SETELAH KAU KHIANATI

SETELAH KAU KHIANATI
09 Tentang Pak Anwar dan Bu Farida (3)


__ADS_3

masih pov Anwar


Dengan semangat aku memanggul beras di atas pundakku , untuk ku antar ke toko SUMBER REJEKI. Alhamdulillah akhirnya hari ini aku dapat panggulan, bisa lah buat makan hari ini. aku selalu berusaha berhemat, makan di warung pun tak pernah neko neko, karena aku sadar dengan pekerjaanku. Ini sudah bulan ketiga aku sampai di kota ini, dan aku belum memperoleh pekerjaan yang layak. Entah berapa surat lamaran pekerjaan yang sudah kukirim ke berbagai pabrik atau perusahaan, di bilang suruh menunggu , tapi sampai saat ini belum juga ada panggilan.


"Assalammualaikum Bu...!!" teriakku begitu sampai di depan pintu masuk toko.


"Wa alaikum salam..! " sahut seorang wanita dari dalam , dan kulihat ibu pemilik toko itu bergegas keluar menghampiriku. "langsung, bawa masuk aja nak Anwar, letakkan di tempat biasa ya..!!" suruhnya , dan aku pun segera masuk , kutinggal kan sendal bututku di depan teras yang tak berubin. dan bergegas membawa beras Yang kupanggul itu menuju ruang tengah dekat lemari es.


"Dituang di tempat beras sekalian seperti biasa Bu..??" tanyaku, aku sudah paham karena sudah beberapa kali melayani ibu ini membawa beras dari pasar.


" Iya boleh , itu yang didalam tinggal untuk dua hari mungkin." jawabnya. aku membuka tutup beras itu yang memang isinya tinggal sedikit. aku tuang dulu isinya kedalam wadah bak kecil yang tersedia di dekat tempat beras itu, lalu ku buka karung beras yang baru aku beli tadi dan ku tuang beras ke dalamnya , lalu kumasukkan kembali beras yang tinggal sedikit di bagian atasnya , tujuannya supaya beras yang sisa stok lama itu termasak lebih dahulu. setelah selesai kulipat karung beras tadi dan ku letakkan di samping tempat beras itu.


"Ini kembaliannya Bu, !" aku mengulur kan uang yang tersisa lima puluh ribu padanya. yaah pada waktu itu harga sekarung beras dengan berat dua puluh lima kilo masih lah seratus lima puluh ribu, entah kalo Sekarang, kalo istriku pernah cerita katanya dua ratus dua puluh lima ribu.


"Ambil saja buat ongkos panggulnya nak Anwar..!!" katanya


"wah saya gak ada kembaliannya Bu, ini tadi kebetulan ibu pelanggan pertama saya, jadi saya belum dapat ongkos lain." ucapku jujur


"Gak papa gak usah pakai kembalian." katanya lagi


"Wah jangan Bu.. ini kebnyakan , kan cuma ngangkat beras aja dekat lagi dari pasar nya.!" aku merasa tak enak, karena kalo cuma ngangkat beras biasa nya aku cuma dapat upah sepuluh ribu saja


"Gak papa nak..kan tadi juga nak Anwar sudah nolong saya dan juga anak saya..!"

__ADS_1


"Ya gak boleh gitu Bu, saya nolongnya ikhlas kok, kalo saya dikasih uang gini kan jadinya saya gak dapat pahala Bu.." jawabku, ibu itu tertawa mendengarnya.


"Saya juga ikhlas nak.. oh iya ini ayo sambil di minum kopinya..!" inilah yang beda dari ibu yang sampai saat ini belum kutahu namanya, selalu saja menyuguhkan ku kopi kalo aku ngantar barang ketempat nya. membuat ku jadi sungkan, karena kalo di tempat orang lain biasanya barang hanya turun di emperan saja lalu di masukkan sama si empunya rumah, jadi aku langsung pergi setelah menerima upah yang kadang tak sesuai , tapi kalo mau nolak juga aku takut beliau tersinggung. "ini sama ada nagasari, tadi buatan saya sendiri lo ini, ayo nak di coba.!" Beliau malah menyodorkan piring berisi jajanan berbungkus daun pisang ke arahku.


Mau tak mau aku pun mencicipinya, ada rasa sungkan jika tak ku ambil walau cuma satu, lumayan lah buat ganjal perut, mungkin Allah tahu aku tadi belum sempat beli sarapan, makanya mendatangkan ibu ini padaku. "Alhamdulillah..." ucapku bersyukur dalam hati.


