
"Selamat siang B" Bu Maya., pak Rendy,..!" sapa pak Ridho sambil menunduk hormat. aku hanya diam, mas Rendy lah menjawab sapaan nya.
"Mayaa,..." Arman bergumam lirih , terlihat olehku, ketidak percayaan di wajahnya. dia terdiam karena pak Ridho menghentikan nya dengan menyiku bagian perutnya.
"Maaf Bu Maya, pak Rendy..., dia ini Arman, anggota baru di bagian marketing, " pak Ridho memperkenalkan Arman pada kami. "dan Arman beliau berdua ini Bu Maya direktur di sini dan Pak Rendy direktur di kantor pusat.!" lanjut pak Ridho, sambil kembali menyenggol Arman dengan siku mungkin sebagai isyarat agar Arman memperkenalkan diri atau harus bersikap sopan pada kami, dan aku melihat jelas keterkejutan di wajah Arman.
mungkin dia tidak percsya dengan kata direktur yang di ucap pak Ridho. Dia memandangku pias, tapi berusaha menguasai diri. lalu kulihat dia mengulurkan tangannya,
"Perkenalkan nama saya Arman, " ucapnya sambil mengulurkan tangan. hanya mas Rendy yang menyambutnya, sedangkan aku enggan, lebih memilih tetap bergelayut pada tangan mas Rendy, seperti sejak saat hendak keluar dari ruanganku dan hanya menatap tangannya saja. mungkin di sadar aku tak ingin berjabatan dengannya , sehingga dia segera menurunkan tangannya
"Maaf pak Ridho, kami sedang terburu buru, ada pertemuan dengan mitra bisnis ! " ucapku memotong perkenalkan basa basi itu. "Yuk mas sudah di tunggu..!" aku menoleh oada mas Rendy dengan senyuman, yang di balas dengan senyuman juga. kami pun segera pergi dari sana , masih dengan aku yang bergelayut manja di tangannya
"Kau masih membenci nya ??" tanya mas Rendy ketika mobil yang membawa kami baru mulai melaju
"Tidak mas.. " jawabku . yah mas Rendy tahu betul siapa pria itu, siapa lagi kalo bukan pak Anwar si mulut ember itu yang selalu menjadi kan ku bahan ledekan yang menceritakannya
"Lalu kenapa kau tidak mau berjabatan dengannya tadi..?" ish mas Rendy sudah mulai jadi orang kepo saperti Pak Anwar, gerutu ku dalam hati
"Ya gak papa sih mas, cuma malas aja." jawabku. "Oh ya.. mas Rendy tahu dia bekerja di sana ??" tanyaku, karena seperti nya mas Rendy tidak kaget dengan kehadirannya tadi.
"Tahu.." jawabnya, "Baru seminggu" tambahnya " kenapa.. kamu mau aku pecat dia..?" kelakarnya, "Padahal kamu yang disana, malah gak tahu kalo ada dia kerja di situ juga , gimana sih ?"
"Yeee, ... ya mana aku tahu mas, kan aku disana cuma buat gantiin ibu sementara aja, dan lagi aku kan gak ngurusin karyawan, orang kata ibu aku cuma harus handel kerjaan selama ibu cuti liburan aja kok, jadi kan aku cuma fokus meriksa berkas, terus ngurusin soal laporan laporan , yang masuk dari para manager, dan mencocokkan dengan yang ada di komputer, dan data yang di tinggalkan ibu, !" jawabku , mas Rendy tertawa mendengarnya. entah bagian mana yang lucu
"Kamu yakin hanya menggantikan tugas ibu selama liburan ??, oh iya .. sudah berapa hari ibu cuti..?"
Aku mencoba mengingat ingat, "Emmm... berapa hari yaa... kalo gak salah hitunganku sih bukan baru betapa hari mas.. itu sudah..." aku menghitung dengan jariku.." sudah lima bulan mas...!!" Jawabku agak kaget juga dengan hitunganku, sudah selama itu ibu cuti liburan. dan mas Rendy tertawa lebih keras apa ini hal yang lucu??.
"Memangnya ada orang cuti kerja selama lebih dari satu bulan, terlebih alasan nya hanya untuk liburan ...?" tanya mas Rendy, masih sambil tertawa
__ADS_1
"Jadi maksudnya gimana mas..?" tanyaku masih bingung
"Kita akan bahas ini nanti setelah makan siang. itulah tujuanku menemui mu. " jawabnya. ada yang tak enak dalam pikiranku, entah itu apa
Mobil berhenti di pelataran restoran , aku dan mas Rendy turun dan membiarkan sopir saja yang mencari tempat parkir.
sampai didalam , Ternyata sudah ada bu Indah, menunggu di tempat yang sudah di reservasi oleh Erin.
"Maaf membuat anda menunggu..!" sapaku lebih dulu seraya mengulurkan tangan , yang di sampit juga oleh bu indah,
" tidak masalah bu kami juga baru saja sampai," jawab bu indah, mari silahkan duduk bu Maya dan pak Rendy..!"
yah .. tentu saja Bu Indah sudah mengenal pak mas Rendy, sebagai putra dari Bu Farida. karena bu Indah memang sudah bermitra dengan bu Farida sejak sebelum aku menggantikan tugas ibu Farida yang sedang cuti.
