Simpanan Brondong Tampan

Simpanan Brondong Tampan
Aldi Masih Belum Memaafkan Renata


__ADS_3

Montir tersebut pun langsung mengambil koper yang ia bawakan, lalu mengambil beberapa kunci yang akan dia pakai. Ia pun segera mengecek mobil tersebut dengan serius. Sedangkan Aldi hanya diam termenung memperhatikan apa yang dilakukan si montir.


"Mas ini mobilnya harus di derek ke bengkel sebab ada kendala di mesin yang tidak bisa saya tangani disini" Ujar si Montir yang telah memeriksa mobil tersebut.


" Yasudah kalau gitu Mas, nanti akan saya kasih tahu ke abang saya, mobilnya sudah saya percayakan ke Mas saja. Nanti jika sudah siap informasikan ke Abang saja aja." Jawab Aldi


"Baiklah Mas kalau Mas sudah berbicara seperti itu. Sekarang juga saya akan menderek mobil ini ke bengkel saya." Jawab Si Montir lagi.


Setelah Aldi berbicara dengan Si Montir kini ia langsung pergi kembali ke kantor karena hari juga yang sudah sore. Aldi pun segera ke Halte untuk menunggu Angkot yang akan ditumpangi. Kebetulan tempat itu tidak jauh dari Halte.


Aldi pun menunggu dengan sabar, karena sudah 15 menit menunggu belum juga ada Angkot yang berangkat ke tempat tujuannya. Sedangkan Angkot ke arah lain banyak yang sudah lewat di depan mata kepalanya.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya lewat juga Angkot yang berwarna kuning dengan arah yang dia inginkan. Aldi pun tidak membuang-buang waktu lagi, ia langsung naik ke Angkot tersebut.


Di tempat lain,, Renata kini sedang berada di ruang Pak Irfan, Ia heran kenapa Aldi tidak bersama Pak Irfan. Dia heran Aldi kemana karena ia melihat cuma Irfan yang mengendarai motor Aldi sendirian.


"Pak Aldi kemana, kenapa motornya bapak yang bawa" Tanya Renata dengan hati yang gundah, dan penasaran. Wajahnya terlihat cemas, karena ia takut jika Aldi terjadi apa-apa.


"Oh tadi Aldi aku suruh nunggu Montir, mobilku mogok di jalan, tapi aku terburu-buru makanya aku pinjam motor Aldi" Jawab Irfan jujur.


"Oh yasudah kalau gitu, Saya permisi dulu," Ucap Renata.


Baru saja Renata membalikkan badannya dan hendak melangkah kan kakinya keluar, tiba-tiba Irfan memanggilnya kembali.

__ADS_1


"Tunggu kamu jangan keluar dulu, aku ingin bicara sebentar" Pekik Irfan yang menghentikan langkah kaki Renata.


"Kenapa Pak, kamu ingin membicarakan apa?" Tanya Renata sambil menoleh ke arah Irfan.


"Aku hanya ingin minta maaf masalah kemarin, saya harap kamu bisa melupakan masalah itu" Ucap Irfan yang tidak ingin melihat Renata Murung dan bersedih seperti kemarin. Bagaimana juga Renata iyalah orang yang dia suka saat ini. Tak ada seorang pun yang ingin melihat orang yang dia sukai menjadi sedih dan murung.


"Ia Pak saya sudah melupakan itu semua, saya juga berharap Bapak bisa menemukan wanita yang mencintai Bapak" Jawab Renata datar karena ia tidak mau jika Irfan masih berharap padanya.


"Baiklah jika kamu sudah melupakan" Jawab Irfan tapi ia tidak bisa jika harus melupakan atau mencari pengganti Renata secepat ini. Baginya itu tidak mudah.


"Baiklah Pak, jika bapak tidak ada keperluan lagi saya mau keluar" ucap Renata sopan


Irfan hanya mengangguk saja yang menandakan iya, dan Renata juga langsung meninggalkan Ruangan Pak bosnya itu, kini hatinya sudah lega karena sudah mengetahui keberadaan Aldi. Karena tadi ia masuk ke ruangan Irfan hanya ingin mengetahui keberadaan Aldi. Biarpun dia tidak pernah berbicara lagi dengan Aldi tapi Renata selalu mengawasinya.


