
Kini Aldi dan Renata langsung mendorong kan motor mereka ke arah bengkel tersebut yang sudah terlihat oleh mereka. Tapi pas benar, saat sampai di bengkel tambal ban di sana kebetulan ada juga warung jual rujak berada di sebelah bengkel tambal ban.
"Sayang, itu juga ada warung rujak," tunjuk Renata ke Aldi.
"Ya benar sayang, kebetulan sekali ya, jadi kita tidak capek-capek lagi harus cari ke lain tempat." Jawab Aldi.
Kini Aldi langsung menitipkan motor nya ke bengkel yang ada di sana, kemudian mereka segera dengan terburu-buru, menuju ke warung rujak yang berada di sebelah nya tidak jauh.
Mereka dua di balai yang tersedia di sana, balai tersebut terbuat dari kayu dan atapnya menggunakan daun Rumbia, sehingga Indah di pandang dan enak disinggahi, tidak panas.
Sambil menunggu pesanan datang, Aldi melirik ke perut istrinya itu, "Untung aja sayang mamamu tidak harus berjalan lebih jauh lagi untuk mencari keinginan mu" Ujar Aldi sambil memegang perut bininya itu.
"Iya Bang, semoga aja kelak kamu lahir jadi anak yang shaleh dan berbakti kepada kedua orang tua." Jawab Renata yang juga melirik ke arah tangan Aldi yang mengusap perutnya. Ia tersenyum karena merasa bersyukur bisa mendapatkan suami seperti Aldi.
Tak lama mengobrol rujak yang mereka pesan pun sampai. Diantat oleh seorang pelayan perempuan yang sudah berumur, mata Renata langsung mmebelangak melihat rujak yang iya idamkan akhirnya sampai ke tempat mereka.
"Sayang, makan terus nanti kalau kurang biar kita tambah lagi." Ucap Aldi.
"Benarkah?" Tanya Renata sambil menatap lekat ke arah Aldi.
"Tentu benar, apa yang tidak buat kamu dan calon anakku." Jawab Aldi lagi.
Renata langsung melahap seakan dia tidak ingin untuk memberikan kepada orang lain, jika ada yang meminta, karena begitulah rasa keinginannya itu yang dia rasakan.
Aldi tersenyum menatap ke arah Renata, karena ia merasa senang melihat Renata yang bersikap seperti itu, sambil memakan rujaknya Aldi terus saja melirik-lirik istrinya yang makan dengan lahap seperti itu.
"Bang, jangan lihat aku seperti itu dong, nanti kamu keselek gimana?" Tanya Renata.
"Biarin, aku keselek asal bisa mandangin kamu terus ya gak papa, kamu aku perhatiin makin hari, makin cantik saja." Ucap Aldi.
__ADS_1
"Yasudah kalau gitu," Renata langsung membuang muka dan terus lanjut makan, ia sekarang sudah tak menghiraukan Renata.
Mereka sekarang langsung menghabiskan makanan mereka, karena mengingat akan masuk jam kerja lagi dan harus segera pulang ke kantor.
"Sudah habis sayang?" Tanya Aldi.
"Sudah, Bang." Jawab Renata,
"Kalau gitu ayok kita kembali lagi ke kantor, takutnya nanti telat," Ajak Aldi.
Renata mengangguk dan kemudian mengikuti langkah Aldi menuju ke bengkel yang di mana di titipkan motornya.
Di tempat lain.
Dina dan Ari sedang berada di kantin menghabiskan waktu istirahat mereka di sana sambil menyantap bakso,
"Belum saya, kayak nya kita harus bekerja lebih keras lagi." Ucap Dina,
"Hah, bekerja apa maksudmu?" Tanya Ari yang bingung dengan penuturan istrinya itu.
"Ya maksudku kiya harus bekerja buat bikin lagi mas, itu aja kami tidak paham." Jawab Dina.
"Oh kalau itu mah, nanti malam kita gaskeun lagi." Jawab Ari semmeringah.
