
"Kenapa kamu penasaran dengan Bu Farida.." tanya pak Anwar sesaat setelah kami selesai makan siang. dia mengikutiku yang duduk selonjor di teras depan. tapi dia memilih duduk di beton pembatas dengan bangunan sebelah
"Hanya ingin tahu , beliau yang telah menolong saya kemarin." jawabku sambil melihat orang lalu lalang di jalan
"Bicara tentang Bu Farida tak kan pernah ada habisnya, " aku mendongak mendengar ucapannya
"Lebih tak kan habis lagi kalau bapak tidak segera memulainya , " sungutku kesal dan seolah mulai pasrah terserah dia mau cerita atau tidak .
Dia terkekeh geli seolah aku sebuah lelucon "Jangan ngambek, tambah jelek ..! " gurau nya. membuat ku makin sebal
"Pak dimana mana itu kalo orang ngerayu bilang nya *jangan ngambek nanti cantiknya hilang* gitu, bukannya bilang tambah jelek." kesalku yang mendapatkan tertawaan dari nya , apanya yang lucu coba
"Itu kan kalo di rayu itu orang nya cantik..?? lha ini..? wong kamu gak ada cantik cantiknya blast kok, apanya yang mau hilang??" ledeknya . "udah lah terima nasib saja , kamu kan memang jelek !!" ejeknya lagi.
Sumpah demi apapun , kalo saja dia bukan orang yang ngasih aku gaji tiap bulan dan makan tiap hari pasti sudah banyak penghuni kebun binatang yang kuserahkan padanya
"Iya .. iya.. saya jelek.., istri pak Anwar lah wanita paling cantik dan paling seksi di seantero dunia.." kesalku "puas ??!!"
"Tentu saja ha ha ha " gak sopan banget tertawa diatas kekesalan orang lain.
"Bu Farida itu ibu dari pemilik toko ini, " aku menoleh mulai menyimak. akhirnya dia mau cerita juga. " Beliau yang dulu membangun toko ini bersama suaminya , sebelum akhirnya di serahkan pada putranya , Mas Rendy." lanjutnya. nah itu dia...
"Jadi toko ini berarti bukan punya pak Anwar..??" itu yang baru kuingat dari sepenggal cerita Bu Farida kemarin. " kok bapak gak pernah bilang ke saya !?" aku penasaran, dia menoleh mendelik cengo
__ADS_1
"Lhahh.. buat apa saya bilang ke kamu..?? emang wajib gitu saya laporan sama kamu..? *Nona Maya ini toko nya pak Rendy bukan punya saya...!!" gitu..?" tu kan kumat ?? mulai deh nyebelinnya kan bukan seperti itu maksudku..? ini sebenarnya yang lola aku atau dia sih..!!
"Ya gak gitu juga pak.. tapi kan bapak bisa cerita ke saya ..!!" geramku
"Emang kamu pernah tanya ,..?" hhiii... rasanya habis makan tapi aku jadi lapar lagi. boleh gak sih makan orang..?? "Saya dulu hanya seorang perantau di kota ini, " dia mulai lanjut cerita. "hidup susah mengandalkan bayaran sebagai kuli panggul di pasar ujung sana sebagai sumber penghasilan," aku diam mencerna tanpa memotong, melihatnya menerawang jauh seolah mengggali sesuatu yang terkubur. "Itu pun harus berebutan dengan kuli panggul lainya" dia mendesah pelan
"terkadang pernah terfikir untuk menyerah dan kembali pulang ke desa, tapi berpikir ulang , apa ysng bisa saya persembahkan untuk ibukh yang sudah renta, yang sudah berjuang menyekolahkan saya.?" lanjutnya
"Saya berangkat ke kota , dengan harapan setinggi langit , penuh percaya diri akan mendapat pekerjaan yang bagus , ternyata semua jauh dari ekspektasi, karena hanya dengan ijazah SMA saja bukan lah bekal yang cukup untuk hidup di kota.
tak ayal saya pontang panting , dan karena tak punya modal apapun saya terima nasib jadi kuli panggul, sebenarnya berat , tapi ya apa boleh buat , saya butuh makan. karena tak mungkin saya kembali ke desa dengan tangan kosong, selain malu sama tetangga, saya juga tak tega jika harus meligat kesedihan ibu.