"Nak Anwar betah jadi kuli panggul ..? gak berat ..?, gak niat cari kerjaan lain gitu..? saya lihat nak Anwar masih sangat muda , baru lulus sekolah yaa..?" beliau bertanya di sela sela kesibukannya menata belanjaan yang kalo kulihat mungkin bukan dari pasar tapi dari super market.


"Ya sebenarnya pingin juga sih Bu cari kerja lain, tapi sudah ngelamar kerja di pabrik mana mana belum ada panggilan sama sekali. " jawab, sambil meminum kopi yang masih agak panas.


"Ini maaf lho ya nak Anwar sebelum nya.., kalo misalnya nak Anwar saya minta jaga di toko saya Nak Anwar mau tidak ??" terus terang saja aku kaget mendengar itu, beliau baru saja menawariku pekerjaan?? benarkah yang ku dengar ini


"Maaf bu mungkin saya salah dengar, maksud ibu saya kerja di tempat ibu gitu ..?" tanyaku meyakinkan diri. Beliau tersenyum mendengar ketidak percayaanku


"Ohh.. tidak tidak .. saya senang Bu.., tapi benar saya bisa kerja di toko ibu ..?" aku masih saja tidak percaya


"Iya sekalian kalo nak Anwar bisa saya mau minta nak Anwar ngajarin anak saya belajar, nanti saya tambah , hitung lain lagi upah nya.. gimana . ??" aku semakin melongo tak percaya. mungkin wajahku ini sudah berwarna merah karena kegirangan.


"Ah iya Bu, mau mau.. saya mau Bu.., tapi kalo yang buat ngajarin belajar saya gak tahu bisa apa enggak Bu.. soalnya saya cuma lulus SMA ..!" Jawabku.


"Mas Rendy nya kan sekolah nya masih SD, ya saya percaya lah nak Anwar pasti bisa..!"


"Saya akan coba Bu, tapi gak usah di hitung Bu.. yang buat ngajarin belajar, kan saya bukan guru les profesional..!??" aku malu malu

__ADS_1


"Ya sudah .. yang penting nak Anwar sudah setuju, hal lain bisa di bahas belakangan.." sahut nya. " Oh iya... nak Anwar tinggal di mana..? bisa tidak kalo nak Anwar tidur sekalian di sini saja..??" tawarnya. oh Tuhan demi apapun, ini seperti ketiban durian rasanya, manis manis sedap.


"Ya Tuhan, apakah ini jawaban dari doaku , yang kebingungan harus bayar sewa kos beberapa hari lagi..?" . aku seperti merasa Allah memang sengaja Ibu itu padaku


"Mau tidak nak Anwar..? di belakang ada kamar kosong, jadi kalo nak Anwar mau, saya tidak lagi bingung kalo misalnya nanti mau pulang kampung..??" aku masih setengah tak percaya dengan yang kuterima hari ini. sungguh indah rencanamu Tuhan


" Iya Bu tentu saja saya mau.." Jawabku bersemangat.


"Ok kalo gitu deal ya, mulai hari ini nak ..!!"


"Anwar saja Bu.. " potongku agar ibu itu tidak menyertakan kata *nak* dalam setiap panggilan nya.


"Ah ya sudah .. Anwar kalo gitu sana sarapan dulu ke dapur , setelah itu saya akan ajarkan kamu di toko. !" tandasnya. aku spontan bersujud syukur , tak peduli walaupun ibu itu heran melihatku.


"Alhamdulillah ya Allah...


terimakasih Bu terima kasih sekali ibu mau memberi kan pekerjaan dan tempat tinggal pada saya..!!" aku menjabat dan mencium tangannya.


"Eh... maaf Bu, saya tidak sengaja menyentuh tangan ibu, saya refleks begitu saja karena terlalu bahagia ," ungkapku jujur, aku agak takut setelah menyentuh tangan nya.


"Tidak apa apa anak saya juga biasa seperti itu, " jawabnya. tentu saja beda dalam pikiranku. karena aku hanyalah orang asing yang baru saja di tolongnya.


"Oh iya , nama saya Farida, kamu panggil saya ibu saja ya..!!" ucapnya, aku mengangguk mengiyakan. setelah itu Beliau mengajakku ke dapur, untuk makan , awalnya aku ragu , karena di meja itu, terlihat sangat wahh, apa iya aku akan makan satu meja dengan Beliau dan juga putranya yang saat itu ada di sana sedang minum susu coklat. tapi beliau mengatakan kalau memang sudah biasa para karyawan nya makan satu meja dengan majikan. Beliau tak pernah membedakan status seseorang, sungguh mulia sekali , membuat ku makin kagum pada ibu yang akhirnya kutahu bernama ibu Farida itu

__ADS_1


__ADS_2