Tampak olehku wajah bu Indah yang tersipu malu ketika menatap mas Rendy, entah kenapa aku tak suka itu, tapi ya apa boleh buat, aku bisa apa memangnya.
Waktu tak terasa berlalu, setelah membahas pemesanan benang dan kain dengan Bu Indah, aku dan mas Rendy hendak kembali ke perusahaan
"Pak Mun, pulang dengan taksi gak papa ya , nanti saya pulang sendiri saja , !" perintah Mas Rendy seraya memberikan dua lembar sukarno~hatta
pada sopirnya
"Baik mas. .." jawab pak Mun menerima uang itu dan menyerah kan kunci mobil pada mas Rendy, lalu beranjak pergi dengan wajah berseri. kalo saja itu dulu pasti aku sudah nyolot , kok buat ongkos pulang aja di kasih uang dua ratus ribu, tapi Sekarang aku tak pernah lagi bertanya , karena aku sudah hafal, pasti jawabnya , "Tidak apa sedikit bersedekah. membuat orang bahagia itu berpahala .." begitu. jadi aku cukup diam saja, dan mengekor masuk ke mobil
"Kita mau ke mana mas..?" tanyaku, karena jalan yang kami lewati bukan menuju kembali ke kantor.
"Kita hirup udara segar sebentar, ada yang mau mas sampai kan sama kamu." jawabnya . aku kembali terdiam, entah kenapa pikiran tidak enak itu kembali mengganggu ku. hingga akhirnya kami sampai di sebuah danau buatan.
Mas Rendy menggandeng tanganku menuju sebuah bangku di bawah pohon rindang di tepi danau, tempat yang sejuk dan nyaman untuk ngobrol
__ADS_1
"Jadi sebenarnya ada apa mas..?" aku tak sabar menunggunya yang madih saja diam. hingga dia menoleh , kemudian memiring kan badannya menghadapku, mas Rendy menaikkan kaki kirinya, dengan menekuk lutut bersila di atas bangku, sedang kaki kanan masih menapak rumput hijau
"Maya .. apa Kamu madih juga berpikir ibu menitipkan perusahaan padamu, hanya demi cuti liburan. ??" mas Rendy memandangku lekat, hingga tatapan kami beradu . aku bingung harus menjawab apa , bukan kah memang seperti itu, perintah Ibu srbelum berangkat berlibur ke kampung
??
"Dengar Mayaa, ibu menyekolahkanmu selama dua tahun di sekolah khusus bisnis , bukan hanya agar kamu menjadi pemeran pengganti." ucapnya yang masih tak ku mengerti.
"Sekarang aku tanya lagi , apa kamu pernah dengar, srorang pengusaha yang mengambil cuti selama lebih dari satu bulan, apalagi hanya untuk liburan..??" aku menggeleng pelan. dan mulutku masih terbungkam.
"Inilah yang akan aku sampaikan, dengar baik baik , mayaa..!! ibu membangun Maytex ini untukmu..!!"
"Jedduuarr...!!" seolah ada petir di atas kepalaku , bukan hanya kaget, tapi juga shok, hingga tanpa sadar mulutku menganga lebar. "Maksudnya gimana mas ??" aku masih juga tidak paham
"Maya ... selama satu setengah tahun ibu mendirikan, membangun Maytex. Sekarang maju atau tidaknya, berkembang atau hancur, Maytex adalah tanggung jawabmu. ibu bukan cuti , tapi ibu sudah berniat untuk istirahat total dari dunia usaha. dan kamu, kamu bukan pengganti sementara, tapi kamu lah Sekarang pemilik MAYTEX."
"Duar... " lagi lagi telinga ku se olah tak percaya, demi apa aku menjadi seorang pemilik perusahaan Sekarang.. oh Tuhan... "memangnya ibu kenapa mas. ? kenapa harus berhenti dari perusahaan..? ibu kan masih muda, palingan umurnya baru enam puluh tahunan belum genap juga..?"
"Ibu yang ingin seperti itu, ibu bilang Sekarang tugas kita semua untuk melanjutkan mimpinya, menjadi kehidupan untuk orang lain." jawabnya
"Tapi kenapa harus aku mas, kan bisa mas Rendy, mas Anwar, atau mbak Meta, mbak Marisa mas Iqbal atau yang lain kan, kurasa mas Rendy yang paling berhak ..?" bantahku masih berusaha menolak
"Oh .. ayolah May...bahkan kita semua tahu , di antara kita semua tidak ada yang putra kandung ibu, dan kita semua sudah punya jatah masing masing.!"
"lalu kenapa bukan mas Anwar, dia kan yang paling tua..??" ya.. sekarang aku memanggil Anwar dengan sebutan mas, karena, menurut ibu, di antara kita tidak ada yang lebih tinggi atau rendah selain perbedaan usia
"Mas Anwar tidak mau, dia lebih nyaman di SUMBER REJEKI!" jawabnya. "Jadi Mayaa.. mulai Sekarang bangitlah.. jangan lagi suka semaumu . jangan khawatir, kami semua pasti membantumu.., jangan kecewa kan ibu kita..!!"
Oh ya Tuhan...
__ADS_1