
Aku harus tanya Ais dan Agustin, pikir Magisna. Jati dan teman-temannya pasti sedang berusaha menggodaku.
Magisna menoleh pada Ais dan Agustin, melayangkan isyarat memanggil dengan tatapanya.
Ais dan Agustin menghampiri mereka, sementara Hendra sudah duduk di deretan bangku paling ujung di sudut ruangan.
Magisna meliriknya sekilas melewati bahu Ais. Lalu buru-buru mengalihkan perhatian pada Ais dan Agustin. "Denger," Magisna menarik lengan keduanya. "Gua minta lu berdua jujur," katanya serius. "Kemaren mereka semua rambutnya gondrong apa nggak?"
Ais dan Agustin serentak melengak dan bertukar pandang. Pertanyaan aneh, pikir keduanya. Lalu mengedarkan pandang ke arah Jati dan teman-temannya.
Jati dan teman-temannya mengangkat bahu nyaris bersamaan, dengan ekspresi wajah yang seolah mengatakan, "Jangan tanya sakit apa!"
"Cepetan Jawab!" Magisna menggeram tak sabar seraya mengguncang lengan Ais.
Ais spontan menggeleng.
"Apa tepatnya yang sudah kau lihat?" Agustin menatap Magisna dengan ekspresi curiga. Tiba-tiba ingat pada Suzy Yan—punya mata ketiga namun tak pernah berfungsi baik.
Magisna menggeleng dan menelan ludah dengan susah payah. "Gua gak tau," katanya sedikit tercekik. "Tapi—"
Jati dan teman-temannya bertukar pandang dengan raut wajah prihatin.
"Waktu itu gua liat mereka semua berambut panjang," bisik Magisna pada Agustin.
"Ya, rambut mereka memang lumayan panjang untuk ukuran anak sekolah," Agustin balas berbisik.
"Bukan itu maksud gua!" Magisna mendesis tajam. "Maksud gua panjang… sampe sepinggang!"
Agustin langsung terdiam.
Seorang pria berambut sepinggang tahu-tahu menyeruak ke dalam ruangan, membelah kerumunan mereka di dekat pintu.
Magisna terkesiap dengan mata dan mulut membulat.
Pria itu mengenakan setelan jas resmi, lengkap dengan dasi dan menenteng tas dokumen berbahan kulit.
Jati menyentuh bahu Magisna.
Magisna terperanjat padahal sentuhan Jati sudah sangat hati-hati.
"Lu kenapa?" Jati bertanya setengah terkekeh. "Baru liat pengacara gondrong?"
Pengacara itu kakak Juna Lubis. Namanya Jordan Lubis. Pengacara pribadi, dan teman baik Gabrielle.
"Hah?" Magisna terperangah, dan seketika ia merasa t o l o l.
Pengacara?
Uh-oh! rutuknya kepada Penulis. Bahkan pengacara…?!
Dasar pecinta gila cowok gondrong!
.
.
🙋 Cowok gondrong, mana suaranya?
.
.
Tak lama kemudian, sekelompok pria bertoga beriringan memasuki ruangan.
Miss Pinkan mengambil tempat duduk di dekat Hendra.
Hendra masih mengenakan hoodie dan kacamatanya. Tapi kelihatannya Miss Pinkan tidak merasa terganggu dengan pemandangan yang seharusnya terasa tak asing baginya, mengingat ia pernah melihat sekelompok orang berpenampilan serupa melakukan hal tak wajar.
Bagaimanapun juga hari itu Hendra bersama Magisna saat Miss Pinkan melakukan aksi yang menurutnya misi penyelamatan. Miss Pinkan takkan menaruh curiga pada Hendra.
Tapi hal itu justru membuat Magisna berpikir ulang untuk berbicara dengan Miss Pinkan.
__ADS_1
Aksi penyelamatan yang dilakukannya terkesan terlalu memaksa, pikir Magisna. Dia bahkan sudah menyiapkan senjata, kenangnya masam.
Apakah cukup tepat kalau aku bicara padanya?
Magisna menggelengkan kepalanya, mencoba mengenyahkan kelebat gambar tulisan yang terdapat di Doolhof dalam kepalanya.
PINKAN MILIAR HARUS BERTANGGUNG JAWAB!
Magisna nyaris terhuyung ketika seseorang mengguncang bahunya.
Putra Juanda!
Cowok itu membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Magisna, dan menatap ke dalam matanya. "Lu baik-baik aja, kan?"
"A---a—ah, ya!" Magisna terbata-bata dan mengerjap menatap wajah cowok itu setengah tersihir. Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar melihat wajah cowok itu. Malam itu dia tidak melihatnya. Ternyata Putra Juanda jauh lebih tampan dibanding Jati dan Agustin, batinnya takjub.
Garis wajah, warna kulit dan postur tubuhnya di atas standar Asia. Tentu saja. Cowok itu berdarah campuran Indo-Portugis. Tapi lebih dominan Portugis.
Ais dan Agustin mencubit Magisna di kiri-kanannya, mengisyaratkan untuk secepatnya mengambil tempat duduk.
Sidang itu sudah mau dimulai!
Magisna kehilangan konsentrasinya selama sidang berlangsung. Terusik oleh sedikitnya empat pria tampan di kiri-kanannya.
Penulis Keparat ini sepertinya sedang berusaha menjadikanku Jomblo Akut!
Setiap kali aku mulai dekat dengan satu pria tampan, pria tampan lainnya baru ditampilkan.
Sidang itu sebetulnya berjalan sedikit kisruh. Terjadi ketegangan antara Gabrielle dengan Miss Pinkan.
