
"Bibi... kalau bibi menerima Paman , ambil cincin ini ! tetapi kalau bibi lebih menerima Hasan ambil bunga ini!!"
Ucap bocah itu dengan mata puppy eyes nya. Maya menutup mulut dengan kedua tangannya, merasa takjub dengan segala ucapan Hasan. sedangkan mereka yang berada di sekitar hanya bisa tepuk jidat
"Bibi... Hasan itu masih terlalu kecil ambil saja bunga dariku!" pangkas si kembar Hasyim dan Hisyam yang sudah berada di sebelah kiri dan kanan Maya.
"itu betul bibi, bibi tahu kan ? kami yang paling sayang sama bibi , jadi baby harus mengambil bunga dari kami !" ucap Hasyim
"baiklah ... baiklah ... karena bibi juga menyayangi kalian , maka bibi akan mengambil bunga dari kalian semua. " ucap Maya lalu menengadahkan kedua tangannya dan ketika bocah itu pun meletakkan bunga-bunga mereka di atas tangan Maya
"yeeeahh.. bibi Maya menerima kami .!" seru mereka bertiga sambil berjingkrak-jingkrak
Hasyim dan Hisyam adalah si kembar putra dari Anwar yang usianya selisih 3 tahun di atas Hasan. laki-laki Maya merasa takjub dengan ucapan ketika bocah kecil itu, sedangkan Rendy lihatlah mukanya sudah seperti koran usang yang tergeletak di pojokan terminal.
dengan langkah geramnya Rendy menghadapi mereka berempat direbutnya cincin yang berada di tangan Hasan
"apa-apaan kalian ini, kalian semua datang hanya untuk mengacaukan acaraku saja .!!" ucap Rendy yang terlihat geram , walau sebenarnya semua pun tahu bahwa itu hanya gurauan . mana pernah Randy marah pada anak kecil , dia bahkan menyayangi ketiga keponakannya itu
dengan agak kasar Rendy mengambil tangan kiri Maya lalu membuka kotak cincin dan memakai kainnya di jari Maya
" dengar baik baik oleh telingamu. dan simpan rapi dalam otakmu.. kau itu hanya boleh menerimaku *Rendy Perkasa* " . ucap Rendy. Sambil menekan jari telunjuknya di kening Maya , Maya membulatkan matanya, lalu menghembuskan nafasnya malas ditatapnya wajah Rendy dengan tak percaya
~ apa-apaan ini apa seperti ini caranya melamar seorang gadis~ tanya Maya dalam hati ~tapi Memangnya apa yang aku harapkan darinya ? ucapan manis dan romantis ? Cih... Mana ada hal seperti itu? itu jelas tidak akan mungkin. dia itu kan Kanebo kering ? jadi Walau menunggu sampai ayam tumbuh giginya pun hal itu tidak akan pernah terjadi~ batin Maya lagi. sehingga dia pun hanya bisa mengangguk.
" Hai paman apa seperti itu cara melamar seorang gadis..? apa Paman tidak pernah melihat televisi, sebenarnya Paman itu hidup di jaman apa ?!" teriak Hasyim sambil menengadahkan satu telapak tangannya. dan di dukung dengan anggukan kepala oleh dua saudara nya yang berkacak pinggang di samping kanan kirinya.
"Diam lah kalian anak kecil..!" sontak Rendy.
__ADS_1
" Hei...!!" teriak ketiga bocah itu bersamaan . lihatlah gaya mereka ketika menghentakkan satu kaki dan mengacung satu tangan nya ...
"oh Ya Tuhan... !!" keluh seorang wanita di bangku penonton, sambil memijit pelipisnya.
"Ada apa Tari sayang.. Apakah kepalamu terasa pusing ..?" tanya Anwar. " kemari duduklah lebih dekat lagi denganku sayang..." ucap Anwar lagi sambil menarik kursi yang di duduki nya agar lebih merapat dengan wanita itu.
Lestari adalah wanita cantik seksi tanpa meninggalkan keanggunan nya. Penampilannya modis tapi juga kalem, dia adalah istri Anwar.
"Lihatlah mereka itu.. sebentar lagi bocah India itu akan merasuki tubuh anak anakku..!" keluh Lestari.
