
"Kamu aneh deh bang, tadi katanya mau mengajakku ke suatu tempat, tapi kamu sendiri gak tahu tempat yang akan mau kamu ajakan ku." Ngoceh Renata.
Aldi langsung memberhentikan motornya di pinggir jalan, lalu menatap ke arah Renata.
"Kenapa kamu tiba-tiba berhenti di sini?. Emang ini tempat yang kamu maksudkan?" Ucap Renata lagi dengan penuh penasaran terhadap sikap Aldi.
"Bukan sayang, tapi aku ingin melihat dulu yang aku bawa di belakang Istriku apa bukan, karena aku baru saja tadi mendengar ocehanmu yang begitu mengemaskan. Coba dong sayang kamu ulang lagi!!" Goda Aldi sambil menyunggingkan senyumannya dan mengedip mata sebelah.
"Emang kamu pikir kamu lagi bawa tuyul ya. Aku juga baru tahu sekarang ternyata kamu sudah pinter menggodaku ya." Jawab Renata lagi sambil menyerbu Aldi dengan beberapa gelikan mesra di pinggangnya. yang membuat Aldi geli dan tertawa terbahak-bahak.
"Ampun Sayang, ampun." Ucap Aldi yang sudah tidak sanggup menahan tawa lagi.
"Makanya kamu jangan coba-coba mengombalku lagi. Apalagi sampai berpikir kalau yang kamu bawakan bukan istrimu sendiri." Ujar Renata lagi yang langsung saja di tutup mulutnya oleh Aldi dengan mulutnya.
Renata langsung terdiam dan sangat menikmati permainan bibir Aldi, sesekali Aldi juga menyalurkan lidahnya dan beradu dengan lidah Renata. Membuat dua anak manusia ini menjadi sangat bergairah dan sudah lupa jika sedang lagi di pinggir jalan. Tapi mungkin memang lagi hari keberuntungan mereka, karena di jalan tersebut belum nampak siapapun yang melihat adegan mereka, bahkan orang lewat saja belum ada.
Merasa nafasnya sudah akan habis barulah mereka melepaskannya, dan terdiam malu-malu kikuk, seperti orang yang baru pertama kali berciuman saja. Aldi pun langsung membersihkan sisa salivanya di bibirnya dan juga istrinya.
"Ayok sayang kita jalan lagi, aku takut jika kita terlalu lama di sini nanti di grebek warga lagi, karena mereka kan enggak tahu jika kita pasangan suami-istri." Ucap Aldi menghilangkan rasa canggung di antara mereka.
__ADS_1
"Makanya kalau tahu gitu, kalau mau kamu cabuli aku ya liat-liat situasilah bang" Ucap Renata semborono yang membuat Aldi tertawa di sebelahnya.
"Kami kenapa ketawa? Emang ada yang salah dari ucapan ku?" Tanya Renata yang merasa Aldi lagi mengeceknya.
"Gimana aku enggak ketawa, kamu bilang aku mencabuli mu. Kamu ini aneh-aneh saja kata-kata yang keluar dari mulutmu. Ada pula suami mencabuli istri sendiri." Jawab Aldi yang langsung menarik tangan Renata untuk menaiki motornya lagi, lalu Aldi langsung melajukan motornya.
Akhirnya Aldi sampai kembali di tempat dimana dulu Renata dan Aldi pernah ke sana yaitu Taman Hutan Kota. Aldi langsung mengajak Renata ke bangku yang dulu pernah ia duduki di saat ingatan nya belum sembuh. Renata hanya terdiam dan menurut saja kemana pun yang di bawakan oleh Aldi.
Kini mereka pun sampai dan sudah duduk di bangku tersebut. Terlihat Renata langsung merebahkan kepalanya ke bahu Aldi sambil menatap langit yang sebentar lagi akan menggelap, Aldi langsung merangkulnya dan juga ikut menatap langit.
"Sayang bagaimana jika kita jujur saja ke orang tuamu kalau kita sudah menikah.?" Aldi meminta pendapat kepada Renata.
