SETELAH KAU KHIANATI

SETELAH KAU KHIANATI
lamaran Hasan


__ADS_3

"Aku sudah berbicara dengan Marissa " ucap Rendy pada akhirnya.


" lalu bagaimana dengan tanggapan Mbak Risa ?apa begitu saja Mbak Risa mengiyakannya ? yang aku tahu Mbak Risa sudah sejak lama menyukai mas Rendy !"


terbayang dalam ingatan Maya segala tentang Marissa cara daya berbicara tentang Rendy bahkan di album foto Marissa yang berada di ponselnya ada banyak kisah tentang Rendy yang diabadikan


" tentu saja aku sudah berbicara dengan Marissa . Aku bahkan juga meminta doa restu padanya, jadi kamu tidak perlu khawatir ,. Marisa tidak akan membencimu . dia juga sangat paham apa itu perasaan cinta . "


" dia memang berhak mencintaiku , karena kita memang tidak bisa memilih pada siapa hati Kita berlabuh. tapi aku juga berhak menolaknya . Karena hati tidak bisa dipaksakan . Dia tidak punya kuasa untuk mengalihkan hatinya.


sama seperti aku tidak punya kuasa untuk mengalihkan hatiku . sudah sejak lama aku tahu kalau Marissa memiliki ketertarikan padaku, sejak lama pula Aku berusaha untuk membalasnya . bahkan sebelum kedatanganmu tapi aku benar-benar tidak bisa .


nyatanya aku lebih tertarik padamu bahkan sejak pertama kali kita bertemu .!"


" apa yang membuat mas Rendy tertarik padaku ?*


" aku tidak tahu . tapi aku tidak bisa membohongi hatiku , setiap kali kita bersama ada debaran yang aneh di dalam jantung ini . dan setiap kali kita tidak bersama ada kerinduan ada keinginan yang untuk bertemu yang begitu kuat.


Maya menatap lekat wajah Rendy diperhatikannya serat mata itu tak ada kebohongan di sana sumpah demi apapun ini pertama kalinya Maya melihat Rendy berbicara secara panjang lebar. dan itu adalah tantangannya tentang ungkapan perasaan cintanya untuknya


" jadi bagaimana apakah kau menerima aku ?!"


"sejujurnya saja Maya juga memang memiliki ketertarikan terhadap mas Rendy. tetapi memang Maya tak pernah berani mengungkapkannya . karena Maya ingin menjaga perasaan Mbak Risa. . kalau mas Rendy memang benar-benar serius ingin melamar Maya , Maya tidak keberatan . tapi Maya ingin berbicara dengan mbak mirasa lebih dahulu. saya ingin berbicara dari hati ke hati dengan mbak Risa jawab Maya, tolong berikan waktu tolong berikan waktu untuk Maya mas..!"

__ADS_1


" tidak perlu karena aku sudah mendengarnya .!" sahut satu suara yang mengagetkan Maya . Maya pun sontak berdiri , menengok kekiri dan ke kanan mengedarkan matanya ke sekeliling restoran tempat dia masih duduk bersama Rendy tapi tak ada siapapun di sana


"Mbak Risa... Mbak Risa... apa itu kamu Mbak ... tolong keluarlah Mbak ... Mbak Risa ada di mana ?" teriak Maya


"baiklah baiklah aku akan keluar tapi jangan kaget ya kalau aku sudah keluar..!" seru suara itu lagi.


Maya yang masih penasaran masih tetap berdiri , tak hendak duduk kembali , diedarkannya pandangannya ke sekeliling restoran , hingga matanya menangkap satu pintu yang terbuka dari arah samping kanannya . dan dari pintu yang terbuka itu ada beberapa orang yang masuk beriringan bersama-sama .


Maya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya. , disana ada semua anggota keluarganya ada ibu Farida, mas Anwar , Iqbal Metta , Marisa, istri, dan anak-anak Anwar.


"cie yang lagi dilamar cie..." kode Marissa yang langsung menghampiri memeluk Maya. "ayo Dok duduk ya senang ya cie mukanya merah cie..." sambung Marisa


Maya secara spontan memeluk tubuh Marissa erat, ada air mata yang ingin ditahannya karena begitu bahagia tapi dia tidak bisa dan air mata itu langsung saja membasahi pundak Marisa.