"Sudah biarkan saja mereka sayang , itu kan hal yang sudah biasa, tidak usah di hiraukan . lebih baik habiskan saja makan mu.!" Tutur Anwar. "Ini buahku masih ada , apa kau mau lagi ..?!" tawar Anwar sambil menyodorkan buah yang sudah di tusuk dengan garpu ke mulut Lestari . yang di jawab gelengan kepala oleh sang istri.
" Cih... kalian itu sudah tua, tapi lihatlah, sikap dan kelakuan kalian seperti remaja kasmaran saja ..!" sela Iqbal sambil melempar tisu ke arah Anwar.
"Iqbal.. " seru Bu Farida. "Kalau kau iri kenapa tidak segera menikah saja..?!"
"Sukurin ..!" cibir Anwar
sedangkan Iqbal hanya bisa mencebik kan bibirnya
"Bahagia lah kalian hingga akhir..!" Tutur Bu Farida dengan pandangan lembut .
"Jangan ragukan kami Ibu.. !" jawab Anwar sambil menggenggam jemari istrinya.
Iqbal mencebik, Meta terpesona , sedang Marisa...
matanya tak lepas dari adegan demi adegan di hadapan nya.
__ADS_1
"Jangan panggil kami anak kecil Paman.. !" seru Hasan.
"Hasyim ...namaku adalah Hasyim.!"
"Hisyam...namaku adalah Hisyam.!"
"Hasan...namaku adalah Hasan.!"
seru ketiganya bersamaan.
"ha ha ha ha ha..." sontak saja tawa bergema di ruangan yang sudah di reservasi secara privat oleh Rendy itu.
"Aku tak peduli siapa nama kalian, bagiku kalian tetap bocil, !" seru Rendy tak mau kalah. Lalu di sambar nya tiga kuntum bunga yang ada di tangan Maya.
"ini lihat, ini lah bukti kalian masih kecil. jangan bilang kalian ambil bunga ini dari hiasan meja restoran, !" ucap Rendy sambil menggoyangkan bunga itu di depan wajah tiga keponakan nya . bahkan kalian saja melamar dengan bunga palsu . cih memalukan..! "
"Apa palsu..?!" tiga bocil itu seakan tak percaya. "Tapi jangan khawatir bibi.. walaupun bunga itu palsu, cinta Hasyim asli untuk bibi..!" ucap Hasyim yang sudah memeluk Maya dari samping kanan. "Hisyam juga bibi..!" Hisyam menyusul di sebelah kiri . "Hasan pun..." Hasan menyusul memeluk dari depan.
"Dan bibi juga menyayangi kalian semua..!" Maya merangkul ketiganya. ada haru di lubuk hatinya.
Tanpa mereka sadari, di antara gelak tawa itu, ada tatapan yang tak lepas.
*Sebesar itu kau mencintai Maya Ren..* batin Marisa. Dia melihat sangat jelas antara Rendy sehari hari, bersama orang lain dan Rendy ketika bersama Maya. Dihadapan Maya, Rendi bisa tertawa, bersama Maya Rendy bisa ceria, bisa merenggut, merajuk, bahkan berlakon,
Rendy yang dingin dan datar, membuat Risa terpesona, dan Risa berusaha mengimbanginya , dengan bersikap anggun , sopan , kalem , dan lembut, tapi juga sekaligus berwibawa. Risa juga selalu menjaga reputasi nya di luaran , mulai sejak masih sekolah, Risa juga selalu menjaga agar prestasi nya selalu di atas, Risa berharap dengan sikap nya itu bisa menarik perhatian Rendy, tapi ternyata dia salah.
karena Maya yang ceroboh, Maya yang selenge an, Maya yang ceplas-ceplos, cuek, tak peduli pandangan orang lain, Maya yang tak pernah jaga image, Maya yang seperti itu lah yang justru menarik perhatian Rendy.
__ADS_1
Sungguh Marisa bisa melihat ketulusan cinta di antara keduanya. Untuk itu lah Marissa bertekad untuk bisa mengikhlaskan nya , bisa melihat Rendy bahagia juga membuat nya bahagia.
Bukan begitu sejatinya cinta. Cinta tak harus memiliki, mungkin kalimat itu sekarang berlaku untuk Marisa.