
Sore hari yang cerah , ketika tiba tiba saja aku ingin sekali berjalan jalan ke mall, hanya jalan jalan, alias cuci mata, bukan untuk shoping shoping seperti ala ala sosialita,. yaah .. walaupun sekarang aku tak lagi pernah kekurangan uang, tapi entah lah jiwa sosialita benar-benar tidak ada dalam diriku
Aku memeriksa kebutuhan bulanan ku yang mungkin saja habis, ah.. rencananya aku juga mau beli beberapa alat tulis , kurang dari sebulan lagi adalah masa penerimaan siswa baru di sekolah sekolah umum, anak anak asuh harus sekolah,
Aku sudah bertekad untuk mendaftar kan mereka ke sekolah yang jarak nya paling dekat dengan rumah singgah, diantara mereka ada beberapa yang usia masuk sekolah dasar, ada juga yang yang seharusnya sudah kelas tiga, dan ada dua yang harus sudah lulus SMP, untuk dua ana k yang itu mungkin aku akan ikut kan kejar paket nanti, karena pasti mereka malu jika harus sekolah bersama yang lain. sedangkan untuk dua ibu itu aku mempekerjakan mereka di rumah singgah, bukan sebagai pembantu, tapi mereka hanya harus merawat rumah itu , dan juga memastikan mereka semua makan dengan layak, tapi aku akan tetap memberikan mereka uang tiap bulan, agar mereka tidak beranggapan di jadikan pembantu gratisan.
Selesai berpatut diri alakadarnya aku segera hendak pergi mall, kuambil kunci mobil di atas maka samping tempat tidur. dan aku segera turun
"Mbak Maya mau pergi ya..?" sapa mbok minem , seorang art yang bekerja sekaligus menjadi teman ku di rumah ini. Aku memang lebih suka tinggal di sebuah rumah, tidak mewah juga , walaupun jika itu untuk ukuran ku yang dulu sebelum menjadi anak asuh Bu Farida rumah itu sudah cukup mewah, Aku menolak waktu Bu Farida mau menempatkan ku di apartemen seperti mas Iqbal dan mbak Marisa
Sebenarnya aku dulu ingin tinggal di SUMBER REJEKI saja , di sana banyak kenangan tentang kami semua, tapi kulihat mas Anwar juga lebih nyaman di sana bersama keluarga kecil nya, jadi aku tak enak jika mau ikut tinggal di sana juga, aku merasa seperti penjajah yang hendak merebut hak mas Rendy dan mas Anwar
"Iya mbok.. sekalian mau belanja bulanan sama beli keperluan untuk rumah singgah.!" jawabku.
"Mbok minem mau ikut ??" aku menghentikan langkahku sambil menoleh padanya.
"" memangnya belanjaannya ke mana mbak ??" ke pasar..? kok sore mbk??"
"Ke INTER-MALL aja mbok lebih lengkap, soalnya mau beli alat sekolah juga. " jawabku
"Ayo kalau mau ikut mbok, sekalian cuci mata.. biar gak cuma mentelwngi TV aja!!" ajak ku, ya jam segini mbok minem memang sudah selesai pekerjaan nya, tinggal duduk manis di depan TV.
__ADS_1
" Ah nggak ah mbak, malu .. masa sudah tua jalan jalan di mall ??" dia malah tertawa merasa lucu. ish pemikiran dari mana itu, kalo ku bilang simbol itu kolot dosa nggak sih.
