
Dan di sinilah sekarang Rendy berada , di sebuah ruang privat restoran yang telah di reservasi oleh Tom. Rendy yang biasanya ditunggu oleh klien-kliennya sekarang sedang duduk menunggu, Dia sedang menunggu kedatangan Marissa dan Agung.
Hatinya tak lagi se cemas kemarin , akal sehatnya sudah kembali , dan dia sudah bisa memastikan perasaan Maya padanya, ketulusan gadis itu tidak perlu untuk dia ragukan. dan juga bagaimana sifat Agung walaupun hanya beberapa saat bersama tanpa sengaja di restoran beberapa hari yang lalu. dia hanya akan memastikan, tak akan lagi ada ganjalan untuk kehidupannya di masa depan bersama Maya.
*
*
"Ren... !" Marisa datang masuk ke dalam ruangan bersama dengan Agung yang berjalan menyusul di belakangnya.
"Maya mana ?" tanya Marisa yang merasa heran karena tak melihat adik angkatnya itu. Semula dia berfikir kalau Rendy mengajaknya double date.
"tentu saja dia ada di perusahaan nya , !" Jawab Rendy.
"Perusahaan..?" Sela Agung. "oh .. Maksudnya Maya sedang bekerja di perusahaan, begitu kan ?" Agung menoleh pada Marissa, sebab tidak mungkin dia bertanya pada Rendy. "auws..!" Agung memekik tertahan ketika sikut Marissa mendarat di perutnya.
"Apa..?" Agung bertanya tanpa suara , hanya matanya yang menjadi isyarat, fan Marissa pun hanya menjawab dengan gelengan kepala. Sebagai isyarat agar Agung tak lagi bertanya tentang Maya. Bukan Marissa tidak suka jika Agung bertanya tentang Maya, tetapi karena dia tahu jika Rendy, tidak akan menyukai jika ada seorang lelaki yang kepo dengan Maya. Dan akhirnya Agung pun diam .
"Kalian mau makan apa ?!" tanya Rendy membuka obrolan . Marissa meraih buku menu dimeja di hadapannya.
"Kamu mau makan apa ?!" tanya Marissa pada Agung.
"Apa saja yang kamu pilihkan, aku pasti mau ." jawab Agung.
"Kalau ini bagaimana..?" Marissa bertanya dengan mendekatkan buku menu ke arah Agung . Dan agung pun mendekat , untuk melihat sehingga dua bahu mereka bersinggungan .
"Boleh deh ... , minumnya aku yang ini ya .. ?" jari telunjuk Agung menunjuk pada menu minuman yang ada di tangan Marissa.
__ADS_1
"Oke deh. Aku ini juga ya kak.. !" ucap Marissa sambil mendongak pada waitress yang berdiri di belakang mereka.
"Baik, nona !" jawab waitress sambil menundukkan kepalanya sopan.
"kamu sama desert juga gak ?!" tanya Marissa lagi sebelum waitress berlalu.
"Gak usah .. Puding coklat yang kamu bawakan tadi pagi kan belum sempat aku makan . Masih tertinggal di meja kerja kamu tadi. Kalau aku kebanyakan makan di sini nanti pudingnya mau di taruh sebelah mana ?! Gak akan muat perutku..? Sayang kan kalau gak ke makan . Mubazir.!" jawab Agung yang di iyakan oleh Marisa.
Interaksi di antara keduanya tidak terlepas dari mata jeli Rendy. Ada senyum tipis terukir rapi di sudut bibirnya. Sangat tipis hingga tak terlihat oleh orang lain. Dalam hatinya dia merasa bahagia. Bukan hanya karena Agung tidak akan mungkin menjadi duri dalam hubungannya dengan Maya, tapi juga karena akhirnya Marissa bisa menemukan kebahagiaan nya. Walaupun itu masih jauh jika untuk di pikirkan sekarang.
Pertemuan mereka saja baru berjalan hampir satu bulan.
"Aku sama Agung sudah pesen itu, kamu pesan apa Ren... ?!" tanya Marissa yang kini mengalihkan pandangannya pada Rendy.
"Aku sudah pesan tadi. Hanya tinggal menunggu kalian datang saja. !" Jawab Rendy . Marissa hanya ber oh ria .
