
Kini Aldi, Renata, Ari dan Dina. Langsung mengambil beberapa peralatan yang akan di gunakan untuk keperluan yang akan di gunakan.
Setelah semua selesai kini Ari langsung menyiapkan mesin percetakan. Sedangkan Aldi mengecek terlebih dahulu mesin cetakan. Setelah menurut Aldi beres. Renata dan Dina langsung langsung mencetak bahan yang sudah disediakan. Bahan yang dipilih harus sesuai permintaan begitu juga dengan jumlah cetakan.
Renata dan Dina sudah bisa memahami permintaan pelanggan dan harus bisa menghasilkan cetakan yang berkualitas tinggi dan sesuai dengan permintaan.
Untuk memenuhi permintaan konsumen tersebut, Renata dan Dina juga membuat list atau rekapan setiap konsumen. Sehingga tidak terjadi miss atau kesalahan. Karena kesalahan kecil dapat membuat kualitas dan performa percetakan menurun. Karena hari ini mereka mencetak dalam jumlah yang sangat besar.
Setelah permintaan pelanggan terpenuhi, Renata dan Dina membuat laporan hasil pekerjaan tersebut. Laporan ditujukan kepada Pak Irfan sebagai bentuk tanggung jawab atas kinerja yang sudah dilakukan. Laporan juga bisa menjadi solusi saat terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.
Renata dan Dina masuk ke ruang Pak Irfan, dengan sebuah laporan di tangannya yang nanti akan di berikan kepada Irfan.
"Pak kami sudah menyiapkan semua tugas, ini laporannya bisa Bapak cek sendiri" Ucap Renata, sambil memberi sebuah laporan yang sudah ia tulis menjadi sebuah makalah. Dan kini ia hanya berdiri sambil menunggu Pak Irfan siap mengecek Laporan tersebut. Mereka juga berharap agar semua baik-baik saja.
"Baik saya cek dulu" Jawab Irfan sambil mengambil laporan di tangan Renata dan langsung mengeceknya terlebih dahulu. Tangannya terus membuka setiap lembar yang akan ia baca dengan teliti. Matanya sangat serius memperhatikan satu persatu lembar laporan tersebut.
"Oh ini sudah benar semua, saya sangat berterima kasih kepada kalian semua karena sudah bekerja dengan baik. Saya juga berharap agar konsumen tidak kecewa dengan perusahaan kita. Yasudah ini sudah jam istirahat kalian boleh beristirahat" Ucap Irfan, wajahnya terlihat berseri karena ia nyakin jika seperti ini kinerja karyawannya. Semakin hari semakin perusahaan akan berkembang pesat.
"Baiklah Pak kami keluar dulu" Ucap Renata dan Dina serentak.
Mereka langsung melangkahkan kakinya keluar dan meninggalkan Irfan seorang diri di ruangnya itu. Saat baru saja keluar Ari dan Aldi langsung bertanya apa yang di bicarakan Irfan.
__ADS_1
"Nanti saja aku jelasin di kanti ayok kita ke kantin dulu." Ajak Renata dan Dina
"Yasudah baiklah" Jawab Ari. Tapi berbeda dengan Aldi karena dia masih bersikap dingin ke Renata. Aldi tidak mau mengikuti mereka. Ia lebih memilih pergi keluar kantin yang ada diluar kantor.
Renata, Dina, dan Ari yang melihat Aldi menolak ajakan mereka hanya membiarkan saja, karena sudah mengerti dengan Aldi. Kini pun mereka langsung berjalan beriringan menuju ke kantin.
Tak lama mereka pun sampai di sana. Ari dan Dina langsung duduk berdua sedangkan Renata duduk di kuris yang berada di depan meja mereka sendiri.
"Yasudah Ren, coba langsung kamu ceritain apa yang Irfan bicarakan di dalam tadi, aku penasaran ni." Tanya Ari ke dengan summeringah
"Tadi kata Irfan dia sangat puas dengan kinerja kita, dan mengecek laporan yang aku buat sama Dina itu doang sih, yakan Dina" Jawab Renata dan juga meminta persetujuan dari Dina. Karena ia tak mau berbohong
"Yasudah ayok kita pesan makanan terlebih dahulu" Sahut Renata
"Ayok" Jawab mereka kompak
Kini mereka langsung menulis menu makanan yang akan mereka pesan di atas kertas. Setelah semua selesai Renata dan Dina langsung mengasihinya ke pelayan kantin.
