
Sementara itu di tempat lain.
usai sudah bingar bingar meriahnya pesta. tamu sudah tak lagi tampak, kedua pasangan pengantin sudah memasuki kamar hotel masing masing, pun dengan keluarga pasangan pengantin, ada yang langsung kembali ke rumah utama, ada juga sebagian yang memilih menginap di hotel yang adalah bagian dari aset milik Bu Farida.
yang tersisa hanya petugas kebersihan dan pihak katering hotel yang harus membereskan peralatan mereka. .
***
di salah satu kamar presidensial suit.
"Agung.. bantu lepas resleting aku dong . tangan aku gak nyampe ini.!" keluh seorang wanita memanggil pasangannya. dia tampak kesulitan untuk melepaskan gaun pengantin nya.
"Resleting aja atau yang lainnya juga yank.?!" tanya si pria sudah sambil tangannya usil menyentuh punggung belahan jiwanya.
"Jangan jahil ya , !" ucap si wanita sambil menepis tangan yang sudah mampir di pundak.
"Gak papa , jahil sama yang sudah halal itu berpahala.!" bantah si pria terus menggerakkan jari jarinya seperti kaki yang sedang berjalan, menyusuri kulit mulus yang nyaris terlepas dari balutannya.
"Ish... aku ini lelah bin capek udah berdiri seharian. aku mau mandi , berendam air hangat lalu tidur " bantahnya lalu melenggang menuju ke kamar mandi.
" Eh.. kita sehati dong , aku juga sama lhoo.., aku juga mau mandi, berendam air hangat lalu tidur. kalau gitu barengan yok..!" seru si pria dengan wajah tengilnya.
"Aguuuunnggg...!!" Marisa sudah masuk ke dalam kamar mandi berteriak tertahan, demi menahan geram dikarenakan sang suami tiba-tiba saja sudah menyerobot ikut masuk.
" lho kenapa..? kan lebih enak barengan, lebih mempersingkat waktu, lagi pula aku bisa bantu gosokkan punggung kamu ?!" sungguh wajah sok polosnya itu membuat Marisa ingin melemparnya dengan botol sabun di tangannya.
Tapi apa Agung peduli. tentu saja tidak. dengan segera dia mengisi bak mandi dengan air hangat, lalu menambahkan beberapa tetes sabun beraroma terapi. wangi lavender yang sangat di sukai oleh wanita yang sekarang telah sah menjadi istrinya.
" Sudah sayang, ayo cepat mandi, aku tahu kamu lelah, aku janji kita hanya akan mandi. oke ?!" kata Agung lembut sambil mendorong tubuh istrinya untuk segera masuk ke dalam bak mandi super mewah itu.
Mau tak mau Marisa pun menurut. begitu pun saat suaminya membantunya melepas pakaian dan juga membantu menggosok punggungnya. sebagai seorang wanita dewasa, tentu saja Marisa merasakan sesuatu saat tubuhnya tersentuh tangan pria, hal yang belum pernah di rasakannya seumur hidup. karena Marisa memang tidak berpacaran sebelumnya.
__ADS_1
Apalagi ketika suaminya menarik tubuhnya agar punggungnya bersandar pada dada bidang itu, ada geleyar aneh dalam tubuhnya.
Hal yang sama dirasakan oleh Agung, matanya menatap setiap inci tubuh sang istri, karena ini juga pertama kali baginya bersentuhan dengan seorang wanita. ada yang berdiri tegak , tetapi bukan keadilan.
Tetapi dia sudah berjanji tadi kalau tidak akan lebih dari sekedar mandi bersama. lagipula dia juga sudah merasa sangat lelah seharian ini, begitu Marisa. kasihan jika dipaksakan, akan kurang nikmat rasanya.
setelah cukup berendam , Agung mengangkat tubuh istrinya dengan gaya bridal. dan membawanya kembali ke ranjang setelah membilas tubuh mereka berdua di bawah shower. Marisa ingin protes karena merasa bisa berjalan sendiri, tapi tentu saja tidak di hiraukan oleh dan suami.
Sesampai di ranjang pun Agung tak membiarkan istrinya untuk bergerak. dipakaikan nya baju dan celana piyama , panjang.
bukan lingerie seperti dunia novel ya wk wk wk.
