
Marisa menyeka air mata yang menggantung di pelupuk nya , agar jangan sampai terjatuh . diambilnya nafas dalam lalu dikeluarkan lagi perlahan. dia harus bisa mengambil keputusan.
" Ren.. !" ucapnya pelan . membuat Rendy yang semula hanya fokus pada Agung menoleh padanya. "Aku sudah mengambil keputusan. !" lanjutnya. Rendy masih menatap nya , menunggu kelanjutan kalimat Marisa, tanpa ingin memotongnya.
"Aku sungguh berterima kasih atas segala apa yang pernah kau dan ibu berikan padaku. , tapi aku mohon , jangan terlalu ikut campur dengan masa depan ku. aku berhak menentukan sendiri tentang kelanjutan hidupku. jika perlu aku akan mengembalikan semuanya . "
Rendy terbelalak demi mendengar apa yang di ucapkan Marisa, tapi dengan itu dia bisa melihat kalau Marisa memang memiliki perasaan juga pada Agung. sementara Agung menggelengkan kepalanya mendengar kalimat itu . di raihnya tangan Marisa,
"Risa lihat aku..!" ucap Agung lembut karena Marisa masih menunduk kan kepala nya.
"Aku memang menyukaimu, mungkin semenjak pertama aku melihatmu, dan selama beberapa hari aku bekerja di tempat MU , membuat perasaan ingin memiliki itu hadir . dan itu bukan hal yang aku buat buat. akan tetapi meskipun begitu , aku tidak ingin memilikimu dengan cara menjauhkannya dari saudaramu. Aku akan memilikimu dengan restu dari keluargamu , dan aku pasti akan bisa mendapatkan restu itu. Apa kau begitu tidak mempercayai kemampuanku , hingga kau berpikir seperti tadi ?!" ucap Agung panjang lebar .
Marisa mendongak kan wajahnya , di tatapnya kedua mata Agung , ada ketulusan tersimpan di sana . Agung tersenyum.
"Kau bahkan seolah rela meninggalkan semua nya . apa itu artinya kau juga sudah mulai jatuh cinta padaku.. ?!" ledek Agung untuk mencairkan kebisuan Marisa. dan tak pelak pertanyaan itu membuat Marisa tersipu malu.
"Ish .. kamu ini apaan sih ?!" Marisa memukul lengan Agung pelan . membuat pria itu terkekeh , " tidak ada ya aku jatuh cinta padamu..!" Marisa berusaha menyembunyikan rona wajahnya
"Seperti nya tebakan ku benar . Sekarang maukah kau berjuang bersamaku, mari bersama sama kita dapatkan restu keluargamu.!" lanjut Agung lagi . Marisa hanya menunduk , tetapi dia menganggukkan kepalanya .
"Alhamdulillah...!" ucap Agung semakin membuat marisa tersipu.
~ sial... mereka malah menjadikan aku obat nyamuk.!~ " maki Rendy dalam hati. ingin sekali dia melemparkan bulatan tisu yang ada dalam genggaman nya itu ke arah Agung. agar berhenti menggombal.
"Heemm..!" Marisa hendak melepaskan tautan tangan nya karena mendengar deheman Rendy. tetapi Agung menahannya dan menggenggamnya semakin erat. lalu mengangguk kan kepalanya. lalu keduanya menghadap ke arah Rendy yang masih dengan santainya menyandarkan punggungnya.
"Sudah selesai romantis romantis an nya..?!" tanya Rendy, "Kalian itu benar-benar tidak punya sopan santun , ada orang tua duduk di sini , kalian malah pacaran di situ. !?" Agung dan Marisa saling pandang, bingung dengan kata kata Rendy.
__ADS_1
"Maaf kami pak Rendy, tetapi seperti kata di awal , saya akan tetap berjuang agar menjadi layak menjadi bagian dari keluarga Anda. dan saya menolak kartu yang Anda berikan jika harus meninggalkan Marisa.!"
"Kau berubah sekarang Ren.. kau sudah bukan lagi Rendy yang dulu.!" Rendy memutar bola matanya.
"Memangnya aku tadi ada bilang untuk kau meninggalkan Marisa ?! di bagian mana ,?! coba di ingat !!??" sela Rendy. keduanya kembali berpandangan. memang Rendy tidak menyebutkan seperti itu, tetapi kartu dengan saldo sebesar 200juta itu ??
" Apa maksudmu Ren.. ?! jelas jelas kau memberikan kartu itu pada Agung tadi. ?!" tanya Marisa yang masih mencoba menahan kegeraman nya.
"Tapi kan aku tidak bilang untuk itu..?!"
"Kau ini jarang bicara , tapi sekalinya bicara kau sangat menyebalkan . katakan saja to the point apa maksudmu. !" sentak Marisa
" Uang itu sebagai ganti biaya pendidikan Maya..!"
jeduar.... Marisa bingung , dan Agung tersentak mendengar nya. pada saat pihak sekolah menghubungi , Agung memang membiarkan mereka mengungkap semuanya , tetapi itu karena dia lupa jika dia pernah membiayai sekolah Maya.
