
Ari langsung memperdalam ciuman hingga menerobos rongga-rongga mulut Dina. Setelah keduanya merasa kehabisan oksigen baru ia melepaskan.
Dina terlihat kikuk, wajahnya memerah, begitu juga dengan Ari. Ari langsung membersihkan sisa-sisa salivanya di dirinya dan juga di bibir Dina.
Ternyata begini rasanya ciuman pertama, pantes saja semua orang sangat menginginkan itu semua. Batin mereka
Sebenarnya Ari masih menginginkan hal yang lebih dari Dina, tapi ia juga tahu jika mereka belum muhrim, makanya sekarang Ari tidak ingin melanjut hal yang lebih dalam lagi.
"Ayok Mas, kita ke kantin?" Ajak Dina setelah membersihkan sisa salivanya.
"Yasudah Ayok" Ucap Ari
Kini mereka berdua keluar sambil bergandengan menuju ke kantin. Setelah kejadian itu mereka seperti sama-sama malu. Tak lama berjalan mereka pun sampai di kantin kantor.
Mereka langsung memesan makanan untuk diri mereka. Ari memesan jus jeruk dan nasi, sedangkan Dina memesan jus Apel dan nasi. Tak lama pesanan mereka juga sampai di meja mereka. Dengan lahap mereka langsung memakannya dan sesekali Dina menyuapi Ari, begitu pula dengan Ari.
***
Berhubung hari sudah siang, Irfan dan Renata kembali pamit ke kantor. Karena Ayahnya Aldi juga sudah sampai di Rumah Sakit, untuk membawa sarapan untuk Ibu dan mereka.
"Yasudah kita makan dulu, ni Om udah bawain makanan kasian mubazir jika kalian tidak makan, karena Om bawanya banyak." Ajak Ayahnya Aldi.
Merasa ada benarnya yang di katakan Ayahnya Aldi. "Baiklah Om" Ucap Irfan dan Renata menyetujuinya.
Kini Ibu dan Renata langsung membuka Rantang yang dibawain oleh Ayah, Renata langsung mengambil beberapa piring untuk semua orang yang ada di sana, Irfan, Ibu, Ayah dan dirinya.
__ADS_1
Setelah Ibu menaruh nasinya ke piring mereka masing-masing. Kini mereka langsung makan dan melahap dengan gesit, siang ini Ibu juga makannya gesit tidak seperti tadi pagi. Mungkin karena lagi rame makanya selera makan Ibu muncul lagi.
Renata yang melihat Ibu makan gesit seperti itu menjadi senang, dan bahagia. Ia juga merasa senang saat bisa berkumpul lagi seperti ini dengan keluarga Aldi, biarpun Aldi tidak ada, tapi ya tetap dia bahagia.
Setelah menghabiskan makanan mereka, Irfan dan Renata kembali meminta pamit ke orang tua Aldi. Kini Irfan dan Renata keluar dari kamar Aldi beriringan, menuju parkiran. Tak lama kini mereka sampai di mobil dan Irfan langsung melajukan mobilnya.
"Irfan, saya dengar kamu dengan Karisa sudah baik kan ya?" Tanya Renata saat di perjalanan.
Irfan yang mendengar pertanyaan dari Renata menjadi linglung tak tahu harus menjawab apa. Jika ia menjawab benar, mungkin Renata akan merasa, jika selama ini ia memiliki perasaan terhadapnya hanyalah pelampiasan semata. Tapi ia juga tidak mungkin berbohong dengan hal yang sebenarnya terjadi.
"Gimana ya Ren, aku bingung harus ngejelasin bagaimana. Aku takutnya kamu salah paham" Ucap dengan hati-hati.
"Salah paham gimana maksud kamu?" Tanya Renata lagi.
Karena tidak mau Renata mengintrogasi nya terlalu dalam lagi, akhirnya ia pun menjelaskan semuanya.
"Ta-tapi Fan saya heran kenapa dia ingin bunuh diri?" Tanya Renata lagi dengan terbata-bata, karena gugup sebab sudah terlalu banyak bertanya ke Irfan.
