Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 52


__ADS_3

"Kau pernah mati suri, ya kan?"


Pertanyaan anak perempuan di belakangnya membuat Magisna tersedak air liurnya sendiri.


"Kau sebenarnya punya mata ketiga," gadis itu menambahkan. "Kau tidak menyadarinya?"


Magisna serentak terdiam. Tercenung seraya mengingat-ingat. "Sekolahan itu," ia menyadari. "Kemaren gua liat sekolahan lu bobrok. Tapi hari ini keliatan baru. Apa itu ada hubungannya sama…"


"Sekolahan itu masih baru!" Anak perempuan di boncengan Magisna menyela. "Dulu kami menumpang di SLT., SMU baru satu tahun memiliki gedung sendiri."


Magisna menelan ludah. "Jadi apa tepatnya yang gua liat kemaren?" Magisna bertanya setengah memekik.


"Kehancuran!" Anak perempuan itu menjawab singkat. Tiba-tiba saja ia bersikap misterius.


Magisna meliriknya sekilas. "Apa maksudnya kehancuran?"


"Sekolahan itu di ambang kehancuran."


"Itu sekolahan lu!" Magisna mengingatkan gadis itu.


"Aku tak punya kuasa untuk mencegahnya!" sergah gadis itu. "Sekolah itu sama bobroknya dengan rumah Van Til," gumamnya masam.


"Apa maksudnya sama bobroknya?" Magisna bertanya parau.


"Aku berbicara soal sistem!" Gadis itu menjawab nyaris berbisik. Mendadak begitu dramatis. "Rumah Van Til adalah simbol peradaban kolonial. Budaya penjajahan yang berevolusi menjadi parameter atas hukum adat, kemudian melahirkan kultus. Dan Gardu lonceng adalah salah satunya!"


Magisna tertegun dan menyimak.


"Gardu lonceng telah menjelma sebagai Mahkamah Prohibisi! Setiap orang menunggu keputusannya. Dan setiap keputusannya dipatuhi setiap orang. Tanpa terkecuali." Anak perempuan itu melanjutkan semakin dramatis. Terdengar seperti seseorang yang sedang membaca puisi.


Seketika bulu kuduk Magisna meremang.


"Sementara itu, sejarah hanya mencatat kepingan narasi tanpa bukti. Lalu berkembang menjadi stigma. Legenda rumah Van Til adalah hikayat para penindas yang dianut para penduduk secara turun-temurun namun hukumnya tetap dipatuhi, dari generasi ke generasi. Rumah Van Til hanya salah satu dari sejarah yang dikultuskan. Sisa penjajahan yang menjadi sejarah yang dibumbui."


Magisna tetap bergeming. Tak mengerti arah pembicaraan gadis itu, tapi kata-katanya menohok telak sanubarinya.


"Gedung SMU kami memang masih baru, tapi sistem pendidikannya sudah bobrok," desis anak perempuan itu, terdengar seperti ancaman.


Magisna menelan ludah.


"Sekolahan itu di ambang kehancuran," ulang gadis itu muram.


Inikah "masalah besar" yang dimaksud Agustin?


Kedengarannya masalah ini tidak sesederhana yang dia pikirkan.


Sisa perjalanan itu mereka lalui dalam kebisuan. Kebisuan yang janggal, pikir Magisna. Ia melirik ke belakang sekali lagi, dan mendapati anak perempuan di boncengannya hanya tertunduk. Seperti seorang ibu yang memiliki banyak beban batin.


Masih muda sudah terlalu banyak berpikir, batin Magisna prihatin.


Memasuki pekarangan Van Til Hogeschool, Magisna kembali membuka pembicaraan.

__ADS_1


Sekolahan itu tidak punya pintu gerbang, tidak punya pagar pembatas, pekarangan sekolah itu merupakan jalan umum menuju pemukiman warga perkebunan, bersisian dengan jalan raya.


Jadi Magisna mulai bertanya, "Rumah lu masih jauh nggak? Gua udah mo sampe tujuan!"


"Rumahku tak jauh lagi," jawab gadis itu. "Hanya terhalang dua rumah dari sekolah."


"Rumah lu di sebelah rumah Ais?"


"Ya!"


Kenapa begitu kebetulan? pikir Magisna. Tiba-tiba saja bulu kuduknya meremang lagi. Ia mengerem sepeda motornya secara mendadak, tepat di pekarangan rumah Ais.


Anak perempuan itu melangkah turun dari boncengan dan menyeringai. "Terima kasih," katanya dengan ekspresi kekanak-kanakan. "Maaf sudah merepotkan."


"Gak masalah," jawab Magisna.


"Karena kau begitu baik, aku akan memberitahumu sebuah rahasia!" Gadis itu membungkuk dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya. Lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Magisna. "Sebenarnya… aku sudah mati dua kali!" bisiknya sembari terkikik.


