
Memasuki kelas, Magisna melihat Dika di bangku ketiga dari bangku ujung di depan meja guru—menepati bangku Jingga.
Magisna meliriknya sekilas melalui ekor matanya ketika ia berjalan di gang di antara deretan bangku-bangku.
Kenapa mereka begitu rajin datang ke sekolah? pikirnya.
Lalu secara tiba-tiba dan tanpa peringatan, cowok itu seketika balas meliriknya.
Bulu kuduk Magisna serentak meremang. Ini bukan pertama kalinya ia beradu pandang dengan makhluk itu, tapi Magisna tak bisa membiasakan diri.
"Eka," seorang murid perempuan mendesis dan menghampirinya. "Lu udah denger soal murid sekolahan kita yang ditemukan pingsan tadi pagi?"
"Ya," jawab Magisna singkat dan acuh tak acuh.
"Sekolahan ini kayaknya gak beres," bisik murid perempuan itu dengan raut wajah cemas.
Magisna tertawa sinis di dalam hatinya. Bukan sekolahan ini, batinnya masam. Tapi sekolahan kita. Ia menurunkan tas dari punggungnya dan meletakkannya di meja, membuka ritsletingnya dan mengeluarkan buku-bukunya. Lalu menutup kembali ritsletingnya dan menjejalkan tasnya ke dalam laci di bawah mejanya. Kemudian menyelinap ke bangkunya.
Murid perempuan tadi menopangkan kedua tangannya di meja Magisna dan membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Magisna. "Katanya ada banyak darah berceceran di lantai koridor," ia melanjutkan.
Magisna menyimaknya dengan mulut terkatup.
Gadis itu kembali membuka mulutnya dengan mata terbelalak, bersiap untuk mengatakan bagian yang paling menegangkan menurut dirinya.
Tapi suara murid perempuan lain mengusik mereka. "Eka, lu dipanggil kepala sekolah!" teriaknya dari ambang pintu.
Dika spontan melirik Magisna.
Magisna balas meliriknya dengan gelisah. Lalu buru-buru bangkit dari bangkunya.
Murid perempuan yang membungkuk di atas mejanya menarik diri dan memberikan jalan pada Magisna. Tapi lalu tiba-tiba merenggut lengannya dan menahan langkahnya.
Magisna menoleh dan mengangkat sebelah alisnya.
"Bisa tolong sekalian?" pinta gadis itu dengan raut wajah penuh harap. "Minta sama kepala sekolah untuk mempercepat renovasi sekolah kita, lu pengurus OSIS kan? Kita gak bisa lama-lama numpang di sini!"
Magisna mencoba memaksakan senyum dan menepuk lembut punggung tangan gadis itu. "Gua coba, ya!" bujuknya.
Gadis itu akhirnya melepaskannya.
Magisna bergegas ke ruang kepala sekolah dengan langkah-langkah lebar.
Kepala sekolah itu masih mengenakan kacamata blue ray, tapi tidak mengenakan hoodie sweater.
Sejak awal dia memang jarang mengenakan hoodie sweater, Magisna menyadari. Hanya sesekali saja, itu pun ketika cuaca mendung atau saat hujan.
Hari itu Pak Isa mengenakan kemeja putih dengan kedua lengan digulung sampai ke siku. Tapi tetap mengenakan celana hitam dan dasi sewarna yang seolah tak pernah diganti karena warnanya yang itu-itu saja. Ia tak punya warna lain kecuali hitam dan putih.
"Mereka menyerang Jingga Arsena, apa aku benar?" Pak Isa memulai interogasinya.
"Ya," jawab Magisna seraya menarik bangku di depan meja Pak Isa, kemudian duduk seraya menatap kepala sekolahnya dengan raut wajah muram.
Pak Isa menghela napas berat dan mengembuskannya perlahan. Kemudian tercenung menatap udara kosong.
"Mungkin sebaiknya renovasi sekolah kita dipercepat," Magisna memberanikan diri mengutarakan usul teman sekelasnya.
__ADS_1
Pak Isa langsung menoleh. "Kamu tahu kan sumber masalahnya justru berada di sana?" desisnya.
"Maka kita kembalikan mereka ke sana," sanggah Magisna.
Pak Isa menautkan alisnya.
"Anggaplah masalah ini semacam endemik," Magisna menambahkan. "Kita harus menekan penyebarannya."
Pak Isa melipat kedua tangannya di depan dada seraya berpikir keras. Tapi jelas ia memandang baik usul Magisna. Lagi pula renovasi itu hanya dilakukan di beberapa bagian sekolah. Bagian lainnya masih bisa difungsikan.
"Saya akan membawa kalian kembali," Pak Isa memutuskan.
Magisna mendesah pendek.
"Tapi sebelum itu…" Pak Isa kembali menatap Magisna. "Kita harus menyelesaikan terlebih dahulu masalah Miss Pinkan."
Magisna mengerutkan dahinya. "Kita?"
"Ya, kalian diminta bersaksi dalam kasus ini." Pak Isa mengeluarkan selembar amplop dari laci mejanya dan menyodorkannya pada Magisna.
Surat panggilan sidang!
Lagi? Magisna membatin muak.
"Tapi—" Pak Isa mendesah kasar sebelum akhirnya melanjutkan, "Hendra dan Alexza sedang koma. Sementara Novi dan Dika… mungkin tidak bisa diandalkan."
