
Seiring berakhirnya kasus Gabrielle, berakhir pula harapan Magisna untuk bertemu lagi dengan Jati dan teman-temannya. Kecuali jika kegiatan liburan di pondok berburu Gabrielle masih menjadi rutinitas mereka pada akhir pekan berikutnya.
Mereka semua tinggal di kota kecil bernama Rangkasbitung, kota sebelah yang sebetulnya tidak terlalu jauh dari desa perkebunan, hanya terpaut jarak satu jam perjalanan dengan mobil. Lagi pula kota itu masih satu kabupaten dengan desa perkebunan.
Tapi mengingat kisah ini lebih mengutamakan penyiksaan terhadap tokoh utamanya, Magisna tak yakin Penulis Keparat mau berbaik hati memberinya kesempatan untuk menyesap sedikit saja cerita manis seperti kisah cinta Romeo dan Juliet.
Semuanya bergantung pada mood Penulis Keparat, pikir Magisna getir.
Hei—apa tidak ada nomor ponsel yang dapat dihubungi atau kontak media sosial lainnya?
Tentu saja ada!
Tapi di desa perkebunan, sebagian besar penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan di mana sebuah ponsel masih menjadi barang mewah yang hanya dimiliki masyarakat kelas menengah ke atas, dan anak-anak sekolah di tempat ini tidak ada yang membawa ponsel.
Jadi orang tua Magisna tidak mengizinkan Magisna menggunakan ponsel dan memilikinya.
Untuk segala sesuatu yang membutuhkan akses jaringan internet, semua orang di tempat ini mengandalkan jasa warung internet yang hanya dikunjungi oleh orang-orang tertentu, itu pun tak banyak. Hanya ada dua atau tiga warung internet dengan jarak yang relatif berjauhan.
Lupakan soal WiFi!
Di tempat ini WiFi saja hanya dipasang di kantor-kantor aparat.
Hal itu dilakukan Penulis Keparat untuk mempermudah proses penyiksaan terhadap tokohnya.
Bukankah Penulis Keparat ini begitu a n j i m?
Tak heran dia dijuluki Penulis Keparat!
Aku mulai merindukan kota asalku, batin Magisna. Tempat di mana segala kemudahan tersaji hanya dengan satu ketukan jari di layar perangkat pintar.
"Apa kau tak punya teman manusia?"
Magisna tersentak dan menoleh ke belakang.
Kiddo Callaghan, anak laki-laki berwajah oriental yang dirasuki hantu Senja, tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya dengan kedua tangan terselip di saku celananya.
Magisna mendesah pendek dan melangkah turun dari sepeda motornya. Ia baru saja tiba di parkiran sekolah dan mematikan mesin ketika cowok itu menghampirinya.
__ADS_1
"Setelah kemarin baumu seperti tikus got dan ular sawah, sekarang baumu seperti kucing dapur," cerocos Kiddo sembari memperhatikan Magisna dengan mata terpicing.
Magisna menurunkan tas dari punggungnya melepaskan sweater dan melipatnya, kemudian menjejalkan sweater itu ke dalam box di bawah jok sepeda motornya. "Lu masih bisa liat hantu setelah merasuki anak itu?" tanya Magisna seraya menekan jok dan menguncinya.
"Hanya mencium aroma," jawab Senja enteng. "Anak ini tidak punya bakat untuk melihat hal-hal seperti itu! Kenapa kau tak pakai seragam sekolah?"
"Gua abis dari pengadilan tadi langsung ke sini, tapi gua bawa seragam kok," jelas Magisna seraya mengangkat tas ranselnya dan mengacungkannya pada Kiddo. "Apa semua orang yang dirasuki bisa nyium bau hantu?" tanyanya kemudian.
"Lebih tepatnya semua hantu bisa mencium aroma hantu lainnya meskipun mereka sedang merasuki seseorang," jelas Senja, kemudian mengerutkan keningnya. "Untuk apa kau pergi ke pengadilan?"
"Gua diminta jadi saksi untuk kasus Gabrielle."
Seketika Senja membeliak sebal. "Ini sudah kedua kalinya Gabe berurusan dengan pengadilan akibat ulah hantu," gerutunya.
Giliran Magisna sekarang yang mengerutkan keningnya.
"Apa Gabe akhirnya dibebaskan?" tanya Senja.
"Ya," jawab Magisna singkat. Tapi kedua alisnya masih bertautan.
"Baguslah," kata Senja sembari mendesah. "Memang tidak seharusnya Gabe mendapat hukuman. Gabe tidak bersalah. Begitu pun sepuluh tahun yang lalu."
