
Sementara itu di hotel yang sama, di kamar yang berbeda...
Beberapa waktu yang lalu
" May.. Cepetan mandi sana, nanti baru tidur lagi..!" titah Rendy.
" Bentar lah mas... Badan Maya lemes banget ini... !" keluh Maya.
"Apa ini isyarat pengantin minta di mandikan..?!" sontak Maya berbalik dari posisi tengkurap nya di sofa panjang., suara dingin tanpa nada romantis itu benar benar tak enak untuk di dengar. Rendy sudah mendekat dan dua tangan nya seolah sudah siap untuk mengangkat sekarung beras.
" Itu muka kulkasnya di buang napa mas, ? Ini kita cuma berdua lho , " ucap Maya memelas. Tetapi suara itu seolah masuk dari telinga kiri , keluar lewat telinga kanan. Rendy tetap lah Rendy.
"Baiklah, pengantin ku ingin mandi bersama rupanya, !" ucap Rendy, lalu tangannya mendorong tubuh Maya agar kembali ke posisi tengkurap, lalu dengan cekatan dia membuka resleting di punggung Maya. Tak lupa di lucutinya semua yang menempel di tubuh itu hingga tersisa kacamata dan kain segitiga
Percuma saja Maya memberontak, dia kalah tenaga.
"Masss... Apaan sih lepas.. " Maya berteriak kaget karena dengan serta merta Rendy memanggul nya layaknya karung beras. "Ampun mas.... turunkan .. huaaaa... !" Maya mencoba memberontak dengan menghentak hentakkan dua kakinya, dan juga tangannya memukuli punggung Rendy, tapi apa daya tangannya yang mungil itu bagai seekor lalat di punggung Rendy yang kekar.
Sesampai di kamar mandi, tanpa ba bi bu Rendy langsung memasukkan tubuh Maya ke dalam bak mandi yang sudah berisi air hangat dan sabun Aroma terapi. Dan setelah itu dia yang sedari tadi memang cuma memakai boxer itu pun segera menyusul masuk.
"Ish.. Mas Rendy... Membuyarkan impian ku saja. !" Maya ngedumel, di biarkannya saja Rendy berbuat sesukanya dengan tubuhnya. Mulai dari menyabun , menggosok punggung, mencuci rambut, hingga kepalanya ikut bergoyang ke kiri dan ke kanan, dan seterusnya dan seterusnya. "padahal kan Maya pingin di gendong ala ala princess gitu..?!" gerutunya lagi . "Maya pingin tahu juga rasanya deg deg ser yang kaya di novel novel itu !" dia terus saja mengomel, tapi dia lupa kalau lawan bicaranya adalah tembok.
Dan juga, Dia tidak tahu saja, dalam diam nya, Rendy sedang menahan sesuatu yang bergemuruh dalam dadanya. Berkali-kali dia menelan ludahnya demi menahan sesuatu yang sudah bergejolak dan di tahan ya , sejak dia mulai melucuti gaun Maya. Dia juga pria normal, melihat tubuh polos halus mulus di depan matanya tentu saja jiwa lelakinya meronta. Tetapi dia masih mencoba menahannya
__ADS_1
Karena itulah dia memilih me nyampirkan maya di pundaknya, supaya maya tidak bisa mendengar debaran jantungnya. Di biarkannya saja Maya yang masih mengomel ngomel tidak jelas dengan cerita khayalan nya. Hingga aktivitas mandi selesai. Rendy keluar lebih dahulu dari bath, untuk membilas tubuhnya di bawah shower.
Lalu apa kabar dengan Maya? Dia yang di tinggal begitu saja di bathup melongo , mulutnya menganga, _awas air liur mu menetes May wk wk wk_ menyangga dagunya dengan pinggiran bath sebagai tumpuan sikunya, melihat suaminya dengan keadaan polos di bawah shower.
"Ya Tuhan... Itu perut atau papan, dan apa itu yang mencuat di bawahnya. ?;" gumamnya. *"Kalau sebesar itu apa akan muat jika masuk?"* batinnya. Hingga tanpa sadar dia meraba miliknya sendiri.
Karena asik mengagumi keindahan ciptaan Tuhan, hingga tak dia sadari jika Rendy sudah berdiri di hadapannya dengan tubuh terbalut handuk .
