Serial The Van Til House: STRAF SABBAT

Serial The Van Til House: STRAF SABBAT
Chapiter 72


__ADS_3

"Berdasarkan hasil penyelidikan forensik diketahui bahwa mereka adalah teman-teman Gabe yang hilang!" Senja masih bercerita.


"Terus?"


"Aku kembali ke sini dan memburu yang lainnya," lanjut Senja. "Tapi tidak memotong kepala mereka. Aku mengumpulkannya dan menunggu. Keesokan harinya, aku kembali untuk melihat apakah mereka juga berubah. Dan… benar saja. Mereka juga berubah jadi manusia setelah mereka mati. Tiga belas orang mati. Dan aku harus bertanggung jawab!"


"Jadi lu nembok gang itu supaya mereka gak pernah ditemukan?" cecar Magisna.


"Siapa yang akan percaya mereka semua sudah mati dan berubah jadi macan kumbang?" Senja meninggikan suaranya.


"Tapi lu gak harus jadiin Miss Pinkan sebagai kambing hitam!" sergah Magisna.


"Menjadikan Miss Pinkan sebagai kambing hitam?" Senja menaikkan alisnya, mengulangi pertanyaan Magisna.


"Lu yang nulis di dinding itu, kan?" Magisna bertanya setengah menuntut.


"Tidak!" bantah Senja. "Tulisan di dinding itu sudah ada sebelum aku menutup gangnya!"


"Jadi siapa yang nulis?" Magisna mengerjap dan tergagap.


"Aku!" Seseorang tiba-tiba menyela mereka dari kegelapan.


Magisna tersentak dan menoleh ke arah Kiddo dan Agustin.


Kedua cowok itu juga menoleh ke belakang.


Seseorang melempar sesuatu ke lantai ke tengah-tengah mereka.


Agustin mengarahkan senternya ke lantai.


Dika tersungkur dan tak bergerak sama sekali.


Magisna memekik tertahan seraya membekap mulutnya dengan telapak tangan.


Apa dia mati? pikir Magisna panik. Kemudian menghambur ke arah Dika.


Suara tumit sepatu kets berdeham pelan mengetuk lantai, mendekat pada Magisna.


Agustin mengalihkan cahaya senternya dari tubuh Dika dan mengarahkannya pada seseorang yang baru datang itu.


Dini! Magisna menyadari. Ia beringsut mundur menjauhi tubuh Dika seraya mendongak mengawasi Dini dengan ketakutan. Ia tahu Dini masih dirasuki. Tapi siapa yang merasuki orang-orang itu masih menjadi misteri.


Senja melangkah keluar dari gang dan beradu pandang dengan Dini. "Leo," katanya. "Maksudku siluman leopard!" Ia mengoreksi perkataannya sembari terkekeh.


"Dan kau elang kutuk!" sergah Dini dengan sikap mencemooh.


"Jadi lu yang nulis di dinding itu?" Magisna memberanikan diri untuk bertanya.


"Semua orang menulis di dinding," jawab Dini seraya mengalihkan perhatiannya dari Senja dan beralih pada Magisna. "Aku menulis bagian terakhir!"


PINKAN MILIAR HARUS BERTANGGUNG JAWAB!


"Pake apa?" tanya Magisna. Tulisan terakhir tidak menggunakan cat, pikirnya.

__ADS_1


"Cakarku!" jawab Dini sembari menyeringai.


Magisna langsung terdiam.


Kiddo dan Agustin mengawasi gadis itu dengan sikap waspada.


Dini maju selangkah mendekati tubuh Dika.


Magisna beringsut mundur menjauhi tubuh Dika.


Dini membungkuk mencondongkan tubuhnya ke arah Magisna, "Minggir dari jalanku atau aku akan menginjak ekormu lagi," desisnya dengan seringai mencemooh.


Magisna menelan ludah. Menatap Dini dengan alis bertautan. Apa maksudnya? ia bertanya-tanya dalam hati. Cerita Senja seketika melintas dalam benaknya.


Galang!


Siluman ular!


Apa hubungannya denganku? pikir Magisna frustrasi.


Tiba-tiba Dini menjulurkan tangannya dan mencengkeram rahang Magisna.


Kiddo dan Agustin serentak menerjang ke arah mereka dan menyergap bahu Dini, kemudian menariknya menjauh dari Magisna.


Magisna meraup tubuh Dika dan menariknya dengan susah payah. Lututnya terasa limbung, semetara tubuhnya mulai gemetaran.


Senja tertunduk mengawasi gadis itu dengan raut wajah keruh. Tak pasti apakah hantu itu merasa kasian atau teringat pada sesuatu yang membuat suasana hatinya mendadak muram. Hantu itu tiba-tiba diam.


Sementara itu Dini sudah berkelahi dengan Kiddo dan Agustin.


Dini menekankan tubuh Agustin ke dinding.


