
Mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut sexy Aldi tersebut. Renata terdiam dan tak melanjutkan langkah kakinya untuk menghentikan Aldi. Air matanya mengalir tak tertahan. Hatinya begitu sakit seperti ter iris-iris pisau, bahkan mungkin sakit ini lagi.
Aldi terus berjalan ke depan mencari tempat yang bisa untuk ia menenangkan pikirannya. Ia tak sedikit pun menoleh ke belakang untuk melihat Renata. Sebenarnya Aldi juga merasa sedikit bahagia saat Renata menolak Irfan. Tapi ia tidak tahu kenapa, pikirannya kacau tak bertepi.
Irfan yang melihat Renata menangis sambil memperhatikan kepergian Aldi, ia mencoba menghampirinya. Biarpun sebenarnya ia juga merasakan kekecewaan yang begitu dalam terhadap Renata, tapi ia juga tidak mau memaksakan hati seseorang.
"Rena, Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu bersedih. Jika memang kau tidak mencintai ku maka aku juga akan mencoba melupakan kan mu. Sekali lagi aku benar-benar minta maaf, aku juga mau kita melupakan kejadian ini. Aku mau kita bersikap profesional lagi." Ucap Irfan Sedikit sendu. Tapi ia juga tidak mau menyerah begitu saja.
"Ia Pak, Maafkan saya juga yang tidak bisa membalas perasaanmu." Jawab Renata dengan nada sedih. Tapi ia sedih bukan karena Pak Irfan melainkan kerana Aldi, ia tidak tahu bagaimana hubungan ke depan bersama brondong nya tersebut.
Irfan langsung kembali menghampiri semua karyawannya tersebut. Ia pun mengingat kan agar hal yang tadi mereka liat, tidak ada yang berani memposting ke media, agar semua baik-baik saja.
"Dengar ya buat kalian semua jangan ada yang mengabadikan apa yang kalian lihat barusan, apalagi jika sampai memposting ke media. Jika kalian berani melanggar nya saya tidak segan-segan untuk memecat kalian tanpa pesangon. Kalian dengar semua" Ucap Irfan yang tidak main-main dengan ancamannya.
"Dengar Pak" Jawab kompak semua karyawan yang berada di situ.
"Baiklah, sekarang kalian boleh bubar ketempat kalian masing-masing." Tegas Irfan lagi.
Mereka pun langsung melangkah kan kakinya dari tempat tersebut, dan kembali ke tempat kerja mereka masing-masing.
***
__ADS_1
Seminggu kemudian. Setelah kejadian itu, Aldi tidak pernah lagi berbicara sama Renata, ia selalu menghindar jika akan bertemu dengan Renata. Renata menjadi semakin sedih ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Sebab sampai saat ini kondisi Aldi belum kunjung membaik. Bahkan kemarin Aldi baru saja mengecek kondisi ke Rumah Sakit, tapi kata Dokter masih belum ada perkembangan.
Renata menjadi murung, seperti tak bernafsu untuk melakukan apapun lagi. Saat Di kantor ia terlihat menyendiri dan tak suka bergaul sama karyawan-karyawan lainnya. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri. Seperti Saat ini ia sedang di kantin duduk termenung saja. Sambil menoleh kearah Air yang berada di di depannya. Tangannya mengaduk-aduk Air di dalam gelas tersebut. Tapi berbeda sama pikirannya yang merayap-rayap entah kemana.
Ari dan Dina yang baru saja masuk kantin. Matanya menangkap ke arah Renata yang duduk termenung sendirian di meja pojokan. Mereka pun langsung melangkahkan kakinya untuk menghampiri Renata.
Mereka langsung duduk ikut bergabung dengan Renata, tapi Renata tak menoleh ke arah mereka. Ia tetap saja larut dalam lamunannya.
