
Aku masuk kembali ke dalam toko setelah melepas kepergian pelanggan pertama pagi ini dengan hati riang
"Pak gimana pak , saya sudah bisa dong dengar cerita tentang bu Farida..?" aku berjalan dengan riang ketempat Pak Anwar. dia mendengus malas
"Kesepakatan nya seratus potong Mayaaa,..? emang sudah seratus ??" tanyanya tak mau di bantah
"Ish tapi kan udah lumayan , jam segini dah laku lima puluh lebih.?" pasalku, aku agak kesal karena kali ini pak Anwar tidak bisa di nego sama sekali. "Kenapa sih bapak hari ini pelit sekali.." rajukku. entah kenapa sosok Bu FARIDA benar benar membuat ku penasaran.
"Sudah jangan manyun , sana ke depan lagi, mana tahu kamu benar benar bisa dapat Seratus sampai jam makan siang !" usirnya setelah menghitung uang yang baru saja keserahkahkan padanya kemudian mencatatnya dalam buku besar dan memasukkannya kedalam laci meja, membuat ku tentu saja bertambah manyun.
"Eh tunggu... !!" serunya membuat ku langsung berbalik menghadapnya, padahal baru saja beberapa langkah aku hendak meninggalkan tempatku
"Ahh.. akhirnya dia luluh juga, " gumamku yang segera kembali mendekat padanya, dengan sungguh ceria karena rasa penasaran ku akan segera terhapus. "Ya pak,..!" sahutku
"Kamu tadi ngasih kado buat anak itu ??" tanyanya. aku melongo. sungguh jauh sekali dari bayanganku. kok malah itu yang dia tanya kan.
"Iya pak " jawabku masih agak bingung kenapa itu yang di bahas
"saya akan potong itu dari gajimu bulan ini,!!" tegasnya
"Eits ... jangan salah ya pak... itu tadi kan sudah saya hitung dan saya bayar dengan tips yang di kasih sama ibu tadi terus saya tambahin uang dari kantong saya wleee.." aku jawab tidak terima. " Kan uang yang saya kasih ke bapak tadi tiga juta dua ratus enam puluh tiga ribu,.??" lanjutku lagi
"Oh... kirain kamu lupa .." ucapnya enteng seakan tanpa dosa. apa katanya? lupa ?
"Ya sudah aku cuma nge tes daya ingat kamu saja. " lanjutnya, demi apa coba..? dia pikir aku pikun ? sampai sampai uang yang baru ku keluarkan dari kantong pun bisa lupa ? aku menggeram kesal dengan tangan terkepal di samping badan dosa gak sih kalau aku pingin ngumpat..??
"Kirain tadi bapak manggil mau cerita tentang Bu FARIDA..??" rutukku..
__ADS_1
"Belum waktunya.. selesaikan dulu tantangan dari saya..! " jawabnya, "Yang kamu minta itu sesuatu yang spesial jadi tantangan nya juga gak boleh main main " tambahnya.
aku menghembuskan nafas kesal dan berbalik untuk kembali ke depan
"Maya,...!! saya bilang tunggu..!" panggil nya lagi
"Apalagi pak...?!" geramku kesal, sudah di buat penasaran, masih juga di permainkan.
"Saya tadi kan tanya kenapa kamu belikan hadiah untuk pembeli...?!!" rupanya dia masih penasaran dengan hal itu. "Terlebih dia itu baru pertama kali juga berkunjung ke toko ini kan ??" lanjutnya
"Ya gak papa pak ...cuma pingin ngasih aja." Jawabku
"Alasan nya ..??"
"Emang ngasih sesuatu ke orang harus pakai alasan.. ya pak ..??" dia menghela nafas kasar karena pertanyaannya tidak mendapat jawab an
"Tidak harus ...! tapi selalu ada alasan dari seseorang dalam melakukan sesuatu.." tandasnya
"Kamu gak merasa rugi..?? dia orang asing lho..?" entah kenapa aku merasa dia sedang memancingku. aku menggesah malas, bodo amat dia mikir apa
"Ngapain merasa rugi ??, saya bahkan pernah memberi kan hampir seluruh gaji saya pada orang yang salah. " aku bergumam pelan yang entah apa dia mendengar atau tidak
tapi itu benar, bukankah lebih hebat anak kecil itu tadi , menyalurkan rejekinya untuk panti asuhan , bukan untuk... ah sudahlah aku tak mau ingat itu lagi
"Oh my god ... ini serius Maya..?? serius kamu masih membiarkan hatimu memikirkan lelaki keparat itu..??" sentaknya yang mungkin enggan melihatku yang tiba tiba mellow. kenapa jadi dia yang seperti nya geram dan marah pada Arman
"Siapa yang mikirin dia pak..?? saya kan cuma teringat dia sekilas saja..??" bantahku. "lagi pula juga ian saya sudah janji buat gak mikirin dia lagi, gak perlu juga meratapi dia .." tambahku sambil berlalu. aku tahu pak Anwar masih memperhatikanku, tapi aku terus kan langkah ke depan karena kulihat ada dua orang cewek berseragam SMA memasuki emperan toko.