Irfan pun langsung melanjutkan lagi pertanyaan Renata. "Katanya ia ingin di nikahkan dengan anak sahabat Bapaknya itu, sedangkan ia tidak mencintainya, maka dari itu ia ingin berbuat nekad seperti itu"
"Oh,, iaia Fan, kasian juga ia dia seperti itu?" Seru Renata.
"Ya begitulah Ren" Jawab Irfan singkat karena tidak mau lanjut membahas tentang Karisa lagi. Dia juga bingung dengan perasaannya sekarang, apakah harus mau menerima Karisa kembali atau tidak.
Setelah mengemudi sekian lama kini mereka pun sampai di kantor. Mereka langsung masuk ke ruang mereka masing-masing, dan berpisah di loby.
__ADS_1
Saat Irfan membuka pintu ruangannya, ia terkejut melihat sudah ada Karisa di dalamnya. Karisa langsung bangun dari tempat duduknya saat melihat kehadiran Irfan, ia langsung memeluk Irfan untuk melepas rasa kangennya.
"Kamu sejak kapan sudah berada disini?" Tanya Irfan sambil menatap ke wajah Karisa.
"Tadi baru juga sampai, aku bertanya sama karyawan mu, kamu kemana, karena aku melihat tidak ada kamu di ruang. Terus mereka menjawab kamu ke Rumah Sakit untuk melihat Aldi. Dan aku akhirnya memutuskan untuk menunggu mu di sini" Jelas Karisa jujur.
"Oh yasudah kalau gitu, Emang ada perlu apa kamu sampai datang kesini?" Tanya Irfan lagi
"Kok kamu nanyanya kasar gitu? Emang aku tidak boleh datang kesini?" Tanya Karisa dengan wajah cemberut dan sedikit kesal.
"Bukan gitu Karisa, aku tidak bermaksud seperti itu, dan maaf juga jika menurutmu aku bertanya dengan kasar. Karena memang aku ingin tahu tujuanmu kemari untuk apa?" Jelas Irfan dan kembali bertanya.
"Kan kamu masih bertanya, aku kemari buat apa. Aku kesini itu karena ingin kamu menempati janjimu yang akan menemui orang tua ku" Jawab Karisa yang tambah kesal.
"Ya ampun Karisa aku lupa, aku benar-benar minta maaf" Jawab Irfan sambil menepuk jidatnya sendiri. Karena lupa yang tidak ia buat-buat.
"Yasudah kalau gitu kapan kamu akan ke rumah?" Tanya Karisa lagi dengan memasang wajah cemberut dan membalikkan badannya membelakangi Irfan, sambil tangannya ia lipat di dada.
Melihat Karisa seperti itu Irfan langsung mendekatinya dan memegang pundaknya dari belakang dengan mesra. Mungkin sudah waktunya ia untuk memilih antara Karisa dan Renata. Karena Renata sudah mengatakan jika dulu ia tidak mencintainya maka dari itu. Ada baiknya ia memantapkan dirinya untuk memperjuangkan Karisa.
"Yasudah kalau gitu gimana kalau malam ini aku akan ke rumahmu" Bisik Irfan di telinga Karisa sambil membelai rambutnya.
Mendengar apa yang Irfan katakan, Karisa langsung kembali membalikkan badannya dan menatap lekat wajah Irfan. "benarkah apa yang kamu katakan"
Irfan pun mengangguk tandanya "Benar". Kemudian Karisa langsung memeluk Irfan dengan se erat mungkin karena sangking bahagianya. Irfan pun langsung membalas pelukan dari Karisa tersebut, sebab ia juga ikut bahagia.
__ADS_1
Semoga saja pilihanku untuk memperjuangkan Karisa, adalah hal yang benar, bagaimana pun aku juga tidak bisa menyia-nyiakan orang yang tulus mencintaiku. Batin Irfan.
"Yasudah Karisa aku harus bekerja dulu ya, kamu mau nunggu di sini atau gimana?" Tanya Irfan ke Karisa sambil melepaskan pelukannya.