Tak lama Renata keluar dari Ruangan Pak Irfan, kini Aldi juga sudah sampai di kantor. Dia yang baru saja membayar angkot langsung berjalan dengan kaki masuk ke kantornya. Tapi sebelum ia akan kembali bekerja, terlebih dahulu ia ingin ke ruangan Pak Ifan. Saat tiba di ruangan Irfan Aldi segera memberi tahu apa yang tadi si Montir beri tahu kepadanya.


"Maaf ya Bang aku gagal bikin Renata untuk menerimamu tapi aku sudah berusaha. Ujar Aldi dengan jujur.


"Sudah tidak masalah, sekarang Abang hanya sabar aja terlebih dahulu dan akan kembali berusaha pelan-pelan sampai Renata mau menerima Abang." Jawab Irfan yang tidak mau menyerah begitu saja dengan perasaaannya


"Baik lah bang. Aku juga akan selalu membantu mu karena aku sudah menganggap mu seperti abang kandung ku sendiri." Ucap Aldi yang juga akan selalu memihak ke Irfan.


"Makasih Al"

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan terima kasih dari Pak Irfan, Aldi langsung keluar dari Ruangan Pak Bosnya tersebut tanpa meminta permisi terlebih dahulu.


Kini Aldi sudah berada di ruangannya kembali. Dan akan melanjutkan kerjanya menyelesaikan sketsa cetakan yang hampir saja siap sempurna.


Renata yang melihat Aldi berjalan masuk ke Ruangannya mencoba untuk mengikutinya tapi ia tidak langsung masuk, melainkan mengintip terlebih dahulu apa yang Aldi lakukan. Setelah melihat kegiatan Aldi Renata mencoba untuk masuk dan ingin mendekatkan diri lagi, karena menurutnya. Sudah terlalu lama ia tidak berbicara dengan Aldi.


Tuk tuk tuk


"Permisi!!" Ucap Renata sambil mengetuk pintu ruangan Aldi


"Masuk aja pintunya gak ke kunci" Jawab Aldi yang tidak tahu siapa yang datang ke tempatnya.


Dengan hati yang senang Renata langsung masuk ke ruangan Aldi. Ia memperhatikan sketsa gambar Aldi, Renata sangat kagum ternyata Aldi sangat pandai dalam menggambar. Terlihat sketsa yang digambar Aldi memang sangat Bagus.


Aldi tidak sedikitpun menoleh ke arah Renata bahkan dia juga tidak tahu siapa yang masuk barusan, karena ia terlalu serius menyiapkan sketsa yang hampir selesai.


"Aku tidak menyangka Al gambar mu sebagus itu" Ucap Renata yang berposisi di belakang Aldi.


Mendengar ada suara seorang perempuan dari belakangnya kini ia langsung menoleh memutarkan wajahnya ke arah pusat suara tersebut. Betapa terkejutnya dia saat melihat Renata yang berada di belakangnya.


"Sejak kapan kamu berada disini dan juga ngapain kamu kemari jika tidak ada keperluan" Ketus Aldi dengan nada yang tidak suka, wajahnya juga terlihat sangat masam.


"Bukankah tadi aku sudah permisi denganmu" Jawab Renata yang tidak mau menghiraukan perkataan Aldi. Karena sebenarnya ia juga sudah tahu jika Aldi belum memaafkannya. Tapi rasa Rindu lah yang membuatnya ingin berbicara dengan Aldi.

__ADS_1


"Yasudah kalau begitu sekarang juga kamu keluar, karena jika aku tahu, kamu tadi yang mengucapkan permisi mungkin aku tidak akan menyuruhmu masuk." Ucap Aldi dengan nada yang sangat tegas.


Mendengar apa yang dikatakan Aldi, Air mata Renata jatuh, karena dia tidak menyangka jika Aldi akan mengusirnya begitu saja, dia juga tidak menyangka jika Aldi akan semarah itu padanya. Hatinya seperti ter iris-iris pisau dan di taburkan bon cabe. begitulah rasa sakit yang saat ini Renata rasakan. mungkin jika bukan suaminya lain berbeda.


__ADS_2