
Aku berlari begitu keluar dari gang yang berada di depan kos Arman, berlari dan terus berlari, sampai tak sadar aku sampai di sebuah taman.
aku menghentikan langkahku, baru sadar jika aku telah berada di tempat yang jauh dari tempat kost arman. walau berusaha terlihat baik-baik saja nyatanya aku rapuh, ada yang terasa nyeri di dalam dadaku, aku jatuh tertunduk kutelungkapkan wajah di atas lutut dengan dua tangan bertumpu di atas rerumputan, air mata yang sedari tadi bu tahun akhirnya jebol juga, aku menangis sejadi jadinya. menyesali apa yang terjadi dalam hidupku, menyesali semua kebodohanku, menyesali ketidak peka an ku atas sikap Arman dan Regita yang sudah nampak aneh selama sebulan belakangan
"Nduk..." aku ter jingkat kaget saat merasa ada tangan yang menyentuh pundak ku
ku dongak kan kepalaku dan tampak dalam pandangan mataku seorang wanita paruh baya dengan wajah cantik sedang menunduk menghampiriku.
Ku seka air mataku lalu berdiri menghadapnya. wanita itu mundur selangkah
dan tersenyum manis.
"Ada apa nduk kenapa menangis di sini, , apa ada barangmu yang hilang ,??" tanya wanita itu lagi, aku masih terisak tak bisa menjawabnya, aku hanya mampu memindainya dari ujung rambut sampai ujung kaki
~Siapa gerangan nyonya yang cantik ini~ batinku, melihat apa yang menempel di seluruh badannya sangat jelas jika beliau adalah orang kaya
"Nduk..." ucapnya lagi sambil menyentuh tanganku, aku seakan tersadar dari lamunan, aku mundur, dan sangat malu karena mungkin dia risih dengan caraku memperhatikannya
"Iya nyonya ..." jawabku
"kenapa sore sore menangis sendirian di taman, apa yang terjadi?" beliau mengulang pertanyaannya
"Tidak ada apa apa nyonya ... maaf nyonya siapa ??" aku menjawab dan juga bertanya, karena selama tinggal di lingkungan ini , baru pertama ini aku bertemu dengannya, atau mungkin juga aku yang kuper sehingga tak mengenalnya
__ADS_1
"Kamu Maya kan..?? yang bekerja di toko pakaian *SUMBER REJEKI* yang ada di jalan mangga muda itu..?" bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah kembali melontarkan pertanyaan sambil tersenyum
aku kaget, mundur lagi selangkah dan kembali memindainya dari atas sampai bawah ~siapa nyonya ini, kenapa beliau mengenalku sedangkan aku tak tahu siapa dia~ pikirku. lagi lagi wanita itu tersenyum.
"Ayo kita duduk di bangku sana..." dia mengarahkan tangan kanannya ke arah sebuah bangku taman sedang tangan kirinya menggandeng tangan ku. Entah hipnotis apa, aku hanya menurut saja
"cerita pada ibu nduk... apa yang terjadi padamu? kenapa menangis di sini..??"
setelah sampai di bangku dan kami pun duduk, dia kembali menanyakan hal yang belum ku jawab dari tadi
"Tidak ada apa apa nyonya..." jawabku. "Apakah nyonya mengenal saya ? , bagaimana nyonya tahu saya bekerja di toko pakaian ?? Apa nyonya adalah pelanggan di toko itu ??" aku ingin menuntaskan rasa penasaran ku
tapi dia lagi lagi hanya tersenyum
Aku menunduk, tanpa terasa air mataku kembali terjatuh. ku dongak kan wajahku menatapnya lalu menunduk lagi, ku hela nafas panjang dan ku keluarkan, terasa berat, seolah ada batu besar menghimpit dadaku
"kekasih saya berselingkuh , nyonya " Jawabku pada akhirnya.
"Dia mengkhianati saya, dan sakitnya lagi itu dengan teman saya, teman sekampung yang dulu saya ajak ke kota ini, " tambahku,
"Yang menyakitkan adalah alasannya yang sangat tidak masuk akal, hanya karena... hanya karena..." aku mengambil jeda ambil nafas menahan sesak, sedang si nyonya itu hanya diam mendengarkan tanpa memotong atau bertanya. "hanya karena... saya selalu menolak ketika diajak berhubungan badan." lanjut ku, tangisku tumpah semakin deras. dan nyonya itu masih saja diam sambil mengelus elus punggungku.