Magisna serentak membeku dengan wajah pucat, memandangi gadis itu dengan mata dan mulut membulat.


Gadis itu menyeringai sekali lagi, kemudian berjalan menjauh dan memunggunginya, lalu menghilang di balik pintu sebuah rumah berdinding anyaman bambu dengan atap rumbia.


"Magisna!" Teriakan di belakangnya menyentakkan Magisna.


Magisna terperanjat dan menoleh ke belakang.


Ais dan Agustin menghampirinya dengan buru-buru.


Magisna masih membeku, menelan ludah dengan susah payah. Lalu menunjuk ke arah rumah bambu beratap rumbia di depannya tadi seraya tergagap-gagap.


Ais dan Agustin bertukar pandang dengan alis bertautan.


Magisna menoleh ke arah rumah itu dan memekik tertahan.


Tidak ada rumah!


Tidak ada apa-apa di sana kecuali semak ilalang.


"Mustahil!" jeritnya agak tercekik. "Tadi gua liat ada rumah di situ!"


Dan anak itu…


Ke mana perginya anak itu?


Magisna membatin ngeri.


Wajah Ais dan Agustin seketika menegang.


Magisna masih membeku. Sekilas ia mendengar suara anak perempuan terkikik. Sama persis seperti waktu di Doolhof.


Tidak!

__ADS_1


Magisna membekap kedua telinganya dengan telapak tangan dan menjerit sejadi-jadinya. Aku benar-benar tak tahan lagi, ratapnya dalam hati.


Ais dan Agustin serentak menghambur ke arahnya dan menariknya turun.


Agustin menggandengnya ke dalam rumah Ais, sementara Ais mengamankan sepeda motornya.


Magisna masih menjerit dengan emosi yang tidak stabil, menangis histeris setengah tak sadar.


Ayah Ais menghambur keluar menghampiri mereka. "Ada apa ini?" hardiknya.


"Sepertinya dia melihat… Su Si!" Agustin menjawab ragu.


Ayah Ais memicingkan matanya, lalu menghambur ke pekarangan samping dan memeriksanya. "Panggil Tibi!" perintahnya pada Ais yang sedang memarkir sepeda motor Magisna.


Magisna masih menangis, semakin histeris dan tidak stabil.


"Tenang, Magisna! Tenang!" Agustin mengguncang bahu gadis itu, berusaha menenangkannya. Tapi tangisan Magisna semakin menjadi.


Seisi rumah tertumpah keluar menghampiri mereka dan mengerumuninya. Bahkan para tetangga.


Salah satu kakak perempuan Ais berlari ke dapur dan kembali dengan membawa segelas air. "Beri dia minum," katanya cepat-cepat.


Kakak perempuan Ais yang lebih tua yang tidak bisa bicara, mengatakan sesuatu dalam bahasa isyarat.


Agustin memperhatikannya seraya mengangguk-angguk dan memaksakan senyum. Agustin mengerti apa yang coba disampaikannya, tapi tak ingin membicarakannya.


Dia membicarakan Suzy, tetangga mereka, sahabat dekat Ais dan Agustin yang sudah meninggal.


Arwah gadis itulah yang diantar pulang oleh Magisna. Begitu juga dengan arwah gadis kecil yang ditemuinya di Doolhof. Dua sosok hantu gentayangan itu merupakan arwah gadis yang sama. Suzy Yan.


Suzy Yan sudah melewati dua kali kematian, dan pada kehidupan ketiganya ia berevolusi menjadi makhluk spiritual penjaga tanah perkebunan yang kemudian dikenal sebagai Nyi Ageng.


Gadis itu memiliki tiga sosok spiritual yang berlainan sifat.


Yang pertama, anak kecil menyedihkan yang berpura-pura bahagia yang dikenal sebagai hantu Su Si atau si Sulung Sial. Sifatnya usil dan suka cekikikan. Sebagian orang menjulukinya si Anak Teror.


Yang kedua, sosok anak perempuan berambut pendek dengan seragam sekolah, SMP atau SMU. Sifatnya suka berteman tapi emosinya tidak stabil. Sosok ini dikenal dengan hantu Suzy seperti nama aslinya.


Dan yang terakhir, sosok paling disegani yang disebut Nyi Ageng. Sifatnya seperti dewi yang diagungkan sebagaimana layaknya dewa-dewi dalam mitologi. Dipercaya sebagai manusia setengah dewa sekaligus siluman macan kumbang.


Tidak ada yang tahu apakah kehidupan ketiganya berujung maut atau berakhir moksa.


.


.


.


Note: Moksa adalah suatu konsep dalam agama Hindu dan Buddha yang berarti kelepasan atau kebebasan dari ikatan duniawi dan lepas juga dari putaran reinkarnasi atau punarbawa kehidupan.


Lebih lengkap tentang Suzy, baca "Serial the Van Til House: LONCENG KE-13"

__ADS_1


__ADS_2