***
Irfan yang tadinya sudah selesai dengan pesanan konsumen nya segera menghubungi pelanggan tersebut. Ia memberi tahu jika semua pesanannya sudah bisa di ambil. Dia juga sangat senang karena mendapat pujian dari pelanggan nya itu, sebab kinerja mereka yang begitu cepat.
__ADS_1
Setelah selesai bertelponan sama konsumen tersebut tiba-tiba telponnya berdering kembali bertanda ada pesan yang masuk. Irfan segera melihatnya. Ternyata Karisa yang mengirimkan ia pesan. Awalnya ia enggan untuk membukanya tapi gak tahu kenapa hatinya merasa tidak enak akhirnya Irfan membuka pesan tersebut dan begitu kaget saat melihatnya.
"Ini pesan terakhirku. Aku tahu kau sangat membenciku, tapi asal kamu tahu aku tidak pernah mengkhianati mu. Aku bertunangan dengan Anton itu hanya di karena kan paksaan dari orang tua ku. Aku sudah menolaknya terlebih dahulu tapi tetap saja orang tua ku tidak mau mendengarkan ku. Aku sekarang sudah berada di atas gedung A. Jika kau tidak datang kemari sekarang mungkin ini terakhir kali kau melihatku di dunia ini." Ucap Karisa dalam pesan singkatnya. Dan kini ia sudah berada di atas gedung A. Ingin mengakhiri hidupnya, karena ia sudah tidak kuat untuk membohongi perasaannya sendiri dengan berpura-pura mencintai Anton.
Melihat pesan dari Karisa Irfan menjadi panik, ia langsung keluar mengambil mobilnya dan langsung menuju ke alamat yang sudah di berikan Karisa dalam pesan singkatnya tadi.
Hatinya merasa sangat bersalah, karena selama ini sudah tidak mau mendengar penjelasan dari Karisa terlebih dahulu. Ia mengendarai mobilnya sangat terburu-buru. Karena Irfan juga tidak mau terlambat dan tidak ingin Karisa berbuat nekat.
Begitu sampai di lokasi dimana yang sudah di tujukan dari pesan singkatnya itu. Irfan begitu kaget melihat Karisa yang sudah berada di atas gedung tersebut. Ia segera meminta bantuan Satpam di sana untuk segera naik bersamanya ke atas gedung tersebut menyelamatkan Karisa.
Di bawah gedung sudah ramai berkumpul orang-orang sekitar yang melihat di atas gedung Karisa ingin mengakhirinya hidupnya. mereka juga merasa sangat cemas dan meminta kepada Karisa agar tidak berbuat nekat. Karena Karisa sudah merentangkan tangannya di sana dan akan segera meloncat. Semua yang melihatnya merasa sangat panik dan cemas.
Setelah berlari menaiki beberapa anak tangga, akhirnya Irfan sampai juga di atas.
"Karisa!!!, Apa yang kau lakukan kan?" Tanya Irfan
Karisa yang mendengar suara Irfan dari belakang langsung memutarkan wajahnya melirik ke arah suara tersebut. Saat melihat Irfan, Karisa langsung berlari dan memeluknya. Niatnya akan bunuh diri juga sudah ia buang.
Kini ia langsung memeluk Irfan dan menghamburkan tangisan di pelukan Irfan. Irfan yang melihat Karisa sedang histeris seperti itu pun langsung membalas pelukannya. Irfan merasa lega karena sia tidak terlambat berada di tempat Karisa. Karena jika saja dia terlambat mungkin, ia tidak tahu apa yang akan terjadi kepada Karisa.
"Sudah jangan nangis lagi, Ayok kita turun dari sini terlebih dahulu" Ucap Irfan sambil menghapus air mata Karisa yang jatuh di pelupuknya.
__ADS_1