sampai suatu hari ada seorang ibu yang berteriak karena dompetnya di copet orang, ibu itu menunjuk nunjuk kan jari nya sambil terus berteriak, saya yang semula kaget baru menyadari jika ada seorang laki laki brewok yang berlari searah dengan tempat saya, lalu sadar jika lelaki itu lah yang di maksud dengan copet. aku berjalan pura pura tak melihat , tapi begitu lelaki itu tiba di dekat saya , saya menjegal kakinya sehingga dia terjatuh , kemudian dia di hajar oleh orang orang yang mengejarnya. aku mengambil dompet yang terjatuh dari tangan copet itu lalu menyerah kan pada ibu tadi yang masih memegangi seorabg anak lelaki yang terluka di siku dan lutut nya. " runut sekali pak Anwar bercerita , dia terdiam sejenak matanya menerawang jauh , entah apa yang di pikirnya ...
"Ini dompetnya bu.., coba di periksa isinya..!" ucapku sambil mengulurkan apa yang kupegang pada ibu itu.
"Terima kasih nak..!" jawabnya lalu memeriksa isi dompetnya
"Anaknya kenapa Bu..??" aku pegangvanak kecil yang terluka itu. dia masih meringis menahan sakit , walau tidak menangis tapi aku tahu luka itu pasti perih untuk ukuran anak yang mungkin baru berusia sepuluh tahun itu
"Tadi di dorong sama copetnya nak , karena ikut megangi dompet saya. "
"Tunggu sebentar Bu.." akj berlari ke arah kios kecil yang ada di dekat tempat itu , dan segera kembali dengan plester dan kapas. "Di balut lukanya ya dik .!" dengan telaten aku membalut luka yang ada di lutut dan sikunya , setelah sebelumnya kubersihkan dengan kapas yang kubesahi dengan air mineral, tampak sesekali anak itu meringis
__ADS_1
"Sakit ya dik ..?" tanyaku yang hanya di angguki nya , tentu saja sakit batinku ."Tahan ya kan udah gede ., jagoan gak boleh lemah, ksn tadi mau jadi super hero bantu ibu nangkap copet kan, ?" aku mencoba mengalihkannya agar lupa dari rasa sakit. dan lagi lagi dia mengangguk. menurut saja sampai akhirnya selesai kubalut semua lukanya
"Terimakasih ya nak.. untung ada nak..."
"Anwar Bu.. nama saya Anwar. panggil senyaman ibu saja..!" jawabku
"Iya.. untung ada nak Anwar, kalo gak pasti dompet saya di bawa kabur oleh copet itu." lanjutnya
"Itu hanya kebetulan saja Bu, kalo ada orang lain yang ada di posisi saya saat itu juga pasti melakukan hal yang sama ," ucapku sambil menoleh ke arah copet yang sedang dihakimi warga pasar.
"Oh iya ibu ini dari mana, terus mau kemana.. ?" tanyaku
"Di sebelah sana itu toko saya nak ," katanya sambil menunjuk arah yang agak jauh di belakang ," tadi mau ke pasar sebentar ini Rendy mau minta beli jajan, " lanjutnya. Sambil mengusap kepala anak kecil itu yang ternyata ku dengar tadi namanya Rendy, aku menngikuti arah yang di maksud tadi, baru ingat kalo sebenarnya ibu itu sering memanggil ku untuk membawa kan belenjaan nya ,dan sering memberiku upah lebih. "Nak Anwar lagi kerja ya, boleh gak minta tolong ?" lanjutnya lagi
Aku menoleh padanya, "Minta tolong apa Bu, kalo saya bisa akan saya lakukan." Jawabku
"ini tadi mau sama beli beras , tolong nak Anwar yang belikan ya , saya mau bawa Rendy pulang dulu kasihan lututnya sakit"
"Oh iya Bu, gak papa biar saya belikan, yang di toko *SUMBER REJEKI* kan Bu.. "
"iya benar nak .. ini uangnya. yang seperti biasa saya beli ya , yang dua puluh lima kilo an !" ujarnya seraya mengulurkan dua lembar uang berwarna merah, aku pun menerimanya
"Silahkan ibu pulang duluan nanti saya antar berasnya,!!" si ibu mengangguk lalu menggandeng anaknya dan pergi dari tempat itu. mungkin karena sudah terbiasa aku yang menjadi kuli panggulnya , jadi dia percaya saja padaku
__ADS_1
bersambung