"Yang namanya mall itu ya tempat buat belanja, mbok, nggak peduli tua atau muda,!" jawabku menjelaskan, dan yang penting pegang uang, fakta terakhir ini yang gak berani ku ucap , takut simbok rendah diri
"Tapi kan tempat nya naik turun mbak, nanti kalau lututnya simbok kambuh terus gak bisa jalan gimana, ?!" jawabnya khawatir
"Udah gampang nanti biar ku panggilkan pak satpam ganteng yang di depan mall buat gendong mbok Minem, " gurau ku sambil tertawa ngakak. membuat simbok merengut, "Udah buruan ganti baju !! siapa tahu di sana nanti simbok bisa ketemu sama Lee Min Ho ..!" goda ku, demi apa wajah simbok tersipu malu, Lee Min Ho memang aktor favorit simbok, ah si mbok ku yang satu ini memang suka nya nonton Drakor, kadang sampai larut malam, tak masalah yang penting kerjaan simbok beres, dan lagi aku juga tak terlalu memberatkan simbok,
kadang kalau di rumah pekerjaan terlalu repot , aku memanggil orang untuk membantu simbok, aku sudah menganggap simbok seperti ibuku sendiri, kalau saja bibiku mau ku ajak tinggal di sini, sayangnya bibi merasa lebih nyaman tinggal di desa
"Ish mbak Maya bisa aja..!" tersipu malu tapi langsung berdiri dan mematikan TV. "Tunggu ya mbak, mbok ganti baju dulu..?" ucapnya sambil bergegas pergi ke kamarnya, aku merasa lucu melihat nya , seperti gadis dalam masa puber aja simbok ini, aku jadi ketawa ketiwi sendiri
Astaga simbok,... aku usap dadaku dan kulihat penampilan nya , dia memakai gamis sederhana yang kuberikan Minggu lalu, tidak mewah, yang penting bahannya nyaman di pakai untuk seumuran dia, dan aduhai.. apa ini berapa banyak minyak wangi yang di semprotkannya tadi , aku geleng geleng dengan tingkah simbok ini , benar-benar gadis dalam masa puber
......................
"Simbok mau beli apa, ? ambil aja mbok..!" tawarku ketika kami sedang memilih milih belanjaan
"Apa ya mbak.. !?" lhaah...? kok malah dia tanya balik ? bingung ?
"Ya apa aja mbok..simbok pinginnya apa ? makanan?, cemilan ?, pakaian, ? terserah simbok aja, Maya kan gak tahu simbok pingin apa, atau simbok mau beli sesuatu untuk saudara di desa ??" tawarku
__ADS_1
"Memangnya boleh mbak ??, di potong gaji tidak ??" aku pijit pelipisku yang sedikit pening, demi apa coba..? jadi sedari tadi dia gak pilih pilih barang karena itu??
"Simbok...!" aku menggeram tertahan.
" Iya mbak.. iya.. buat simbok semua gratis kan ?? he he... " ish simbok malah cengengesan, "Pis mbak pis ... " ucapnya sambil menampilkan dua jari, pasti dia mengikutiku gayaku kalau lagi menjahili mas Anwar, bikin tambah geram aja "Kalau gitu simbok pilih pilih ya mbak..? yang banyak kan mbak ? he he.." Aku diam saja tak menjawab, pura pura marah. "jangan marah mbak nanti tambah jelek!" ucapnya langsung berlari kecil menjauh
"Simbooook...!" geramku, tapi dia tak peduli, awas saja nanti kalau lututnya kambuh, kutinggal dia biar tidur di mall sini. aku geram. ini pasti virus menular yang di bawa oleh mas Anwar, awas saja dia
"Mbak .. !" panggil simbok setelah mendapat kan keinginan nya, rupanya dia membeli kerudung dan gamis untuk keponakan nya, sedang untuk dia sendiri hanya beberapa cemilan saja, katanya dia sudah tidak butuh apa apa , karena kebutuhannya sudah kucukupi
"Hemm..!" jawabku enggan membuka mulut, aku madih kesal dengan nya. eh .. kenapa aku jadi ketularan mas Rendy ?
"Mbak.. !" ulangnya karena aku masih diam, " Mbak maya marah ya..? jangan marah mbak.., kalau mbak Maya marah terus nanti gimana nasib belanjaan simbok ini , kan gak lucu mbak kalau di balikin ke rak nya lagi, " ish simbok ini benar-benar deh , merayu tapi sambil cengengesan, bukan nya memasang tampang memelas
"Apa mbok.. ada lagi yang mau di beli.. ? ya sudah sana ambil..!" entah kenapa aku masih saja sewot.
"Ish.. bukan mbak..!" aku berhenti mendorong troli yang ku pegang lalu menghadapnya yang melangkah pelan di belakang ku, kupandangi dia, simbok ini kenapa sih, biasanya juga kalau jalan mensejajariku
"itu mbak.. " dia menghentikan ucapannya seolah ragu, aku masih diam menunggu nya mengatakan keinginan nya, " Kok Lee Minho nya gak ada mbak..?"
"Jeduarrr...!!" mulutku menganga lebar, sambil memandanginya yang celingak-celinguk celinguk, seperti mencari seseorang. Ya ampun simbok, aku tadi kan cuma bercanda, masa di anggap serius..? aku menutup mulutku yang menganga dengan dua tangan ku agar tidak kemasukan lalat
__ADS_1