"apaan sih dilamar kok mewek... ?!" celetuk Anwar. "udah gak usah nangis-nangis, harusnya kamu itu seneng, ketawa-ketawa, happy-happy, bukannya nangis mellow kayak gitu , karena sebentar lagi kamu sudah bukan dagangan. kamu sudah lakukan sekarang.!" goda Anwar lagi. yang sontak membuat Maya melepaskan pelukannya dari Marissa.


"Ibu ... lihat itu mas Anwar ... dia itu selalu ngejekin Maya Bu . dia itu selalu saja bilang kalau Maya ini tidak laku.. ?!" rengat mayat dengan manja nya, membuat mereka semua yang ada di tempat itu sontak tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Maya.


"Memangnya kamu yakin mau menerima lamaran Rendy ? , apa kamu tidak akan menyesal nantinya? Dia itu orangnya terlalu kaku, lihat saja itu . mana ada orang melamar dengan wajah dingin dan datar seperti itu. "


"Iqbal stop..! kalau kau masih bicara lagi aku akan melemparmu dari restoran ini !" sahut Rendy memotong ucapan adik angkatnya.


" memang benar kan apa yang diucapkan Iqbal ? memangnya ada yang salah ? mana ada orang melamar cewek seperti kamu itu ? di mana-mana yang namanya ngelamar cewek itu bawa cincin bawa kembang bukan kayak kamu , ngelamar cewek kok bawa kanebo kering, apaan itu ?! " sahut meta. yang suka ikutan asik menggoda Rendy sedangkan Maya sendiri malah hanya bisa celingak-celinguk, sambil memperhatikan wajah Rendy

__ADS_1


" iya beneran lho Maya ...padahal tadi di rumah sudah kami beri kuliah panjang lebar , bagaimana cara melamar cewek yang romantis itu .!"


"Risa jangan ikut-ikutan kurang ajar kamu ya , Aku ini lebih tua darimu. jangan ikut-ikutan kurang ajar seperti mereka." potong Rendy menghentikan apa yang ingin diberitakan oleh Marisa.


Maya memandang ke arah Rendy dan tatapan mereka beradu. demi apa Maya bisa melihat wajah Rendy yang memerah tersipu karena malu . dengan gurauan gurauan yang terlontar dari mulut saudara-saudaranya. sungguh itu bukan wajah Rendy sehari-hari , di mana wajah dingin dan datar itu tersembunyi . kenapa berganti warna tomat matang yang ada di sana.


"jadi semuanya ini tadi sudah tahu kalau mas Rendy mau melamar Maya ??" tanya Maya pada akhirnya karena tidak ingin penasaran lagi


"tentu saja kami semua sudah tahu, orang memang kami yang menyuruh Rendy membuat kejutan buat kamu kok ?!" kali ini Bu Farida yang mengeluarkan suara.


"Paman Rendy benar-benar tidak seru . masak Paman kalah sama film-film itu.?" itu adalah suara Hasan anak bungsu Anwar yang kini berusia 7 tahun. Hasan maju ke depan dan mengambil tangan Maya. Maya pun menunduk menghadap ke arah anak itu yang tingginya sebatas perutnya.


bahkan bukan hanya maya semua orang menatap ke arah Hasan yang kini menekuk satu lututnya di hadapan Maya. dan entah dari mana bocah itu mendapatkannya di tangannya kini sudah ada satu buket bunga mawar dan 1 kotak perhiasan


" bibi Maya maukah kau menikah denganku...?" suara Hasan yang mengejutkan semua orang


"Hasan...!" bentak Rendy merasa tidak terima


" ah maaf Bibi, maksud Hasan .. bibi Maya maukah bibi Maya menikah dengan pamanku yang kaku itu ?!" tunjuk Hasan ke arah Rendy.


"Dia itu memang orang yang tidak asik, Dia itu orang yang kaku seperti jemuran, biarkan Hasan yang mau menggantikan dia untuk melamar bibi . bibi mau kan menerimanya walaupun dia itu kaku seperti itu , tapi dia baik hati bibi.!" ucap Hasan lagi yang membuat Maya menutup mulutnya sambil tertawa sungguh lucu ucapan anak kecil ini


"Hasan kamu mempermalukan Paman ya..?!" sentak Rendy lagi dengan geram.

__ADS_1


"aku tidak mempermalukanmu paman ..! aku ini sedang menolongmu ..! "


"bibi kalau memang bibi menerima Paman ambil cincin ini . tapi kalau bibi lebih memilih menerima Hasan ambil bunga ini..!"


__ADS_2