"Sini biar ku keringkan rambutmu.!" titah Agung
"Aku bisa sendiri Gung..!" rengek Marisa lagi lagi protes
"Sudah diam, hadap sana !" titah Agung sambil mendorong tubuh sang istri agar duduk membelakangi nya. lalu dikeringkan rambut sang istri dengan sangat lembut hati hati, seolah porselen yang takut tergores.
"Kah memang bayi besar ku..!" ucap Agung sambil mengecup leher putih sang istri lalu tertawa tergelak.
"Agung ih.. geli tahu.. " omel Marisa, sebenarnya bukan geli, tapi dia tak tahu rasa apa itu yang barusan.
Karena merasa gemas Agung mengulanginya, bahkan sampai tak sadar dia sudah meninggalkan gigitan kecil di sana.
"Agung.. apa yang kau lakukan..? kau menggigit ku ? ini KDRT namanya, !" sentak Marisa, entah apa maksudnya
"What.. sayang.. apa maksudmu ?" Agung tersentak kaget.
"Kau sudah melakukan KDRT, padahal ini baru di hari pertama kita menikah..?" mata Marisa sudah berkaca-kaca.
"Sayang, tidak seperti itu..!" Agung menarik Marisa dalam dekapannya. dia juga bingung bagaimana menjelaskan nya. "Sayang aku tidak sengaja melakukan nya , aku gemas, sejujurnya aku belum pernah melihat sesuatu semulus dirimu, ini pertama kalinya aku melihat tubuh wanita, maafkan aku yaa.. ?!" ucapnya masih sambil memeluk istrinya.
__ADS_1
"Benarkah..? , jadi kau kau bukan bermaksud menyakiti ku ?"
"Tentu tidak sayang.." Agung mengecup puncak kepala Marissa.
Ya Tuhan... wanita dari jaman apa yang ku nikahi ini ? dia bahkan tak tahu apa itu pore play ? apa ini suatu keberuntungan ku , mendapatkan wanita yang benar-benar masih polos? batin Agung. dia sungguh merasa bersyukur. Tak ku sangka seorang owner butik ternama, sama sekali tak paham dunia per_making love_an. Agung tersenyum dalam hati.
Marisa mungkin bisa di bilang sebagai wanita langka di jaman yang serba modern ini. karena memang sejak keluar dari panti asuhan lalu ikut tinggal bersama Bu Farida, dia tak pernah bergaul dengan pergaulan bebas , yang dilakukan nya hanya sekolah, belajar, dan mengejar obsesinya pada Rendy. bagaimana agar bisa terlihat spesial di mata Rendy, tanpa sedikitpun punya hasrat akan sesuatu yang aneh.
Berbeda dengan Agung, walaupun dia memang juga tak pernah bergaul dengan wanita, alias pacaran, tetapi dia juga tidak sepolos itu. sewaktu tinggal di tempat kost semasa kuliah di kota , jauh dari desa banyak teman teman nya yang sering mengajak nya menonton film-film blue, hanya saja cukup baginya sekedar tahu , dan tak ada niat sedikitpun di hatinya untuk ikut ikutan masuk pergaulan bebas temannya. dia segera menjauh begitu merasa ada yang melenceng.
"Sudah ayo kita tidur sayang..!" Ajak Agung begitu merasa Marisa sudah tenang . dan Marissa pun menurut saja. begitu pun ketika Agung mendorong tubuhnya untuk berbaring menungganginya. lalu memeluknya dari belakang, ada rasa nyaman dalam hati keduanya.
usia memang tidak menjamin kedewasaan seseorang, buktinya malah Agung yang seperti nya bisa nge~mong Marisa.
"Gung... " panggil Marisa lirih.
"Gung.. kamu sudah tidur ya..?!" ulang Marisa karena tak mendengar jawaban.
Agung hanya diam tanpa suara, malah mendusel kan wajahnya di ceruk leher istrinya.
"Ihh.. Agung geli tahu..?!" omel Marisa seraya membalikkan badannya
"Habisnya kamu manggil aku kok Gang Gung _ Gang Gung gitu, aku ini kan sudah jadi suami ? panggil sayang kek !? aku aja manggil kamu sayang.! " Agung menggerutu.
" Ih ogah ah.. geli tahu aku gak biasa manggil gitu.!" bantah Marisa
"Ya di biasakan dong yang. biar enak juga kalo kedengaran orang !" rengek Agung
"emm iya deh ... Yank !" jawab Marisa malu malu .
"Nah gitu dong.. ini baru istriku sayang..!" Agung spontan mengecup kening Marisa
__ADS_1