"Apa maksudnya ini Gung ..? kau yang membiayai sekolah Maya..?!" tanya Marisa berharap itu tidak benar.
"Boleh aku tanya satu hal ? apa kau pernah menyukai Maya..?!" mungkin di masa lalu.? kalian hidup di daerah yang sama kan ?!"
"Kau sudah pernah menanyakan itu di pertemuan pertama ku dengan Maya di kota ini . dan aku sudah menjawab nya.!"
"Waktu itu memang , tapi mendengar ini , aku ...!"
" Seleraku bukan dengan anak kecil.. !" sahut Agung memotong ucapan Marisa. "Seleraku wanita dewasa dan anggun sepertimu. !" lanjutnya. yang kembali membuat Marisa terdiam sekaligus tersipu. tanpa mereka tau jika ada seseorang yang sedang duduk santai tadi merasa panas hatinya. dia memang juga selalu mengatakan kalau Maya anak kecil , tapi tentu saja dia tak rela jika ada orang yang mengatakan hal itu.
"Dan pak Rendy, maaf saya tidak bisa menerima apa yang Anda berikan, apa yang sudah saya berikan pada orang lain, saya tidak pernah mengambilnya kembali.!" tegas Agung
__ADS_1
"Itu adalah bentuk tanggung jawabku , karena Maya adalah calon istriku.!"
"tetap saja saya tidak bisa menerima nya. Anda bisa memberikan nya pada orang yang lebih membutuhkan. !" lagi lagi Agung menolak dengan tegas.
"Ya sudah kau ambil saja Risa.. gunakan untuk apapun terserah padamu. !" tatapan Rendy beralih pada Marisa.
"Serius ini buat aku ..?! " Marisa mengambil kartu itu, Rendy mengangguk " yeeeh .. hore aku kaya ...!" tentu saja Marisa menerimanya. bukan matre , uang segitu baginya juga bukan hal sulit untuk mendapatkan nya , tapi dia bisa memanfaatkan nya untuk hal yang berguna.
"Jadi kau sudah mantab untuk menerima Bowo..?!" tanya Rendy ingin memastikan.
"Apa salahnya , jika aku hidup bersama orang yang mencintai ku pasti hidupku akan bahagia.!" jawab Marisa realistis .
"jangan khawatir, aku tidak meminta MU menikah sekarang, kita akan menikah setelah kau pun yakin dengan perasaanmu.!" , ucap Agung sambil menggenggam tangan Marisa. membuat Marisa terharu dengan ketulusan Agung
"Bagaimana dengan perbedaan usia kalian ?!" Rendy memang jahil, sukanya ngelempar bom atom.
Marisa tertegun menatap Agung. dia teringat dengan usianya yang memang lebih tua dari Agung . walaupun itu bukan hal tabu , banyak juga pasangan menikah , yang usia wanitanya lebih fari si pria. Tetapi bagaimana dengan Agung, apa itu bukan masalah baginya ?
" Baginda Rasul juga menikahi Umi Hadijah yang berusia 40tahun , !" sahut Agung menatap tajam Rendy, sedang yang di tatap tetap sellow. Sambil mencebikkan bibirnya " Ini adalah rencana Tuhan , agar saat kita sama sama tua , aku masih punya tenaga untuk menggendongnmu.!" Agung memberikan ketenangan pada Marissa
Blush... Wajah Marissa berubah merah merona
(ah Agung hatiku seperti coklat di atas api . meleleh )
"Dan pak Rendy, Terimakasih telah memanggil kami hari ini . kalau tidak mungkin saya masih harus menunggu dalam waktu yang lama untuk bisa mengungkapkan isi hati saya. Dengan restu dari Anda ini sudah seperti menjadi jaminan bahwa Marisa tidak akan memilih yang lain !"
~cih , kau dan Maya itu kenapa selalu bicara soal jaminan~ batin Rendy. tetapi dia mengangguk , tersungging senyum di bibirnya, melihat Marisa akhirnya juga bahagia. sedari awal dia memang sudah menerima Bowo, karena Maya tak mungkin salah menilai tentang sahabat sekampung nya itu . di tambah dengan hasil penyelidikan dari Tom.
__ADS_1
"Dan satu lagi , saya mohon pada pak Rendy, dan juga kamu Risa, untuk tidak pernah mengungkit perihal ini di hadapan Maya!" tentu saja keduanya setuju
dan soal uang 200juta , memang benar Rendy ingin mengganti biaya pendidikan Maya karena dia merasa tidak ingin berhutang. tetapi karena Bowo menolak, itu juga menjadi nilai plus di mata Rendy, dia bersyukur Marisa bertemu orang yang tepat, walau bukan saudara kandung tapi Rendy sudah menganggapnya demikian . dan lihatlah mereka berdua ini , dia benar benar merasa lagi lagi menjadi obat nyamuk