SETELAH KAU KHIANATI

SETELAH KAU KHIANATI
promosi karya baru


__ADS_3

"Ibu capek dengan semua ini pak..!!" ucapku lirih ketika kami baru saja merebahkan tubuh di atas dipan kayu yang sudah tua


"Harus bagaimana lagi bune.. kita tidak punya jalan lain..?" jawab suamiku


"Kenapa sepertinya, sekeras apapun kita bekerja tetap saja tak pernah cukup..?? kapan kita bisa hidup enak pak..? ibu juga pingin seperti orang orang itu pak , seperti para tetangga.. punya perhiasan, punya motor bagus..??!!" tanpa terasa air mata ku mengalir membasahi pipi. ku pejamkan mata demi menahan rasa perih di dada.


kilasan kilasan semua perjalanan sepanjang pernikahan kami hadir di depan mata, berputar satu persatu seperti sebuah slide film yang di putar di bioskop

__ADS_1


Delapan belas tahun yang lalu, awal perjalanan pernikahan ku dengan suamiku yang hingga kini masih menemani hidupku ini.


semua terasa indah , semua terasa mudah, walaupun kami hanya petani , tetapi hidup kami tak pernah kekurangan.


apalagi setelah kelahiran anak pertama kami, suamiku yang juga bekerja sebagai buruh tani, setiap hari selalu mendapat kan pekerjaan. hingga dapur kami tetap mengepul tiap hari


Satu satunya yang kurang dari kami adalah karena kami masih tinggal dengan orang tuaku,. setiap hari selalu adaaa saja pertengkaran di antara kami. entah memang benar atau kah hanya perasaanku saja , aku selalu merasa ibu tak pernah menyayangimu, perlakuan ibu pada ku sungguh jauh berbeda dengan perlakuan nya pada dua saudara lelaki ku. aku tak tahu apa sebabnya, mungkin juga karena aku yang terlahir tak sesempurna dua saudara ku. walaupun anggapan ku itu terkadang bertolak belakang dengan hati nurani ku. bahwa tak mungkin ada di dunia ini seorang ibu yang tak menyayangi anaknya. apapun keadaan anaknya.

__ADS_1


aku pun lebih menurutinya, karena sejujurnya saja aku ingin menghindari lebih banyak bertengkar dengan ibuku, ibuku yang bicaranya selalu nyelekit, dan aku yang tidak bisa mengendalikan emosi diri, seringkali terlihat seperti api dan bensin.


sejujurnya saja aku juga masih takut dosa, terlebih aku takut terlewat membenci ibuku dan akhirnya menjadi durhaka.


Rumah mertuaku sangat kecil, bahkan masih terbuat dari bambu, walau kalau aku melihat sebenarnya itu adalah rumah yang bagus kalau dilihat dari kayu yang digunakan sebagai penyangga bangunan rumah tersebut. Hanya orang yang matanya jeli saja yang bisa melihat itu, dan aku sebagai seorang anak yang ayahnya bekerja sebagai tukang kayu jelas bisa membedakan hal itu


hai hai hai... Author mau promosi ya , jangan lupa mampir di karya author datu lagi judulnya* *Terjerat pinjaman online*

__ADS_1


Mohon dukungannya ya karena karya ini saya ikutkan lomba



__ADS_2