Magisna memungut amplop itu dari meja Pak Isa dan mengantonginya. "Jadi?" tanyanya kemudian.
"Semuanya bergantung padamu sekarang," Pak Isa menandaskan.
Seberapa panjang Penulis Keparat mampu menggarap novelnya kali ini?
Seingatnya paling panjang hanya sampai seratus bab. Itu pun sudah disisipi banyak iklan dan pengumuman di samping… curhat.
"Kembalilah ke kelasmu," perintah Pak Isa.
Magisna menarik bangkit tubuhnya dan berpamitan. Kemudian bergegas keluar dan berbelok menuju toilet.
Ia membasuh muka dan mengeringkannya. Lalu tercenung di depan wastafel. Suara mendesis menarik perhatiannya. Kedua matanya setentak terpicing, mencoba menyimak suara tadi.
Seseorang sepertinya sedang menangis di suatu sudut di dalam toilet itu.
Magisna melongok ke arah koridor dan memeriksa semua pintu.
Pintu-pintu itu tertutup semua. Tapi Magisna yakin hanya satu yang terisi.
Lalu Magisna mulai memeriksanya satu per satu. Mengetuk setiap pintu dan membukanya. Rata-rata pintu tidak terkunci. Tidak ada siapa-siapa di dalam sana kecuali dirinya. Dan suara tadi tidak terdengar lagi.
Aku pasti salah dengar tadi, pikir Magisna.
Tapi kemudian suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih dekat.
Seseorang sedang terisak dalam salah satu bilik di belakang Magisna.
Magisna memutar tubuhnya dan mengetuk pintu yang belum diperiksanya.
__ADS_1
Tidak ada jawaban. Hanya suara terisak dan tersengak-sengak.
Magisna mendorong pintu itu dan memekik tertahan, "Jingga!"
Gadis tomboi itu duduk meringkuk di sudut toilet, menangis memeluk kedua lututnya dengan tubuh gemetar, menyusupkan wajahnya di antara lipatan tangannya sembari terisak.
Jiwanya pasti terjebak di sini sepanjang malam, pikir Magisna prihatin. Lalu membungkuk dan menyentuh puncak kepala Jingga.
Gadis tomboi itu mengangkat wajahnya dan terperangah. Kemudian menghambur ke dalam pelukan Magisna, menyusupkan wajahnya di bahu Magisna, dan menangis sejadi-jadinya.
"Jangan kek gini, ah!" protes Magisna sembari menepuk-nepuk lembut punggung sahabatnya. Dia tidak kelihatan, pikir Magisna. Orang-orang akan memergokiku dan mengira aku sudah gila. "Sejak kapan lu jadi cengeng?" goda Magisna.
"Gua takut!" bisik Jingga di antara isak-tangisnya. "Gua kira gua udah mati."
"Mana mungkin," hibur Magisna sambil cengengesan. "Malaikat maut aja ogah nyolek lu!"
Jingga terkekeh parau, setengah menangis dan setengah tertawa. Kemudian menarik wajahnya dari bahu Magisna. "Kenapa cuma lu yang nyadar kalo gua ada di sini?" Jingga bertanya pada Magisna dengan raut wajah muram.
"Cuma gua yang bisa liat lu," kata Magisna terus terang.
Jingga tergagap menatap Magisna.
"Tapi jangan khawatir," Magisna menambahkan cepat-cepat. "Lu belum mati. Cuma koma. Lu lagi dirawat di rumah sakit."
"Lu gak lagi nge-prank kan, Eka?" Jingga menaikkan sebelah alisnya, menatap Magisna dengan ekspresi curiga.
Magisna menggeleng dan mendesah pendek. "Gua serius," katanya sungguh-sungguh. "Jadi tolong kurangi interaksi setelah kita keluar dari sini. Gua gak mau orang-orang ngira gua gila karena ngomong sendirian."
Jingga mengerjap dan memicingkan matanya. "Ternyata lu serius," desisnya masih terlihat tak yakin. Kemudian menghambur keluar dengan langkah-langkah lebar.
Magisna mengikutinya dengan ekspresi panik. Apa yang akan dia lakukan?
Jingga menghentikan langkahnya di depan toilet seraya menoleh ke sana kemari.
"Lu mau ngapain?" bisik Magisna.
"Liat aja nanti," jawab Jingga tanpa beban. Lalu bergegas menuju kelas mereka.
Magisna mengekorinya dengan penasaran.
Begitu sampai di depan kelas mereka, Jingga menggebrak pintu dan mendorongnya sekuat tenaga.
Seisi kelas berubah gaduh, semua orang terperanjat dan menoleh ke arah pintu.
Magisna mengernyit ngeri di belakang Jingga.
"Eka!" teman-teman sekelasnya menggeram pada Magisna.
Jingga menyeringai dengan raut wajah penuh kemenangan.
Magisna membeliak sebal.
"Ternyata gua beneran gak keliatan," seru Jingga bersemangat. Jiwanya terpisah dari raganya, tapi dia bersikap seolah-olah hal itu merupakan sesuatu yang menyenangkan.
Dia menangis seperti bayi beberapa saat yang lalu, pikir Magisna muak.
__ADS_1