"Sepuluh tahun yang lalu, murid-murid sekolah kejuruan angkatan pertama menjalani hukuman di ruang bawah tanah," Senja mulai bercerita. "Tapi entah bagaimana tiba-tiba tempat itu diserbu binatang buas setelah gempa dahsyat yang merubuhkan segunung longsoran besar. Ada lubang besar tercipta akibat gempa dan sekawanan macan kumbang menyerbu masuk melalui lubang itu dan memangsa semua orang. Beberapa anak tewas dan hilang. Sebagian tertimbun longsoran besar, sebagian dimangsa binatang buas. Gabe selamat, tapi hal itu justru membuatnya menjadi tersangka pembunuhan."
Magisna terdiam, dia sudah tahu sebagian cerita itu. Tapi dia baru tahu cerita gempa dan longsor.
Senja mendadak tersenyum masam. "Tidak seorang pun percaya pada Gabe meski sudah jelas tidak ada bukti bahwa ia telah melakukan pembunuhan."
Magisna mendesah berat dan mengembuskannya perlahan. Dia sudah tahu bagian ini, dia ingin tahu bagian lainnya. "Apa waktu itu gak ada evakuasi?"
"Tentu saja ada," jawab Senja. "Tapi anak-anak itu tidak pernah ditemukan. Itulah sebabnya Gabe dibebaskan. Tidak ada korban, tidak ada bukti pembunuhan."
Magisna mengerutkan dahinya lagi. "Tadi lu bilang beberapa anak tewas—"
"Kubilang tewas dan hilang," jelas Senja datar.
"Tewas dan hilang?" Magisna tak mengerti.
__ADS_1
"Beberapa anak ditemukan tewas tertimbun longsoran pasir."
Magisna seketika bergidik membayangkan longsoran pasir yang nyaris menguburnya sewaktu di Doolhof.
"Selain Gabe, ada satu anak laki-laki yang ditemukan masih hidup."
Pak Isa, kata Magisna dalam hati. Tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Kesaksian anak itu tidak sesuai dengan kesaksian Gabe. Anak laki-laki itu tidak mengakui adanya serangan binatang buas maupun gempa. Dia bilang ada asap beracun yang menyebabkan semua orang pingsan dan seorang perempuan memukul kepalanya dari belakang karena efek racun dari asap itu berpengaruh lambat pada dirinya. Kesaksian anak itu kemudian diperkuat oleh kesaksian penduduk setempat yang tidak mengakui adanya gempa. Tapi hasil evakuasi membuktikan bahwa gempa lokal pernah terjadi karena adanya longsoran besar dan beberapa anak tewas tertimbun. Hanya tidak ada bukti penyerangan binatang buas." Senja berhenti sesaat dan mengembuskan napas.
Magisna masih menunggu.
"Penyidik memperkirakan anak laki-laki itu berada di tempat terpisah ketika longsor terjadi sementara Gabe berada di tempat kejadian. Longsor menyebabkan ruang bawah tanah terasa bergetar dan menyebabkan debu menghambur ke mana-mana. Gabe mengira bahwa itu gempa sementara anak laki-laki itu mengira kepulan debu akibat longsoran tanah sebagai asap beracun."
Magisna menggeleng sekilas tanpa kentara. Ia bisa memahami penjelasan Senja, tapi masih belum mengerti situasinya. Kenyataannya dia sendiri menemukan tiga belas kerangka manusia terkurung dalam ruang sempit dengan dinding baru yang dibuat seseorang untuk mengurung mereka.
Apakah dinding itu dibuat setelah evakuasi?
Siapa yang membuatnya?
Gabe?
Miss Pinkan?
Atau Pak Isa?
Dan…
Siapa yang membuat tulisan itu?
PINKAN MILIAR HARUS BERTANGGUNG JAWAB!!!
Seseorang kembali ke Doolhof setelah evakuasi! Magisna menyimpulkan. Bisa jadi jauh hari setelah evakuasi. Atau bahkan setelah semua orang melupakannya.
"Apa lu pernah ke Doolhof setelah kasus itu?" Magisna akhirnya bertanya.
Senja mengerjap dan menatap ke dalam mata Magisna. "Ya," jawabnya setengah berbisik. "Aku pernah menyelinap untuk membuktikan cerita Gabe soal serangan macam kumbang itu. Aku menemukan mereka dan membunuhnya. Dua koleksi cantikku, kau masih ingat?"
__ADS_1
"Well---yeah," jawab Magisna seraya menelan ludah. Entah kenapa sampai saat ini dia merasa tak nyaman membayangkan sepasang kepala macan kumbang itu terpajang di atas perapian di pondok berburu.
Rasanya seperti melihat pusaka leluhur di tempat yang tidak seharusnya.