
Hari-hari menjadi lebih berwarna, setelah kehadiran Renata di kehidupanku, Mungkin benar seperti orang tua dulu bilang. Jika kita sudah menikah pasti kehidupan kita semakin bahagia.
Aku pun terus melaju motorku menuju ke rumah dengan rileks, sambil menikmati hembusan angin malam yang membuatku menjadi santai. Tak terasa aku sudah sampai di depan rumahku. Aku segera membuka pintu dan terlebih dahulu memasukkan motorku ke garasi. Baru setelah itu aku menuju ke kamar.
Dalam bahagianya aku. Aku juga berpikir sampai kapan kehidupan aku begini terus. Masak aku harus hidup begini terus selamanya, Tidak mungkin. Aku yang sedang bicara sendiri sambil mondar-mandir. Aku juga punya cita-cita suatu saat, aku bisa bekerja di perusaan besar yang layak. tidak seperti sekarang yang hanya kerja sembilan dan gajinya tidak seberapa.
Sabar al.. Sabar al. kamu pasti bisa melewati ini semua. Dan semua pasti akan Indah pada waktunya. batinku percaya diri.
Mata ku mulai mengantuk, aku pun sering mengap beberapa kali dan akhirnya terbawa ke alam tidur.
***
Allahuakbar ,, Allahhu akbar,,,
Suara azan telah berkumandang di mesjid dekat rumahku, aku pun segera bangun dari tidur dan bergegas mandi terlebih dahulu.
Aku masih teringat dengan omongan istriku yang mengejek ku, jorok karena aku tidak mandi. Aku pun tidak mau jika hari ini omongan seperti itu terdengar olehku.
Aku pun langsung masuk ke kamar mandi, dan mandi terlebih dahulu. Setelah itu aku baru mengambil wudhu dan keluar dari kamar mandi, untuk melaksanakan salat subuh.
Hari pun semakin cerah aku segera bersiap-siap menggunakan pakaian, dan segera keluar dari rumah menuju garasi untuk mengeluarkan motorku. Aku pun memanaskan motorku terlebih dahulu, barulah setelah itu aku berangkat untuk menjemput istriku terlebih dahulu, karena aku telah berjanji padanya.
Brem brem
Bunyi motorku, aku pun berlalu pergi meninggalkan rumahku. Tiba-tiba ada suara teriakan yang keluar dari rumahku.
"Al kenapa kamu buru-buru sekali. kenapa tidak sarapan terlebih dahulu" sahut ibuku yang berdiri di depan rumahku.
Aku pun menoleh ke belakang sebentar dan lalu berkata.
"Maaf bu aku buru-buru takutnya nanti telat, nanti aku sarapan di luar saja." ucapku agak keras.
__ADS_1
Ibu pun hanya diam saja menatap kepergian ku, Aku pun berlalu pergi dengan mengendarai motorku dengan rileks, sambil menikmati hawa dingin yang merasuki tubuhku. di perjalanan aku menyanyikan sebuah lagi. Kangen band Terbang bersamaku.
Peluk erat tubuhku, sentuh lah jemariku...
Rebahkan sayap-sayap patah mu hu hu hu...
Dan terbang lah bersamaku, tuk melintasi langit ke tujuh...
Bawalah ku ke alam damai mu hu hu hu..
Saat aku larut dalam nyanyian ku, tiba-tiba aku sudah sampai di depan rumah Renata. seperti biasanya. saat aku sampai di rumah renata pasti aku melihatnya yang sudah duduk di depan rumahnya sambil menunggu ku. Aku tidak pernah dibuat olehnya menunggunya.
Gimana teman-teman apa istri atau pacar kalian juga begitu saat kalian menjemputnya? jawab di kolong komentar ya!!!