Kiddo mendaratkan pukulan di tengkuk Dini.


Cengkeraman tangan gadis itu melemah di leher Agustin. Agustin memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri.


Bersamaan dengan itu, suara-suara berdebuk ribut muncul dari ujung koridor.


Cahaya terang berpendar ke arah mereka.


"Di sini kalian rupanya!"


Itu suara Pak Isa.


Jingga menyeruak mendahului kepala sekolah itu dan menghambur ke arah Magisna. "Lu gak pa-pa?" tanyanya khawatir.


Magisna menggeleng cepat-cepat. "Bantu gua bawa Dika ke mulut gang," bisiknya.


Senja langsung menoleh dan memelototinya. Hantu itu mengayunkan sebelah tangannya dan seketika Jingga terpelanting.


Magisna memekik ngeri.


Pak Isa menghentikan langkahnya dan mengangkat lenteranya tinggi-tinggi. Dahinya berkerut-kerut kebingungan. Mengamati semua orang satu per satu.

__ADS_1


Dini berusaha menerjang kepala sekolah itu, tapi dengan cepat Kiddo dan Agustin berhasil menangkap pinggangnya dan menahannya.


Pak Isa melompat melewati mereka dan menghambur ke arah Magisna. Ia meletakkan lenteranya di lantai, kemudian membantu Magisna membopong tubuh Dika.


"Bawa ke gang itu," Magisna memberitahu Pak Isa.


Senja mencoba menyerang Pak Isa, tapi di luar dugaan, kepala sekolah itu menepiskan tangannya.


Senja dan Magisna terkesiap.


Pak Isa bisa melihat hantu? Magisna menyadari.


Sejurus kemudian, Senja dan Pak Isa sudah berkelahi.


Kiddo dan Agustin masih berkelahi dengan Dini.


"Bantu mereka, Eka!" Pak Isa berteriak pada Magisna seraya mengerling ke arah Kiddo dan Agustin.


Magisna tergagap-gagap.


"Kamu juga!" Perintah Pak Isa pada Jingga.


Jingga dan Magisna bertukar pandang.


Pak Isa mendesak Senja ke dinding dan menekankan sebelah lengannya di leher hantu itu. Sementara sebelah tangan lainnya merogoh bagian belakang ikat pinggangnya dan mengeluarkan sebilah pisau. Ia melemparkan pisau itu di depan Magisna. "Kamu melupakan ini," tandasnya.


Magisna terperangah dengan mata dan mulut membulat.


Jingga tampak kebingungan. Ia tak bisa melihatnya.


Magisna menyambar pisau itu dengan bersemangat kemudian menghambur ke arah Dini dan melompat seraya mengayunkan pisau itu pada Dini.


Tapi Dini menyadarinya. Ia menyentakkan kepalanya ke samping, kemudian mengayunkan kedua tangannya. Cengkeraman tangan Kiddo dan Agustin langsung terlepas. Lalu dengan cepat gadis itu menepis serangan Magisna.


Magisna terpelanting ke sisi gang. Bahunya membentur dinding dan pisau hantu itu terpental dari tangannya. Ia berusaha meraihnya lagi, tapi Dini menginjak lengannya lebih cepat. Magisna meringis kesakitan sembari menggeliat-geliut berusaha melepaskan diri.


Ais dan Papa Tibi kemudian muncul di kelokan dikawal dua hantu anak perempuan yang hanya bisa dilihat Magisna.


Su Si berjalan melompat-lompat di samping Papa Tibi, memegangi jemari pria paruh baya itu sembari cekikikan, sementara Suzy melongokkan kepalanya dari balik bahu Ais dengan ekspresi lugu seorang gadis yang penasaran.


Itu adalah pertama kalinya Magisna merasa begitu gembira melihat hantu seumur hidupnya.


Ais dan Papa Tibi menghentikan langkahnya di antara Kiddo dan Agustin.


Kedua hantu itu serentak ikut berhenti.


Su Si menelengkan kepalanya dan melongo menatap Magisna dengan ekspresi idiot kanak-kanak yang tak mengerti apa-apa.


Tapi Magisna tahu persis anak kecil itu tak sepolos kelihatannya.


Hantu kecil itu berjingkrak kegirangan sembari bertepuk tangan begitu menemukan pisaunya yang tergelak di lantai, kemudian menghambur ke arah Dini dan Magisna, lalu membungkuk memungut pisaunya.


Dini tersentak dan mengangkat kakinya dari tangan Magisna, kemudian beringsut menjauhi hantu kecil itu.

__ADS_1


Su Si kembali cekikikan sembari mendongak dan menyeringai pada Dini. Tak sampai sedetik, gadis kecil itu tahu-tahu sudah bertengger di pundak Dini, dan sebelum Dini menyadari apa yang terjadi, gadis kecil itu sudah menancapkan pisaunya di leher Dini.


__ADS_2