
Tak terasa hari berlalu begitu cepat. Di mana hari yang di nanti-nanti kan semua karyawan kantor telah tiba.
Tok tok tok..
"Assalamualaikum.." Ketuk seseorang di pintu rumahku. Aku segera bergegas keluar untuk melihatnya,
"Waa'laikum salam,, Eh ternyata kamu bang, ada apa bang pagi-pagi kemari" ucapku basa basi padahal aku sudah mengetahui maksud kedatangannya.
"Ini Al abang mau bilang sesuatu, nanti kita akan pergi liburan ke pantai, tapi abang mau menyuruhmu belanja terlebih dahulu, karena abang berniat akan membakar ayam di sana. Gimana kamu bisa kan karena abang harus beritahu yang lain dulu. Nanti kamu langsung ke kantor aja, kita ngumpul di sana terlebih dahulu. Dan berangkat dengan bus kantor. ucap bang Irfan dengan panjang lebar.
"Baik lah bang aku siap dulu" Ucapku
Lalu bang Irfan memberiku sejumlah uang dan bon yang telah ia tulis, untuk aku belanjakan.
Aku pun langsung bersiap-siap dan bergegas pergi ke pasar, tapi sebelum itu aku menelpon Renata terlebih dahulu untuk mengajaknya, karena aku juga kurang paham soal belanja ginian.
"Halo sayang, bang irfan menyuruhku belanja untuk keperluan liburan, kamu temenin aku ya, aku juga kurang paham masalah ginian. Aku langsung ke rumah kamu ya kamu siap-siap terus." Suruh ku kepada Renata di telpon
"Ya sudah, aku siap siap dulu." ucap Renata ramah.
Aku pun segera mengakhiri panggilan. Akhirnya aku pun berangkat dari rumah menuju ke tempat Renata, tak lama kemudian aku pun sampai di sana. Aku melihat Renata yang sudah di luar langsung menyuruhnya segera naik dan bergegas menuju ke pasar, terdekat.
Di perjalanan kami saling mengobrol.
"Sayang kamu udah di kasih tahu belum sama bang irfan kita pergi naik apa? " Tanya ku sambil mengendarai motor.
"Udah bang, tadi dia menelpon ku juga, sebelum kamu telpon." Ucap Renata kepadaku
__ADS_1
"Oh yasudah siap ini kita langsung ke kantor aja. Nanti dalam bus aku yang duduk di samping kamu gak boleh ada yang lain." Tegas ku sambil senyum-senyum
"Ia ia,, aku juga gak suka duduk sama yang lain. Mending duduk sama suami dapat pahala."Goda Renata.
Setelah mengobrol panjang lebar akhirnya kami pun sampai di pasar. Aku pun segera memarkir kan motorku di sana.
"Sayang kayaknya aku malas masuk ke pasar, kamu aja yang masuk gak papa kan" Tanya ku
"Lah kok gitu, aku gak mau belanja sendirian. lagian ini tugas kamu," ucap Renata ngambek kepadaku
"Tapi sayang..." sebelum aku selesai bicara Renata langsung menyahut kembali.
"Gak ada tapi-tapi pokonya kamu harus ikut." ucap Renata lagi
Akhirnya dengan lemas aku pun mengikutinya belanja, apa yang di suruh Bang Irfan. Tak lama kemudian belanja kami telah siap. Aku dibantu sama Renata menenteng barang belanja kami, berhubung barangnya banyak.
Aku pun segera ke parkiran untuk mengeluarkan motorku, dan berniat langsung ke kantor. Karena kami telah di suruh berkumpul di sana.
"Mbak Dina, Mas Ari, kesini sebentar bantu kami bawa ini, soalnya ini berat dan banyak," Aku menyuruh mereka membantu kami.
Mbak Dina, dan Mas Ari yang melihatnya pun segera menghampiri kami, dan menenteng beberapa barang belanjaan. sehingga kami jadi mudah sedikit.