"Sudah Rena, kamu harus banyak sabar. Aku nyakin suatu saat Aldi akan kembali seperti semula, dan kalian bisa seperti dulu lagi." Ujar Dina yang baru gabung, menyemangati Renata dengan nada sedikit sendu, karena ia juga tidak mau mengganggu temannya itu.
Rena yang mendengar suara seseorang dari sebelahnya ikut menoleh ke arah Dina. "Kapan kalian sudah berada disini, kenapa aku tak melihatnya" Tanya Renata sedikit kaget yang tiba-tiba Ari dan Dina sudah ada di sampingnya.
"Kami sengaja tidak mau mengganggu mu, kami sudah liat dan sudah tahu jika kamu sedang sedih dan melamum memikirkan Aldi." Jawab Dina lagi
"Kami akan selalu ada untukmu renata" Timpal Aldi di sebelahnya, karena ia juga sedih melihat keadaan Renata seperti ini.
"Makasih ya, kalian memang sahabat terbaikku" Ucap Renata yang masih memeluk Dina.
"Yasudah kalau gitu jangan sedih lagi dong. nanti Cantiknya ilang, lebih baik kita ke mushalla saja ayok, udah waktu salat Zuhur ni?" Goda Dina dengan sedikit menebarkan senyuman, Dan juga mengajaknya salat.
"Ayok." Angguk Renata.
__ADS_1
Di tempat lain Irfan sedang berada di sebuah Restaurant ternama. Hari ini ia akan berjumpa dengan seorang klien penting. Tapi sudah sejam ia menunggunya Klien tersebut tak kunjung tiba. Di Juga Sudah menelpon beberapa kali tapi tak ada jawaban.
Kini ia mulai bingung apa yang harus ia lakukan. "Belum juga selesai dengan masalah Renata kini jadi tambah masalah" Gerutunya seorang diri.
Dia merasakan perasaan yang sangat bersalah dengan Renata, setelah melihat keadaan Renata yang selama ini menjadi murung sendiri. Ia merasa Renata seperti itu karena ulahnya. Padahal Renata tidak pernah sedikitpun memikirkannya dan masalah itu lagi.
"Maaf Pak, saya terlambat tadi terkena macet, ponsel saya juga mati karena lowbet sehingga saya tidak bisa mengabari Bapak, sekali lagi saya minta maaf karena telah membuat bapak menunggu." Ucap klien tersebut yang baru saja tiba. Dan memecahkan lamunan Irfan.
Irfan pun langsung menoleh ke arah pusat suara yang baru saja ia Dengar.
"Sudah Pak tidak apa-apa" Jawabnya sembari mengeluarkan sedikit senyuman di bibirnya. Padahal ia merasakan kesal yang amat dalam terhadap kliennya itu, karena sudah tidak tepat waktu. Tapi ia juga bisa berbuat apa-apa karena klien itu sangat penting baginya.
Setelah mendapat jawaban dari Irfan klien tersebut yang bernama Dani kembali menoleh ke arah Pak Irfan. Karena ia merasa Pak Irfan seperti sedang memiliki masalah yang cukup rumit.
"Baiklah pak,, Tapi sebelum kita mulai, bolehkah saya bertanya sesuatu terlebih dahulu" Ujar Pak Dani.
"Silahkan Pak, Bapak ingin menanyakan apa kepada saya?" Seru Irfan
"Saya melihat Bapak seperti orang yang sedang memiliki masalah yang cukup rumit. Bapak terlihat banyak termenung seperti orang banyak pikiran, benarkah?"
"Tadi sebenarnya saya tidak ingin bertanya, tapi hati saya menjadi penasaran dan merasakan gejolaknya" Ucap Pak dani lagi
__ADS_1
"Ia Pak, Saya lagi banyak masalah di kantor, kepala saya menjadi sedikit pusing menghadapinya" Jelas Irfan singkat. yang tidak mau masalahnya di ketahui orang lain. Apalagi diketahui seorang klien seperti Pak Dani yang tidak terlalu dekat dengan.