"Padahal selama ini saya sangat mencintainya, saya menuruti apapun permintaannya, jika itu hanya berhubungan dengan uang, saya relakan hampir seluruh gaji saya dari toko pakaian, untuk kebutuhannya, bahkan dari gaji saya, saya hanya menyisihkan sedikit untuk keperluan sehari hari saya dan untuk makan saja, dan bodohnya saya, saya menurut saja waktu dia janjikan kalo gajinya dia sendiri yang bekerja di pabrik tekstil akan dia tabung untuk biaya pernikahan kami kelak , dan juga harus di tabung agar bisa membeli rumah kecil yang akan kami tempati setelah menikah " lanjut ku lagi sambil terus menangis, ku tepuk tepuk dadaku yang terasa sesak. Aku tak lagi mampu bicara.
__ADS_1
"Sudah cukup nduk.." setelah beberapa saat kami terdiam dan aku bisa menghentikan tangisku , beliau berucap lirih sambil mengelus punggungku, "Sekarang berhenti lah menangis, jangan buang air matamu dengan percuma untuk laki laki seperti itu.!!" ucapnya lagi
"Bukankah lebih baik bagimu kalau kau mengetahui itu Sekarang? dari pada kau mengetahui dia bukan laki laki setia , setelah kalian terlanjur menikah, dan harusnya kau bersyukur dia belum berhasil mengambil mahkotamu yang paling berharga.??!!" tambahnya lagi, kali ini tangannya memegangi dagu ku untuk menghadap padanya. kami bertatapan beberapa saat, aku mencoba mencerna semua kata katanya, lagi lagi beliau tersenyum, senyum yang sangat menyejukkan hati
"Nyonya benar.." aku mengangguk lalu menundukkan wajah, beberapa saat aku terdiam, aku memang harus bersyukur untuk hal itu. "Aku tidak akan menangisinya..!!" janjiku pada diriku sendiri .
"Kau sudah lega setelah berbagi ??" beliau bertanya dan lagi lagi sambil tersenyum. dan aku mengangguk, "Sekarang tersenyum lah, jangan buat dia bahagia dengan melihatmu menangis.!!" katanya lagi. itu benar , aku memang harus tersenyum, aku tak boleh lemah hanya karena pengkhianatan nya, biar saja uang ku hilang , aku anggap itu sebagai sedekah.
"Sekarang sudah benar benar sore, bahkan sudah hampir maghrib, ayo kita pulang !!" kemudian mengajakku berdiri, aku pun ikut berdiri, ku pandang sekelilingku yang memang hampir gelap. aku tersentak saat baru tersadar ternyata nyonya itu tak lagi ada di sampingku, seperti ada yang aneh dalam pikiranku, seperti ada sesuatu yang hilang tapi apa.??
"Ah...." aku tersentak saat mengingat sesuatu "ah benar, nyonya itu kan belum menjelaskan siapa dirinya.." gumamku. "Nyonya .. tunggu.." teriak ku sambil mengejarnya. kulihat beliau berhenti sebentar lalu menoleh padaku dan tersenyum, tapi kemudian melangkah lagi.
"Nyonya...... tunggu......" teriak ku lebih keras. dan terus mengejarnya. sampai akhirnya aku berhasil men sejajar i nya nya, dan kutangkap tangannya. ku pegang erat tangannya, agar beliau tak lagi melangkah, beliau berhenti dan tersenyum
"Ada apa..??" tanyanya dengan wajah tanpa dosa. aku berhenti sambil memegang perutku yang sakit akibat berlari. ku atur nafasku yang terengah engah sebelum bicara
"Nyonya kan belum menjelaskan siapa diri nyonya..??" tanyaku setelah beberapa saat dan nafasku kembali teratur. tapi apa jawabnya, beliau malah tertawa tergelak
"Aku pikir kamu lupa..??" jawabnya .sambil masih tertawa. aku merengut.
"Nyonya curang... Nyonya mau mengingkari kesepakatan kita..??" tanyaku sambil merajuk. dan dia malah tertawa semakin lebar , bahkan sampai seperti menangis.
"Baiklah .. aku tidak akan berbuat curang, aku akan menjelaskan nya sambil mengantarmu pulang. Ayo.." beliau berjalan mendahuluiku, dan mau tak mau aku harus mengikutinya. juga saat dia menyuruhku masuk dalam mobilnya,
__ADS_1
"Naiklah.. aku akan mengantarmu pulang. !!" ajak nya "Tenang saja aku tak kan menjual mu, tubuhmu terlalu kurus tak kan laku untuk dijual..!!" ucapnya tergelak ketika aku masih termangu di samping mobil. tp akhirnya aku menurut saja, entah apa yang akan terjadi nanti , ah.. masa bodoh toh aku tak punya siapa siapa yang akan menangisi ku jika memang aku hendak di jual