
Hallo mia lovers... jumpa lagi di karya pertama saya, mohon dukung terus ya, jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, follow, dan subscribe nya ya.. syukur syukur ada hadiah untuk saya , secangkir kopi, atau kalo tidak, setangkai bunga mawar aja juga boleh, biar tbah semangat kita up datenya, karena kita merasa begitu di sayangi.
selamat membaca . .. emmuuaach
Akhirnya aku dan mas Rendy tidak kembali ke kantor, aku madoh merasa syok dengan apa yang baru saja aku dengar
"Kau mau ku antar pulang atau kau yang ikut pulang ke tempat ku..??" tanya mas Rendy ketika kami masih dalam perjalanan.
"terserah mas Rendy saja , ke manapun boleh " jawabku sekenanya, aku masih malas dan belum bisa berfikir apapun.
"Kalau ke hotel aja gimana , kita chek in berdua..??" aku tersentak dan spontan melotot padanya
"Jangan aneh aneh ya mas ..!!" seruku . dia tertawa terbahak bahak, dan akupun tahu kalo Ternyata dia hanya berniat mengerjaiku. membuat ku cemberut, memang se asyik itu ya ngerjain aku, kenapa sih mereka semua, gak mas Rendy, gak mas Anwar, gak ibu, dan yang lain juga senang sekali menjadikan aku bahan gurauan mereka. mentang mentang aku yang paling kecil.
"Makanya jadi orang itu jangan gampang mellow gitu , gak asyik tahu lihat kamu lemes kayak gitu, !" ucapnya sambil menoyor kening ku. "Di mana mana itu kalo orang di kasoh perusahaan ya , bahagia, gembira, jingkrak jingkrak, lha kamu malah sendu gitu."
"Ya bukan aku gak bahagia mas... aku bahagia kok, tapi kan harusnya ibu tetap di sini betsama kita, kenapa sih harus tinggal di kampung ? kalo kita kangen gimana..??"
"Astaga Mayaa.. serius itu yang ada dalam pikiranmu ?? gak salah kamu mikir kayak gitu..??" mas Rendy menggeleng Kan kepala tanda tak percaya. "Betapa miris nya hidup kamu itu Mayaa..." desahnya.
"Mas Rendy apaan sih ? aku gak miris tahu, ..??" sewotku karena ucapnya yang seakan mengasihaniku
"Lha terus itu tadi apa ?? , dengar Maya, ibu memang butuh ketenangan, dan suasana yang asri, dan itu hanya bisa kalo ibu tinggal di kampung tidak banyak polusi seperti di kota besar ini, lagian di kampung ibu sudah di bangun kok, mansion ibu besar hanya saja ibu memang memilih bahan dari kayu , buksn tembok beton.!"
"Iya Maya tahu.. tapi kalo kita kangen gimana..??" aku masih merajuk
__ADS_1
"Astaga... dengar baik baik oleh mu wahai Maya yang lemot..!"
"Mas aku gak lemot ya, !!" bentakku tidak terima
"Kalo gak lemot lalu apa..? dengar ya.. kampung ibu itu bukan berada di luar kota.. bukan di luar pulau, luar negeri , apalagi luar dunia.. jadi masih bisa kita kunjungi kapan pun kita mau..!!" suara mas Rendy terdengar sangat geram , "Itu yang kamu bilang kalo kamu gak lemot ..!" sergahnya lagi.
Aku tercenung, iya juga ya, kok aku gak mikir kesana sih. aku menoleh meringis ke arah mas Rendy. "Pis mas piiss ..!" aku menunjukkan salam dua jari. membuat nya mendengus kesal
"Iya mas iya benar Maya lemot..!" tambahku, aku terpaksa mengakuinya agar mas Rendy gak geram lagi, walaupun itu memang kenyataan, ish .. aku ini tadi kenapa sih, kok mikir gitu aja gak nyampai. apa gara gara ketemu makhluk asing tadi pagi dan siang itu yaa..??
oh ya Tuhan... aku pukul pukul kepala laku dengan telapak tangan ku, tapi segera tanganku di tangkap oleh mas Rendy.
"Isi Kepalamu itu sudah lemot... biar apa kamu pukul pukul seperti itu..?? biar tambah error, iya..??" ah rupanya mas Rendy masih ngambek padaku. aku pun menurunkan tanganku lalu duduk manis, dengan seulas senyum sambil menggeleng pelan, dan simbul dua jari
................