Aku pun segera memanggil Renata untuk menaiki motorku. Hari ini aku membawa helm dua,
"Sini biar aku pakaikan" ucapku
"Sayang kamu bawa rantang, dalamnya pasti makanan kan, kamu ada bawa lebih untuk ku tidak?" tanyaku yang berharap dia juga melebihkan untukku
"Ada sayang kamu tenang saja, kamu kan sekarang suami ku, aku pasti selalu teringat denganmu" ucap renata santai
Aku pun bernafas dengan lega dan hati ku juga sangat senang. ternyata istriku begitu perhatian sama aku.
"Kamu biasanya menghabiskan dimana isi rantang mu sayang?" tanya ku
"Di ruangan ku bang, nanti kamu masuk saja ke sana kita makan berdua! "ucap istriku
Aku pun merasa sedikit kesal, kenapa istriku hari ini tidak memberi pujian terhadapku. Berhubung diriku sudah Wangi begini.
Tahu nya cuma mengejekku saat jorok saja, saat aku Wangi dia tidak menghiraukan ku, harusnya dia kan juga memujiku batin Aldi seperti anak-anak.
__ADS_1
Akhirnya kami pun sampai di tempat kami bekerja. Aku melihat suasana yang masih sepi berhubung waktu masih sangat awal. Istriku pun segera mengatakan.
"Bang kita makan saja dulu dari isi rantang ku ini. berhubung karyawan lain belum pada datang." ucapnya
Aku pun hanya mengangguk saja, dan cepat-cepat memarkirkan kendaraan ku terlebih dahulu. Setelah itu barulah kami berdua menuju ruangan istriku. Saat tiba di ruangan istri ku, aku mengatakan sesuatu kepada istriku tentang hubunganku.
"Sayang nanti kita kalau di depan orang lain, bersikap seperti biasa saja ya, agar karyawan lain tidak mencurigai hubungan kita."
Istriku hanya mengangguk patuh saja terhadap permintaan ku. karena dia juga telah memahami kondisi ku.
Istriku segera membuka rantang nya dengan satu persatu. Aku pun memperhatikannya dengan teliti, satu persatu bagaimana cara istriku menghidang ku. Tiba-tiba aku merasa nafsu ku muncul begitu saja. Aku pun segera mendekati istriku dan langsung mencium bibirnya,
Istriku yang melihatku menciumnya begitu saja merasa risih dan melepaskannya.
"Sayang tidak enak nanti diliat orang gimana"ucapnya kikuk
Aku pun segera menutup bibirnya dan berbisik di telinga.
"Sudah disini cuma kita berdua lagian kita juga sudah halal."
Lalu aku pun kembali menyosor bibir nya dengan begitu bersemangat. Istriku hanya menikmati saja permainanku. karena dia pun sudah hanyut dalam perasaannya, tiba-tiba.
"Auu!! " teriak mbak Dina yang terkejut saat melihat kami sedang ciuman.
Kami pun juga ikut terkejut dan cepat-cepat melepaskan bibir kami. Aku pun segera menarik mbak dina dan menutup mulutnya agar tidak terdengar oleh orang lain. Aku pun menjelaskan kepadanya agar dia tidak salah paham dan mengira kami mesum.
"Mbak sebenarnya kami sudah menikah. Tapi hubungan kami, kami rahasiakan terlebih dahulu. Berhubung umurku yang masih terlalu muda, dan aku juga lagi menyelesaikan kuliahku." ucapku menjelaskan
"Mbak ingat kan kemarin aku di beri surat peringatan, karena tidak masuk kerja, sebenarnya hati itu kami melangsungkan pernikahan. Aku minta mbak juga merahasiakan ya" jelas istriku
"Baiklah kalo begitu. Tenang saja kalian bisa kok mempercayai aku untuk menjaga rahasia kalian,Yasudah deh lanjut lagi aja ciumannya" ucap mbak dina senyum-senyum terkekeh.
__ADS_1
Kami pun merasa lega, karena mbak dina bisa ngertiin kami. Berhubung suasananya sudah canggung, aku dan istriku langsung melanjutkan makan saja, yang sudah istriku siapkan.