalam ruangan seolah-olah sedang menanti pintu itu dibuka.
Senja mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap serambi. "Itu pohon kelapa sawit," katanya, dan mulai memaki keras-keras. "Pohon kelapa sawit tua sialan," ulangnya. "Mungkin tak kuat menahan badai."
"Tolong tutup pintunya," kata Gabe dari lantai atas seraya menggigil.
Senja menjulurkan kepalanya ke luar. Angin kencang menerpa ke dalam ruangan membawa buih air hujan yang memutih seperti kepulan asap. "Pohon sialan itu menimpa pondok," katanya memberitahu semua orang. Lalu kembali ke dalam dan menutup pintu. Digeleng-gelengkannya kepalanya untuk mengenyahkan butiran air hujan yang tersangkut di rambutnya yang selurus penggaris.
"Kita tarik yuk pohonnya!" saran Hendra. "Gua pen olahraga sedikit." Dia mulai berjalan menyeberangi ruangan, menuju tempat penyimpanan jaket.
"Ya, terima kasih!" Senja menaikkan alis matanya, bertanya pada Agustin. "Kau ikut juga?"
"Ya, saya akan membantu!" kata Agustin, terdengar sedikit kurang bersemangat dibandingkan Hendra yang sudah mengenakan jaketnya dan bergegas ke pintu depan.
Senja mengambil hoodie sweater-nya dari dekat pintu dan mengenakannya, meraba-raba ritsletingnya. Aneh, pikir Magisna. Lengan sweater-nya menggantung terlalu pendek pada lengannya yang panjang semampai.
Hendra sudah menghilang di pintu depan, diikuti Senja dan juga Agustin.
Magisna pergi ke dapur untuk menghindari udara dingin. Ia menuangkan secangkir teh untuk Ais dan membawa cangkir mereka ke dalam dan kembali duduk di depan perapian.
Dari serambi depan mereka mendengar suara Hendra, Senja dan Agustin ketika mereka berusaha memindahkan batang pohon.
"Rasanya kita butuh sedikit hiburan hari ini," gumam Magisna seraya menatap api.
Ais mengikuti arah pandangnya, tapi tak mengatakan apa-apa.
Magisna kembali teringat pada Novi, Dika dan Alexza. Membayangkan apa yang mereka lakukan di doolhof. Entah apakah Papa Tibi dan para penduduk sudah menemukan mereka atau belum. Semoga mereka baik-baik saja, harapnya dalam hati.
Tiba-tiba ia merasa bersalah. Aku aman dan nyaman, pikirnya. Sementara nasib mereka belum jelas.
Meski demikian Magisna merasa dirinya juga belum benar-benar aman.
__ADS_1
Satu hal yang paling mengganjal di hatinya adalah keberadaan Jati dan teman-temannya. Terlepas dari rasa penasarannya pada sosok Jati, Magisna tentu merasa aneh dengan situasinya. Mobil mereka terpakir di bawah sana, pikirnya. Dan satu-satunya tempat yang bisa disinggahi hanyalah pondok ini. Tapi tak satu pun dari mereka berada di sini.
Aku harus bertanya pada Gabe, Magisna memutuskan.
Ia menoleh ke atas untuk melihat keberadaan Gabe. Tapi perempuan itu sudah tidak ada di sana. Mungkin sedang di kamarnya di loteng itu.
Dan entah kenapa dia juga tidak merasa hangat meski dia sedang berada di depan perapian sembari minum teh panas.
"Menurut lu, Senja itu orangnya baik nggak?" bisik Magisna pada Ais.
"Dia baik udah mau nampung kita di sini," jawab Ais dengan raut wajah polos.
Mata Magisna beralih ke rak senjata di pojok ruangan dan menemukan dirinya sendiri sedang memikirkan cerita mengerikan yang dipaparkan Senja dan membayangkan bagaimana lucunya cerita itu bagi Senja.
"Sudah kukatakan biarkan aku yang menariknya!" teriak Senja pada Hendra. "Kau punya gangguan pendengaran atau apa?"
"Lain kali lu tarik sendiri aja kalo ada pohon tumbang!" sergah Hendra seraya berdiri di hadapan Senja, menatap balik dan menantangnya.
"Semuanya oke?" teriak Gabe dari lantai atas.