Dina tersenyum mendengar apa yang di katakan Ari, karena dia melihat Ari yang begitu bersemangat kalau masalah itu.
"Kamu, kalau masalah itu semangat banget ya?" Tanya Dina lagi.
"Terus emang kamu gak semangat, nanti kalau tidak semangat ya gak punya anak." Ari tidak menjawab apa yang di tanya istrinya melainkan iya bertanya balik.
__ADS_1
"ya semangat lah, kan aku juga ingin punya anak." Jawab dina.
Setelah itu mereka saling diam dan dan mengobrol lagi karena mereka sudah akan masuk ke jam kerja, jadi mereka harus mempercepat dalam menghabiskan makanan mereka, agar tidak kenak tegur sama Pak Irfan.
Setelah menghabiskan makanan mereka, kini Ari dna Dina langsung masuk kembali ke ruangan mereka masing-masing. Tapi setibanya di loby mereka bertemu Aldi dan Renata yang juga akan masuk ke Ruangan.
Akhirnya mereka pun masuk bersama ke dalam ruangan mereka masing-masing. Tapi sebelum itu Aldi terlebih dahulu ke panty sendirian untuk membuat secangkir teh yang akan menemani nya bekerja.
Tapi setibanya di sana, tanpa sengaja ia bertemu dengan Pak Irfan, yang juga sedang membuat teh, Aldi merasa heran kenapa Pak Irfan bikin sendiri padahal di sini pegawainya banyak.
"Bang, kenapa bikin teh sendiri, kenapa tidak di suruh bikin sama Ob saja?" Tanya Aldi yang sudah berdiri di dekat Irfan.
Irfan menoleh ke arahnya dan menjawab, "Lagi ingin bikin sendiri aja, makanya aku tak menyuruh orang lain." Jawab Irfan datar.
"Oh yasudah kalau gitu, aku juga mau bikin teh dulu sebelum aku akan bekerja." Setelah menjawab itu Aldi langsung membuat tehnya sendiri di samping Irfan. Irfan hanya menoleh saja ke arah Aldi tapi tak mengeluarkan suara lagi.
Renata di ruangan sedang bekerja, kali ini dia tidak mau terlalu banyak istrirahat takutnya nanti dia akan malas. Ia terus bekerja sambil menatap lurus ke arah layar monitornya. Tangannya terus menari di atas keyboard yang sedang mengetik sebuah surat.
sedangkan Dina di ruangannya juga hari ini giat sekali bekerja tidak seperti biasanya, tapi saat sedang bekerja ia terus termenung karena dirinya belum juga kunjung hamil, setelah melewati beberapa malam panas nya dengan Ari. Dina berdiri dan berjalan ke luar ruangannya, di sana dia melihat Aldi, tapi bukan Aldi tujuannya, melainkan dia akan bertemu dengan Ari, karena secara tiba-tiba dia kangen dengan suaminya itu.
Tiba di sana, dia melihat Ari sedang mengecek beberapa mesin yang ada di sana, Dina tidak bertanya atau menyapa Ari melainkan, ia hanya menatap saja lurus ke arah suaminya itu, awalnya sih dia ingin menyapa Ari, tapi setelah melihat Ari sedang serius dalam kerjanya dia tidak ingin mengganggu nya.
Matanya terus saja menatap lekat ke arah Ari, tangannya memegang dinding pintu, kini rasa kangennya pun hilang setelah lama menatap Ari yang lagi bekerja. Tapi dirinya tak kunjung kembali ke ruangannya.
"Dina," Tanya Ari yang tiba-tiba terkejut melihat istrinya sedang memperhatikan nya.
"Eh, Mas, kamu kenapa tidak lanjut kerja, aku hanya ingin melihatmu saja, makanya aku tidak menyapa mu." Ujar Dina.
"Sudah siap sayang untuk mesin yang satu ini. nanti aku akan kembali lagi mengecek mesin yang lain." Jawabanya.
__ADS_1