"Bersihkan badanmu, masih ada pakaian mu di kamarmu..!" titahnya.. ya aku memang kadang menginap atau istirahat di sini. kalo misal ada acara di rumah mas Rendy ini, itu juga berlaku jika ada di rumah mas Anwar, dan saudara yang lain, begitu juga sebaliknya
ada juga pakaian mas Rendy, mas Anwar , mas Iqbal, juga mbak Meta, dan mbak Marisa di tempatku. karena kadang kami memang mengadakan acara kumpul kumpul jika lagi senggang bersamaan
Aku berjalan pelan meruruni anak tangga , dari kamarku berada di lantai atas rumah ini , kulihat mas Rendy duduk di depan TV yang menyala, tp entah Mas Rendy menyimak acara nya atau tidak, pandangan nya tampak kosong, aku menghampiri nya perlahan agar dia tak terkejut, tapi tampaknya dia bahkan tak menyadari aku yang sudah duduk di sampingnya.
"Mas..!" aku sentuh tangannya. hingga dia sedikit terjingkat tapi segera menguasai diri, seperti itulah mas Rendy, selalu bersikap cool, "Apa ada yang mengganggu pikiran mas Rendy..?" tanyaku kemudian. dia menghembuskan nafas perlahan
"Tidak ada, aku hanya teringat ibu saja.!" jawabnya. lalu kembali terdiam fokus mata memandang TV, walau aku tahu siaran TV itu bahkan tak masuk ke telinga nya, pikirannya sedang mengembara entah ke mana
__ADS_1
......................
Pov Rendy
"Ibu... ibu dimana... Rendy lapar Bu... ibu... " aku menangis memeluk lutut ku,
pagi itu ibu mengajakku ke pasar, tapi kami terpisah, karena ibu bilang akan membeli lauk dulu untuk di bawa pulang, ibu menyuruhku menunggu di depan pos satpam, karena ibu bilang kalau aku ikut ke dalam nanti akan lama karena harus berdesakan dengan orang banyak
tapi sampai siang , bahkan menjelang sore dan pasar sudah terlihat berkurang keramaian nya, ibu tak juga kembali. aku memegang perutku yang terasa sakit, karena belum sarapan sejak pagi, hanya sepotong roti yang diberikan oleh pak satpam tadi
"Memangnya ibumu tadi kemana nak.. ??" tanya pak satpam, tapi aku tak tahu harus menjawab apa, aku hanya menunjuk ke arah pasar, "Ya Allah..." Kudengar pak satpam dan beberapa orang yang mengerumuni ku berucap. setelah itu aku dengar pak satpam berbicara keras menggunakan toa, mengumumkan keberadaanku, dan mengatakan barangkali jika ada seorang ibu yang kehilangan anaknya untuk menjemput ku di pos satpam.
tapi bahkan sampai sore tak juga ibuku datang , aku terus saja menangis, bahkan makanan yang di belikan oleh pak satpam tak bisa masuk melalui tenggorokan ku. lalu kudengar lagi pak satpam mengumumkan keberadaanku. aku sampai lelah menangis dan hampir tertidur hingga beberapa saat aku merasa ada tangan halus yang menyentuhku. aku terjaga dan membuka mata pelan
kulihat seorang wanita cantik seumur dengan ibuku , dia tersenyum manis sambil mengusap kepalaku
"Ayo kita pulang nak.." ucapnya. kamu pulang dengan ibu yaa..?" lanjutnya. aku melihat ada juga pak satpam disebelah nya yang juga tersenyum padaku.
"Bu Farida yakin akan membawanya..?" pak satpam menoleh bertanya pada, ibu itu yang kudengar bernama Farida, ibu itu tersenyum mengangguk,
"In Syaa Allah saya yakin pak, kasihan kalo dia harus tidur disini." jawabnya. "Saya senang , lagi pula pak Aming tahu kan kalau saya gak punya anak..?" lanjutnya. "Tapi nanti jika ibu nya kembali datang ke sini dan menjemput nya , pak Aming tunjukkan saja rumah saya .!!"
"Baiklah kalau begitu Bu Farida.. ibu selalu saja berbuat baik pada semua, semoga Allah memudahkan semua urusan ibu.." ucap pak satpam
"Aamiin... Ya sudah kalau gitu saya pulang ya.. mari nak .. kita pulang yaa..??" ucap ibu itu lalu meraih ku dalam gendongan nya
__ADS_1
bersambung