__ADS_1
" Ya mari kak... mari apa yang mau di cari , di sini semua ada lho.." ucapku menyambut mereka
"Mbak kalau batik solo ada gak mau buat prakarya di sekolah " tanya satu di antara mereka
" Ohh.. ada kak, semua ada , mau batik solo, batik jepara, batik... bla... bla ...bla... semua ada... " aku menyebutkan semua yang ada di toko ini. kami pun terlibat aksi tawar menawar yang kemudian deal , dengan kepuasan bagi kami.
Aku merasa lega , toko ini memang terkenal dengan harga miringnya, dan itu membuat toko kami jadi tempat tujuan bagi mereka yang membutuhkan terutama dalam jumlah besar.
aku melirik jam tangan yang menunjuk kan angka sembilan . entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh , tapi kemudian tak kupikirkan lagi karena aku mulai di sibukkan dengan pembeli yang berdatangan, ada pembeli baru seperti si ibu dan anak tadi, ada juga memang pelanggan sejak lama. hingga tanpa terasa waktu menunjukkan jam makan siang. aku merasa tubuhku agak lelah ,
aku bergegas membereskan dagangan ku yang berserak di lantai karena selalu seperti ini. mereka yang berdatangan itu selalu lebih suka jika memilih dengan menggelar semua di lantai, mungkin lebih nyaman, apalagi ruangan ini ada kipas anginnya, jadi tidak terasa gerah
aku mulai menghitung catatan barang yang terjual separo hari ini , dan aku surprise luar biasa, aku berhasil menjual hampir dua ratus potong ini tadi. sehingga tanpa terasa aku melompat kegirangan. demi apa aku berhasil memenangkan tantangan dari pak Anwar.
"Pak ini sudah lebih dari Seratus sampai jam makan siang, ayo cerita pak ...!!" kejarku menagih janji
"Makan siang dulu... karena cerita juga butuh tenaga ." ucapnya sambil menunjuk sebuah nasi kotak dengan dagunya, sedangkan dia sendiri sudah mulai menyuap makanan ke mulutnya.
"Bapak beli nasi empal buat saya..?? kok bapak baik..??"
"Emang selama ini saya gak baik..?! memangnya siapa yang ngasih makan kamu tiap hari...??" aku meringis menunjuk kan deretan gigi yang sudah kesikat bersih tiap hari, iya betul memang dia bis yang baik. yang tak pernah membiarkan karyawannya kelaparan
"Eh pak.. ini tadi sudah laku hampir dua ratus potong lho pak.. berarti saya berhasil kan pak ..??" sela ku sambil mengunyah makanan
"Sudah tahu .. memangnya apanya yang aneh.. tiap hari juga gitu kan ?? " jawabnya santuy, aku terdiam mencerna. hingga kunyahanku terhenti dan refleks aku menoleh padanya dengan hati geram , demi apa aku di kerjain dia lagi ...serasa ada dua tanduk merah di atas kepalaku. sedangkan dia tetap mengunyah makanannya tanpa terusik
"Terus kenapa bapak ngasih tantangan harus bisa seratus..??!" aku tidak terima
__ADS_1
"Ya gak papa , itu kan cuma tantangan biasa aja. siapa tahu hari ini kamu berniat tidur seharian . saya kan tahu kalo kamu semalam gak tidur ." sungguh kalo saja gak dosa pasti sudah kelemparkan kotak Yang masih berisi separoh ini padanya "sudah lanjut dulu makannya, gak baik marah di depan makanan.!" oh Tuhan santuy sekali dia setelah berhasil membuat ku kesal dan penasaran seharian
kalau di pikir ini memang salahku sendiri. aku yang mungkin nge blank hari ini. hingga tak sadar atau terlupa, bahwa toko ini setiap hari memang ramai dengan pembeli karena toko ini adalah pusat grosir. dengan hati yang masih geram ku lanjutkan kunyahan ku, sungguh boss kurang akhlak biar apa coba dia ngerjain aku, dan parahnya aku yang gak sadar sedang di kerjain. apa se blank itu otakku ini