Tapi Magisna bahkan tak ingat kesaksiannya sendiri. Dia juga tak ingat kalau ini cerita horor dan bukan romance. Tapi dia berakting seolah-olah ini cerita romance.
Satu demi satu para remaja itu dipanggil untuk bersaksi.
Tak satu pun diingat Magisna!
Tahu-tahu sang hakim sudah mengetuk palu dan menyatakan, "Gabrielle tidak bersalah!"
Magisna terkesiap. Itu pasti hanya perasaanku!
Semua orang sudah beranjak dari tempatnya masing-masing dan bergegas keluar ruangan.
Magisna masih tergagap-gagap. "U---udahan nih?" tanyanya entah kepada siapa. Ia memandangi semua remaja berseragam sekolah di sekitarnya seperti sedang berusaha mencari tersangka yang sudah membangunkannya.
Ais dan Agustin balas menatapnya tak kalah bingung. Mereka berhenti di gang di antara deretan bangku, bersama Jati dan teman-temannya.
"Kok perasaan cepet amat?" Magisna menggumam sembari menoleh ke sana kemari.
"Whoa—" Ais serentak memelotot pada Magisna dengan gaya khas kekanak-kanakannya. "Kau tak cocok jadi wakil rakyat!"
Agustin terkekeh menanggapinya. Jati dan teman-temannya hanya menyeringai.
Maksud Ais, "Kau punya kebiasaan tidur waktu sidang."
Seisi ruangan mulai terkekeh memahami maksudnya.
Magisna mulai tersadar dari kebingungannya. Ia merenggut tas ranselnya, menyampirkannya pada bahu dan beranjak dari tempatnya, menyelinap di antara bangku-bangku, melangkah keluar dan bergabung dengan yang lain.
"Kau tak tidur ya semalam?" Ais bertanya setengah menuduh.
Magisna mengedikkan bahunya. "Cuma sebentar," katanya. "Gua gak inget hari ini ada panggilan sidang!"
"Waktu di pondok itu, lu juga gak tidur ya?" Jati ikut-ikutan menginterogasi.
Magisna melengak ke arah Jati.
"Lu galfok juga waktu itu!" Jati terkekeh menggodanya.
Semua orang mulai tertawa.
Magisna mengulum senyumnya, antara ingin marah dan merasa malu. Bisa ia rasakan wajahnya bersemu merah.
__ADS_1
Putra Juanda tidak tertawa. Cowok itu menatap Magisna dengan alis bertautan. Seperti sedang berpikir keras.
Lalu ketika mereka berjalan keluar dari ruang sidang, cowok itu merenggut bahu Magisna dan menahannya.
Magisna berbalik dan menatapnya dengan mata terpicing.
"Soal tadi…" cowok itu tampak ragu.
Magisna mengerutkan dahinya.
"Soal rambut… gondrong—"
Magisna mendesah pendek dan memutar-mutar bola matanya. "Sori," katanya. "Gua tau ini kedengeran konyol, tapi—"
"Nggak!" sergah Putra Juanda cepat-cepat. "Gua gak anggap itu konyol. Gua cuma penasaran," katanya. "Gua—"
"Wanda!"
Teriakan Denise menyentakkan mereka.
Itu pertama kalinya Magisna mendengar suara Denise sejak pertemuan mereka. Kukira dia tidak bicara dengan makhluk lain selain pacarnya, pikir Magisna sedikit sinis.
Putra Juanda yang akrab disapa Wanda itu mengangkat sebelah tangannya mengisyaratkan teman-temannya supaya mereka menunggu.
Ais dan Agustin menoleh ke arah mereka dan ikut berhenti.
Jati membeliak sebal sembari melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian menyandarkan sebelah bahunya pada pilar dengan tampang muak.
Wanda mengalihkan perhatiannya kembali pada Magisna. "Lu pernah denger istilah deja visible?"
Magisna menggeleng.
"Dejavu?"
Magisna mengangguk cepat-cepat.
"Nah, deja visible itu kebalikan dari dejavu."
"Maksudnya?" Magisna mengerutkan keningnya lagi.
"Kalo dejavu ngerasa kek pernah liat, deja visible ngeliat yang bakal diliat," jelas Wanda.
"Maksud lu, gua bisa ngeliat masa depan?"
Wanda mengangkat bahunya.
Magisna tersenyum masam. "Lu gak denger tadi Jati bilang apa? Gua galfok!"
Giliran Wanda sekarang yang tersenyum masam.
Seketika Magisna merasa bersalah. Ia mendesah pendek dan tertunduk. "Sori," katanya nyaris berbisik. "Gua cuma gak yakin..."
Wanda tiba-tiba membungkuk dan mendekatkan mulutnya ke telinga Magisna. "Gua sama anak-anak sebenernya lagi taroan," bisiknya.
Magisna menautkan alisnya.
"Gua cuma mau tanya, siapa yang rambutnya paling panjang di antara kita bertiga?" Wanda berbisik lagi.
Magisna mengerjap dan mengerling ke belakang, melirik Jati melalui sudut matanya.
Wanda mengikuti arah pandangnya dan menyeringai sembari menggigit bibir bawahnya. Lalu menepuk bahu Magisna. "Thanks!" desisnya semringah.
Sekarang aku mulai mengerti apa itu cowok 3G, kata Magisna dalam hati.
Gondrong, Ganteng, Gak ada otaknya!
.
.
.
__ADS_1
Note: Cowok 3G adalah karakter khas MC pria ciptaan Penulis Keparat untuk menggambarkan cowok gondrong kriterianya. Dialog gombal khas cowok 3G saat memperkenalkan dirinya: "Panggil saja aku Sayang!" Sudah banyak dijiplak penulis lain.