SETELAH KAU KHIANATI

SETELAH KAU KHIANATI
43 Tentang Maya


__ADS_3

"Jadi bagaimana Bu.. Apakah saya lolos masa percobaan..? tanya Bowo ketika di sana hanya tinggal mereka berdua saja dia dan Marissa.


"apakah pekerjaan ini begitu penting bagimu ??" Marisa menjawab pertanyaan dengan pertanyaan


"tentu saja ! saya merantau ke kota dengan tujuan mencari pekerjaan , selain karena fotografi memang adalah hobi saya . sejak dulu . ya seperti yang dikatakan Maya tadi , dulu saya memang suka sekali bermain dengan kamera-kamera an. !" Jawa Bowo "sejak dulu memang saya bercita-cita menjadi seorang fotografer kondang . hanya saja cita-cita itu terhalang oleh keinginan orang tua saya , yang ingin menjadikan saya pengelola peternakan sapinya. menurut orang tua saya bermain dengan kamera bukanlah satu pekerjaan." lanjutnya lagi.


"apakah kau dan Maya ada hubungan saudara ??!" tanya Marissa


"tidak ada , kami hanya tetangga di desa sana Dan juga teman sepermainan. hanya kadang-kadang sih tidak selalu karena Maya mana sempat bermain dia harus bekerja untuk bertahan hidup "


"sepertinya kamu menyukai Maya ?!" selidik Marissa


"sejujurnya saja di desa kami tidak ada yang tidak menyukai Maya, sebagai seorang anak yang sudah ditinggal meninggal oleh kedua orang tuanya dan dia hanya hidup dengan seorang bibinya itupun bibinya hidup dalam taraf kemiskinan, dia begitu gigih. dia tidak pernah bersedih tidak pernah mengeluh. seolah kemiskinan bukanlah sesuatu hal yang menakutkan baginya. " Bowo menjeda ucapannya matanya menerawang Jauh. " Dia gadis yang ceria apapun keadaannya , dia tidak pernah menangis , tetapi aku rasa itu jika berada di hadapan orang-orang . sejujurnya saja, Aku pernah melihatnya menangis diam-diam. di bawah pohon di tepi sungai . !"


" Waktu itu aku hendak memancing, mendengar suara tangisan di siang bolong , di pinggir sungai, aku bergidik ngeri , tubuhku merinding, dan sejujurnya saja aku katakan ini. Terserah jika Bu risa mau mentertawakan ku. Waktu itu saya kira itu suara dedemit penunggu sungai.!" wajah Bowo memerah menahan malu wajah Bowo memerah menahan malu dengan apa yang baru saja diucapkannya. . sedangkan Marissa sendiri menutup mulutnya untuk menahan tawa agar tak meledak dari bibirnya


"tak ada seorangpun di sana hanya aku yang melihatnya. mungkin saja sebenarnya dia selalu tertawa ceria dan gembira itu hanya untuk menutupi kepedihan hatinya. !" lanjut Bowo. " untuk hal satu ini tentang Maya yang menangis diam-diam, Saya harap ibu tidak menceritakannya kepada siapapun , sesungguhnya saya merasa mungkin Maya akan malu jika ada orang yang melihatnya menangis. !"


"apakah bibi-nya benar-benar miskin ?" tanya Marissa


"iya . mereka tidak memiliki apapun . terkadang mereka hidup dari belas kasihan para tetangga . sedangkan Maya sendiri sebenarnya bukan orang yang ingin dikasihani . dia bekerja serabutan , apapun yang orang perintahkan dia akan kerjakan asal itu menghasilkan uang, untuk bisa memberikan makan kepada bibinya yang tak bisa bekerja, entah itu mencuci pakaian , entah itu bekerja di ladang entah , itu menjadi kuli panggul di pasar , apapun itu . sampai akhirnya mungkin Maya berada di dalam titik jenuh . dan dia meminta izin kepada bibinya untuk merantau bekerja di kota."

__ADS_1


"lalu jika ditinggal oleh Maya pergi ke kota siapa yang merawat bibinya yang katamu tak bisa bekerja itu?"