"Kamu nyakin bang mau mengatakan yang sebenarnya sekarang?" Tanya Renata terlebih dahulu memastikan Aldi.
"Bagaimana kalau kita jujur saja dulu ke orang tuaku, karena aku nyakin mereka pasti akan menerima mu biarpun mungkin nanti mereka akan sedikit kecewa karena kita tidak memberitahunya dari dulu." Usul Renata yang juga tidak nyakin sama orang tua Aldi akan merestuinya menjadi menantu.
"Kamu nyakin sayang, tapi aku merasa takut karena sudah terlanjur menikahimu secara diam-diam." Jawab Aldi dengan nada sedikit sendu.
"Tenang saja sayang, aku juga tidak akan membiarkan mu sendiri, pokonya apapun yang nanti di katakan orang tua ku, aku akan selalu berpihak kepadamu, karena sekarang surgaku sudah di bawah telapak kakimu suamiku." Jelas Renata lagi yang membuatku sangat terharu dan melayang beberapa ciuman di keningnya.
__ADS_1
***
Kini Aldi dan Renata sudah berada di rumah Renata dan sedang ikut makan bersama keluarga Renata. Aldi hanya termenung dan melamun saja saat sedang makan. Ia tidak tahu harus mengawali dari mana akan dia yang mau berjujur ke pada sang mertuanya itu. Matanya terus saja menatap ke nasi yang ada di piringnya sedangkan tangannya hanya membolak-balik kan nasi dan lauk yang ada di piringnya, tapi pikirannya sudah berjalan kemana-mana.
"Aldi, kamu kenapa, Ibu lihat sepertinya kamu lagi ada masalah yang rumit?" Tanya Ibu Renata yang melihat Aldi hanya melamun dan memerhatikan saja nasinya itu.
"Eh-eh tidak Bu," Ucap Aldi yang terbata-bata.
"Sudah kamu jangan berbohong, bicara saja sama kami, pasti kami akan membantumu." Gumam Ibu Renata lagi.
Renata yang sudah menyadari apa penyebab Aldi seperti itu, ia mencoba untuk menatap wajah Aldi, dan mengedipkan matanya serta wajahnya ikut mengangguk menyakinkan Aldi yang artinya, kamu pasti bisa Aldi.
Aldi menoleh ke arah Renata dan menekatkan tekadnya untuk membuka suaranya, biarpun rasa takut dan gugup sudah membuncah di dadanya.
"Pak, Bu, sebenarnya saya sudah menikah dengan Renata, saya juga minta maaf Pak, Bu, karena sudah lancang menikahi Renata secara diam-diam." Ucap Aldi dengan nada yang lancar keluar dari mulutnya, dan langsung bangun, bersujud di lutut dari ke dua orang tuannya Renata tersebut. berharap orang tua Renata memaafkannya.
Melihat Aldi yang bersujud dengan lutut di lantai Renata pun mengikuti apa yang di lakukan Aldi, karena dia juga tidak mau Aldi menanggung jawabnya sendirian.
Biarpun Aldi tidak mau melihat Renata seperti itu, tapi ia juga tidak bisa untuk melarang Renata saat situasi sedang seperti ini.
__ADS_1
"Sudah, kalian bangun Bapak sudah memaafkan kalian, biarpun sebenarnya Bapak kecewa sama kalian berdua. kenapa tidak jujur saja dari dulu dengan Bapak, tapi yasudahlah lagian sekarang semua juga sudah terlanjur." Ucap Ayahnya Renata yang kasian dengan Anak-anaknya tersebut. Walaupun sebenarnya ia sangat kecewa karena merasa tidak di anggap olehnya anaknya itu, tapi mau bagaimana nasi sudah jadi bubur.
Aldi dan Renata yang telah mendengar apa yang di ucapkan Bapaknya tersebut, langsung bangun dan menghamburkan pelukannya ke sang Bapaknya tersebut dengan seerat mungkin. Aldi sangat terharu kepada Ayah mertuanya itu, karena tidak sedikitpun memarahinya walau sebenarnya perbuatannya sama Renata sudah sangat keterlaluan.