Kami pun langsung membawa barang tersebut naik ke dalam mobil. Tiba-tiba saat kami keluar dari mobil, Bang Irfan datang.
"Berhubung semua sudah ada di sini. Kita berangkat sekarang ya, Hari ini kita lupakan masalah pekerjaan sebentar" Ucap bang Irfan
Kami yang mendengar itu langsung segera menaiki mobil bus yang telah di sediakan.
__ADS_1
Seperti yang telah ku rencana kan dengan Renata, kami akan duduk bersama. Tapi aku melihat Ari sepertinya dia ingin lebih dulu duduk di sebelah Renata. Aku tidak tinggal diam, dan langsung mendahuluinya, kami pun tersenyum-senyum saat melihat Ari seperti orang kesal dan menuju ke kursi yang lain. Karena tidak dapat duduk dengan Renata. Setelah semua karyawan naik bus yang kami tumpangi pun segera berangkat menuju ke tujuan.
Di perjalanan Renata hanya duduk diam dan sesekali memejamkan matanya, aku yang melihatnya menjadi candu. Sehingga aku melihat waktu-waktu orang tidak melihat ke kami. Aku pun mencium bibirnya dan sesekali tangan ku nakal. Meraba ke bagian sensitifnya, Renata pun hanya menikmati apa yang ku lakukan terhadapnya. Mungkin dia juga berpikir agar orang tidak mencurigai kami.
Setelah tadi Ari tidak bisa duduk di sebelah Istriku, Aku melihat dia duduk dengan, Mbak Dina, mereka pun saling mengobrol satu sama lain.
"Sayang liat itu Ari dia akrab sekali dengan Mbak Dina, bagaimana kalo kita jodohin aja mereka biar dia gak suka dekat-dekat kamu lagi "Ucapku
Renata pun segera menoleh ke arah mereka, melihat dan membenarkan apa yang ku katakan
"Boleh juga sayang tapi kamu punya ide gimana agar mereka bisa berjodoh " ucap Renata
"Aku sih belum punya ide yang cemerlang, tapi setidaknya kita biarin aja dulu mereka sering-sering berdua. Aku nyakin nanti Cinta itu pasti akan tumbuh dengan sendirinya, lagian mereka berdua juga jomblo. Jadi tidak ada salahnya kita bantu dekatin mereka." Jelasku panjang lebar
"Ya sudah aku setuju dengan rencana mu." ucap Renata yang menyetujui rencana ku.
Aku pun segera memberi ciuman ke keningnya, karena merasa dialah istri yang selalu memahami ku dan selalu sependapat denganku.
"Sayang kamu bahagia tidak selama ini denganku, biarpun kamu sekarang seperti Simpanan ku" tanyaku ke Renata
"Aku bahagia sayang, aku gak masalah jika sekarang jadi simpanan kamu, aku akan selalu sabar, dan berdoa semoga bisa melewati semua ini dengan Ikhlas." ucap Renata yang membuatku terharu sampai meneteskan air mata.
Aku yang mendengarnya pun langsung melayangkan beberapa ciuman terhadapnya, tapi untung tidak ada yang memperhatikan apa yang kami lakukan. karena semua orang di dalam bus tersebut sibuk sama kerjaan mereka masing-masing.
Bus pun terus melaju melewati beberapa pemandangan yang Indah, dan mungkin menjadi saksi perjalanan kami.
"Sayang kamu ada bawa air tidak aku haus sekali." tanyaku kepada Renata yang tidak tahu kenapa tiba-tiba haus sekali.
__ADS_1
"Tidak bang aku tadi tidak sempat menyiapkan apa-apa, karena buru-buru belanja sama kamu, tapi kamu sabar aja bentar lagi mungkin kita sampai."Ucap Renata.
Aku pun dengan terpaksa harus bersabar. Tapi benar saja kami sudah hampir sampai. dan pantainya sudah terlihat.