"Apa kau akan tidur di sini ?!" sentak Rendy. Membuat lamunan indahnya buyar.
"Gendong... !" rengek Maya sambil mengulurkan dua tangannya. Huh.. Mimpi jika dia berharap Rendy akan mengabulkan nya. Yang ada Rendy malah menarik dua tangannya agar berdiri, lalu menyeretnya untuk di bilas dengan shower. Setelah itu Rendy memakaikan nya bathrobe lalu kembali memanggulnya , Maya pun akhirnya hanya bisa pasrah, tangan dan kakinya bergelantungan tak lagi meronta , hingga mereka tiba di ranjang, Dan Rendy meletakkan nya. begitu saja di atas ranjang.
Maya cemberut. Lalu membaringkan tubuhnya tengkurap,
"Huaaaa..." Maya berpura-pura menangis dengan memukul mukul kan dua tangannya ke kasur, serta dua kakinya di hentak hentakkan, persis anak kecil minta permen.
Terlebih lagi sebenarnya percuma bersikap sok jaim sejak tadi. _padahal tinggal sikat apa susahnya sih Ren.. Pakai di tahan segala wk wk wk_
Dia mengurungkan niatnya yang semula hendak mengambil baju di walk in clothes. Lalu naik ke atas ranjang dengan menggunakan lututnya.
"Jangan memancing batas sabarku Maya... Atau kau tak akan bisa berjalan besok pagi !" ucap Rendy, dengan menahan geramnya. Dia sudah mati matian bertahan sejak tadi, niatnya agar Maya bisa segera istirahat, tapi tampaknya Maya memang tak ingin di kasih hati.
"Jadi mas Rendy juga sudah gak sabar..?!" Maya sontak membalikkan badannya, lalu duduk menghadap ke arah Rendy. "Yeee... Kita mau malam pertama kan mas..?!" Maya bersorak seperti anak kecil. Rendy mendengus. Istrinya itu sungguh benar-benar di luar dugaannya
__ADS_1
(di luar dugaan reader juga lho Ren, wk wk wk)
tanpa aba aba Rendy mendorong Maya hingga jatuh terjengkang, lalu memposisikan dirinya mengangkang di atas Maya..
"Mas... " Suara Maya lirih. Rendy hanya diam menatapnya. "pelan pelan ya.. Maya takut sakit..!" ucapnya dengan suara bergetar.
Jeduar... Kemana keberanian nya tadi, tadi saja sok sok an .
_Kau yang sudah membangkitkan singa ini..!_ batin Rendy, lalu memulai aksinya dengan memberikan kecupan kecil di leher Maya. Perlahan semakin turun dan lebih turun lagi. Maya merasa badannya panas dingin. Ternyata sikap sengklek nya itu hanya cangkang kura-kura saja. Bagaimana pun dia tetaplah merasa dag dig dug untuk menghadapi masa ter ambil nya kesuciannya oleh pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.
Rendy terus bergerak dengan lembut, berusaha agar Maya merasa lebih rileks tidak merasakan kesakitan.
Dan setelah perjuangan panjang, akhirnya pergulatan itu pun berakhir dengan senyum bahagia di sudut bibir keduanya. Rendy merasa puas, apa yang di tahannya akhirnya sampai juga. Dan juga bersyukur karena menjadi yang pertama bagi istrinya.
"I love you sayang ." ucap Rendy sambil mengecup kening istrinya, sebelum akhirnya tumbang di samping Maya yang terpejam matanya
"Mas....? " panggil Maya dengan mata yang masih terpejam, Maya mendongak karena Rendy tidak menjawab. . Tapi Maya tahu kalau Rendy belumlah tidur
"Mas... ? " masih tak ada jawaban
"Kamu puas tidak...?!"
"Byaar... " mata Rendy yang tertutup sontak terbuka. Lalu sebelah kaki kembali menimpa Maya dan tangan Maya sudah di cekal nya
__ADS_1
"Apa kau ingin aku mengulanginya..?!"
Gelengan kepala Maya mengisyaratkan , gadis yang sudah tidak gadis lagi itu menolak, lihat giginya yang meringis menyebalkan