"Well---yeah, semuanya baik-baik saja. Hanya orang sok tahu ini sedikit susah diatur." Senja menatap tajam pada Hendra yang sudah memalingkan wajahnya. "Kau tak perlu khawatir, kami sudah berhasil menyingkirkannya!" katanya pada Gabe seraya menjejak-jejakkan sepatu botnya untuk menyingkirkan tanah basah yang menempel. Lalu dia membuka ritsleting sweater-nya yang tidak pas itu dan melemparkan sweater itu ke paku.
Gabe terkesiap menatap sweater itu dengan mata dan mulut membulat.
"Senja dan Hendra adalah kombinasi yang buruk," bisik Agustin pada Magisna seraya tersenyum tipis.
Sambil mengamati Hendra, Magisna mengangguk setuju.
"Terutama saat Senja memelototimu seperti anjing kelaparan," lanjut Agustin seraya memandang penuh arti.
Magisna mengerjap dan memalingkan wajahnya. Sampai saat ini ia masih belum mengerti kenapa Hendra selalu tampak kesal setiap kali Senja bicara padanya.
__ADS_1
Jangan bilang kalau dia cemburu, katanya dalam hati. Kebersamaan kami hanya baru satu hari. Meski Magisna merasa sudah bertahun-tahun berada di doolhof bersama Hendra. Di tambah terjebak di sini, sekarang rasanya sudah satu abad mengenal dekat Hendra.
Ah, Magisna merutuk dalam hatinya. Ia teringat Alexza. Sesaat di doolhof dia pernah merasa menang, tapi sekarang ia disergap rasa bersalah. Selamat dari mimpi buruk di doolhof membuatnya merasa seperti telah mencelakai Alexza demi memenangkan Hendra.
"Kau tahu betapa cemburunya Hendra pada Senja?" Agustin menambahkan.
Pake dibacain! erang Magisna dalam hati.
Beberapa saat kemudian Senja dan Hendra tampaknya sudah berdamai. Mereka semua, kecuali Gabe, kembali duduk di seputar perapian, makan sup kacang merah khas Belanda buatan Gabe dan mendengarkan Senja bercerita bagaimana dia telah mengalami badai yang lebih buruk daripada kali ini. Selama menceritakan kisahnya, dia menatap terus ke arah Magisna.
"Kalian monyet-monyet memang sungguh beruntung," katanya seraya berdiri di depan perapian. Rambut panjangnya masih basah karena hujan.
"Terjebak dalam badai seperti ini bukan beruntung namanya," sergah Hendra dari ujung sofa.
"Yeah, tapi pada awalnya kalian sudah menikmati akhir pekan yang menyenangkan, kan?" Senja berbalik untuk mengaduk-aduk api dengan tongkat besi pengaduk api. "Dulu aku dan Gabe suka berakhir pekan di tempat ini," gumamnya.
Magisna mengerutkan keningnya dan melirik pada Hendra. Ini aneh, pikirnya.
"Saya tidak mengerti maksud Anda," sela Magisna. "Maksud saya, Anda dan istri Anda sekarang berada di sini untuk berakhir pekan—"
"Kubilang dulu kami suka berakhir pekan di sini," sergah Senja. "Sekarang Gabe tidak menyukainya lagi. Dia mengabaikanku selama bertahun-tahun. Meski dia tetap datang ke sini setiap akhir pekan, dia tak pernah bicara padaku!"
Seisi ruangan tiba-tiba terdiam.
Itukah sebabnya Gabe tidak mau bergabung bersama kami? pikir Magisna.
"Apa maksudnya meski dia tetap datang ke sini setiap akhir pekan?" Ais bertanya seolah menggemakan isi pikiran Magisna.
"Aku tinggal di sini dan tidak pernah pulang ke rumahku," cerita Senja. "Terakhir kali aku pulang, keluargaku juga mengabaikanku. Dan dia juga!" Ia menambahkan seraya mengerling ke arah balkon. "Dan aku tidak pernah tahu apa salahku!"
Seketika bulu kuduk Magisna meremang. Apa yang terjadi? tanyanya dalam hati. Kenapa aku tiba-tiba menggigil?
__ADS_1
Cerita Gabe tentang barang-barang yang sering tiba-tiba berpindah tempat, ukuran sweater yang tidak pas, dan ekspresi Gabe ketika melihat sweater itu melayang ke paku…
Apa artinya?