"Maya menitipkannya pada seorang tetangga , dan Maya berjanji mengirimkannya uang untuk setiap bulannya . pada awalnya Maya meninggalkan kalung satu-satunya peninggalan almarhum ibunya . dia meninggalkan kalung itu di rumah ayahku dan meminta uang untuk ditinggalkan kepada bibinya . waktu itu Maya berjanji bahwa jika dia pulang maka kalung itu akan ditebus lagi, dia meminta untuk kalung itu tidak di jual. Ayah dan ibuku meng iyakan nya karena kasihan . dan memang sekarang kalung itu sudah ditebusnya. " ucap Bowo melanjutkan ceritanya tentang Maya.


"kedengarannya dia benar-benar spesial, ?!" Marisa mencoba menelisik ke arah bawah mencari perubahan di wajah itu.


"dia memang spesial bagi orang orang yang menyayanginya.!" jawab Bowo


"Apa kau pernah jatuh cinta padanya?!" pertanyaan Marisa membuat bahwa tersedak ludahnya sendiri


"hahahahaha.... " bawa tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Marissa. "Bu Risa ada-ada saja, siapapun bisa saja menyukainya .bahkan saya juga menyukainya ." Marisa terkesiap mendengar kalimat itu, kalimat suka yang ditujukan oleh Bowo untuk Maya


"karena kalau hanya sebatas menyukai mengagumi ,Saya rasa semua orang di desa kami memang mengagumi Maya . hanya satu orang di sana yang tidak menyukainya dan itu sebenarnya masih ada hubungan darah atau saudara jauh dari Maya.!" lanjut Bowo lagi


"apakah itu Regita??!" Bowo menduga menatap ke arah Marissa mendengar nama Regita disebut


"Bu Risa juga mengenal Regita?!" tanya Bowo merasa keheranan.


"kami semua di rumah utama mengenal Regita, dan tahu hubungan antara Maya dan Regita. Regita adalah gadis yang berselingkuh dengan kekasih Maya dahulu. sewaktu Maya masih hanyalah seorang pekerja di toko ibu. sebelum Maya menjadi anggota keluarga kami. dan sekarang Regita sudah menikah dengan Arman mantan pacarnya Maya itu." terang Marissa. bahwa hanya manggut-manggut menganggukkan kepalanya mendengar cerita Marissa.


"Maya menjadi anggota keluarga Bu Risa karena dia akan menikah dengan pak Rendy kan?!" tanya Bowo

__ADS_1


"suatu saat kau akan tahu semua tentang pajak itu bukan ranahku untuk menceritakannya kepadamu !" jawab Marissa


"Well... Jadi bagaimana sekarang aku harus memanggilmu? apakah Agung? ataukah Bowo?"


"panggil saya senyaman Bu Risa saja , orang-orang di desa memang memanggil saya Bowo . hanya anggota keluarga di rumah saja yang memanggil saya dengan nama Agung!"


"baiklah kalau begitu aku akan memanggilmu Agung saja, dan oh iya, kamu tidak perlu memanggilku ibu , panggil aku Risa saja toh sepertinya kita seumuran..!" lanjut Marisa


"mana bisa seperti itu ?! kerusakan atasan saya di tempat saya bekerja tidak sopan sekali rasanya jika saya memanggil Bu Risa dengan nama saja.!"


"tidak masalah sama sekali bagiku , karena kau adalah teman Maya , maka kau adalah temanku juga . dan mulai sekarang kamu sudah aktif bekerja di tempatku. kau akan menjadi fotografer di sana . Dan semoga saja nanti cita-citamu menjadi fotografer kondang akan terlaksana , melalui butikku sebagai batu loncatan.!"


"kalau ibu memang sudah menerima saya di tempat ibu tentu saja saya akan hanya bekerja di sana butik Bu Marisa juga bukan butik sembarangan yang saya tahu dari internet yang pernah saya cari butik Bu Marisa bahkan sudah terkenal dan mempunyai cabang di luar negeri disebut sebuah kebanggaan jika ibu mau mempertahankan saya untuk bekerja di tempat ibu. "


"tapi tawanan pekerjaan itu akan aku batalkan jika kau masih saja memanggilku ibu rasanya aku menjadi tua sekali !" gurau Marissa


"tapi...?!"


"no tapi-tapian!"


"baiklah Bu , em... maksud saya Risa..!".

__ADS_1


__ADS_2