"Aku dan Agung...!" ucapan Marissa terhenti karena merasakan tangan Agung yang menggenggam jemari nya. Marissa menoleh dan bisa melihat isyarat dari Agung yang seolah mengatakan *Biar aku saja yang menjawabnya* lalu Marissa pun diam dan mengangguk.
Lagi lagi hal itu tak terlepas dari amatan Rendy.
"Sebelumnya saya minta maaf, jika mungkin ini di anggap lancang oleh pak Rendy. !" ucap Agung. Rendy menatap nya tanpa ingin menyela.
"Ini bukan kesalahan Marissa, saya yang terpesona olehnya, dan daya yang mencoba untuk menjalin hubungan baik dengan nya !" ucap Agung lagi dengan nada tegas sama sekali tanpa keraguan. Rendy dengan matanya yang jeli bisa melihat pribadi Agung, dia bukan orang yang gentar terhadap lawan bicaranya,
"Hubungan baik yang seperti apa..?!" tanya Rendy dengan sorot matanya yang tajam.
"Ren..." Marissa ingin menyela , tetapi lagi lagi Agung menggenggam tangannya. Marissa menoleh dan mendapati Agung menggeleng kan kepalanya. "Serahkan semua padaku" itu lah isyarat mata Agung yang juga terbaca oleh mata tajam Rendy.
__ADS_1
"Saya jatuh cinta dengan Marissa, dan saya ingin menjadikannya istri saya.!" Jawab Agung tegas to the point. Tak ada yang ingin dia tutupi. Agung tau sedikit banyak tentang Rendy. dari profilnya yang sering dia lihat di berbagai media , entah itu internet , surat kabar , majalah, atau bahkan berita tentang Rendy yang sering berseliweran di stasiun televisi. Rendy adalah orang yang tegas , dan tidak suka bertele-tele.
"Agung.. Aku .. Ini... Kamu...!" Marissa menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia merasa syok dengan jawaban Agung pada Rendy. dan tiba-tiba saja dia menjadi gagap tak mampu bicara, Agung mengalihkan pandangannya dari Rendy dan menatap Marissa dengan senyum manisnya.
"Secepat ini ??! Perkenalan kalian bahkan baru berjalan satu bulan?!" ucap Rendy lagi .
"Tadinya saya memang masih ingin mencoba meraih dan meyakinkan hati Marissa lebih dulu, tapi karena anda sudah bertanya sekarang maka saya jawab sekarang juga. " jawab Agung lagi. "Saya tau mungkin Marissa masih ragu dengan saya, atau mungkin masih ada sisi hatinya yang terpaut pada orang lain . Tidak masalah, saya yang akan mengejarnya!" lanjut Agung lagi.
"Makan lah dulu. !" titah Rendy, karena datang nya waitress yang mendorong troli berisi pesanan makanan mereka. Mereka pun segera menikmati hidangan di hadapan mereka.
"Ayo makan ...! Perutmu tidak akan kenyang hanya dengan memandang wajahku . "Ucap Agung sambil menoleh ke arah Marissa, membuat wajah Marissa memerah karena malu,
~*cih ... Orang ini benar benar memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi"~ ucap Rendy dalam hati. Masih sambil memperhatikan interaksi keduanya
sedangkan Marissa masih berusaha menetralkan kembali isi kepalanya. Sejujurnya dia masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya dari mulut Agung beberapa saat yang lalu. Dia memang menyukai Agung , akan tetapi belum sampai pada tahap jatuh cinta, dia saja baru patah hati beberapa waktu yang lalu, tidak mungkin secepat itu jatuh cinta. Dia masih dalam tahap mencoba untuk bisa move on. Perlahan dia menyuap kan makanan kedalam mulutnya. Tiba tiba saja dia merasa kenyang. Bukan tidak berselera makan, akan tetapi dia merasa ada jutaan kupu-kupu memenuhi rongga hatinya.
~"Apakah aku ini sedang di lamar ?!"~ tiba tiba pertanyaan itu muncul di kepala nya.
"Apa makanannya tidak enak ?! Mau ku pesankan yang lain ?!" ucap Agung sambil menyentuh tangan Marissa
"ah .. Tidak , tidak , ini enak kok . Aku akan makan .!" jawab Marissa salah tingkah.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung