
"Om, Tante. Bagaimana keadaan Aldi sekarang" Tanya Irfan yang baru selesai menyalim mereka.
"Tadi malam baru saja selesai di periksa Dokter. Dokter bilang Aldi seperti ini karena ada sesuatu yang ia paksakan untuk mengingat. Tapi Dokter juga bilang kita harus menunggu dulu sampai Aldi sadar, baru bisa di pastikan semuanya." Ucap Ibu ke Irfan seperti yang ia dengar dari mulut Dokter.
"Yasudah kalau gitu, kita doain yang terbaik aja buat Aldi. Ohia,,Om, tante sudah makan, kalau belum biar saya belikan, karena saya juga belum makan, karena tadi buru-buru kesini?" Tanya Irfan
"Ibu dan Om juga belum makan. Kalau kamu mau beli, beli satu saja buat kami makan berdua, karena Ibu tidak selera makan kalau belum melihat Aldi sadar" Jawab Ibu dengan nada sendu.
"Yasudah kalau gitu, aku pergi dulu untuk cari makanan buat kita" Ucap Irfan dan langsung berlalu pergi meninggalkan mereka untuk sementara.
Renata yang berada disitu, matanya hanya memerhatikan Aldi saja. Rasa cemas dan sayang, bisa terlihat dari bola matanya tersebut, yang kini sudah memerah.
"Rena, Kamu kenapa tidak pernah main ke rumah Ibu lagi?" Tanya Ibu dengan halus. Yang memang tidak pernah melihat kedatangan Renata kerumahnya lagi, setelah Aldi bekerja.
"Maaf Bu, Bukan aku tidak main ke rumah Ibu, tapi belakangan ini di kantor lagi terlalu sibuk. Banyak pekerjaan yang harus di urus, sehingga kami semua terlalu lelah dan tak sanggup kemana-mana." Ucap Renata yang tidak mau Ibunya Aldi itu mengetahui, jika dirinya selama ini sedang bermusuhan sama Aldi.
"Benarkah seperti itu?" Tanya Ibu lagi sambil menatap lekat wajah Renata, karena dia merasa seperti ada sesuatu yang di sembunyikan.
"Benar Bu, Mana mungkin aku berbohong sama Ibu, karena aku sudah menganggap kalian seperti keluargaku sendiri" Elak Renata yang juga merasa Ibunya Aldi mencurigainya.
"Yasudah kalau gitu, Ibu percaya" Jawab Ibu lagi
Melihat Ibunya Aldi yang percaya padanya, hati Renata merasa lega. Kini mereka berdua duduk di bibir ranjang tempat Aldi di rawat. Mereka hanya bisa memandangnya saja di saat-saat Aldi seperti ini.
__ADS_1
Ayahnya Aldi yang tadi mendengar Irfan akan pergi membeli makanan, ia pun ikut dengan Irfan untuk membeli makanan dan makan di sana saja, sebab setelah itu, ia harus pulang untuk membuka warungnya lagi. Biar gimana pun ia tidak boleh juga menutup warung seharian. Nanti takutnya langganan akan minggat, berhubung juga sekarang sudah ada Irfan dan Renata dan juga Ibu yang menjaga Aldi.
Tak lama kemudian, Irfan pun kembali dengan menenteng sebuah kantong plastik besar, yang berisi barang belanjaannya itu.
"Ini Tan, Aku sudah beli makanan buat kalian, tadi saya sudah makan di sana dengan Om." Ujar Irfan
"Yasudah kalau gitu." Ucap Ibu. "Sini Ren, kita makan dulu, ini sudah ada Nasi di beli sama Irfan" Ucap Ibu lagi sambil memanggil Renata yang berada sedikit jauh darinya.
Renata yang mendengar Ibunya Aldi memanggilnya langsung menoleh ke arahnya. Ia sebenarnya tidak enak makan, tapi ia juga tidak bisa menolak ajakan orang tua. Nanti malah di anggap tidak menghargai.
"Ia Bu" Jawab Renata dan langsung menghampiri Ibunya Aldi.
Kini Ibu dan Renata langsung mengambil satu persatu nasi gurih dalam bungkus. Renata langsung membuka dan memakannya, berbeda dengan Ibu, ia hanya membuka saja dan melihat-lihat saja nasi tersebut. Rasanya ia tidak ingin makan karena memang selera makannya benar-benar hilang.
"Ibu tidak selera Ren. Nafsu makan Ibu hilang jika Aldi seperti ini" Jawab Ibu sambil menunduk kebawah karena teringat akan Aldi.
"Sudah Bu jangan seperti itu, Ibu juga harus makan, nanti kalau Ibu sakit gimana, siapa yang akan merawat Aldi" Bujuk Renata
"Sini aku suapin Bu" Ucap Renata lagi.
Renata langsung mengambil nasi dengan sendoknya dan menyuapkan ke mulut Ibu mertuanya itu. Ia sangat senang karena Ibu tidak menolak suapan darinya.
Melihat Ibu seperti itu dia seakan tidak mau pisah dari Aldi, karena dia sudah sangat menyanyangi Aldi dan keluarganya.
__ADS_1
"Makasih ya Ren. Kamu sudah ada di samping Ibu saat-saat Ibu seperti ini" Ucap Ibu ke Renata dengan raut wajah sedih.
Kini Ibu pun mulai sedikit-sedikit melahap nasinya, biarpun sebenarnya memang ia tak berselera, tapi dia juga tidak boleh membuang-buang makanan karena sayang akan mubazir.
Setelah mereka makan, Renata langsung membuang bungkus nasinya dan juga punya Ibu, ke tempat sampah.
***
Ari dan Dina kini mereka sedang bekerja di kantor, hari ini merasa sangat sepi karena Renata dan Aldi tidak ada di sana. Tapi mereka juga senang karena tidak ada Pak Irfan di sana, jadi mereka bisa sedikit berhura-hura sambil bekerja. Sebab jika ada Pak Irfan sudah pasti mereka harus bekerja dengan serius.
Kini di saat jam sudah istirahat pagi, Ari dan Dina ingin ke pantry terlebih dulu, baru setelah itu akan ke kantin. Karena tidak ada Bosnya mereka dengan berani bergandengan tangan di dalam kantor.
Seperti saat sekarang Dina yang lagi membuat secangkir kopi untuk dirinya dan Ari. Ari malah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ia memeluk Dina dari belakang dengan mesra, yang membuat Dina terkejut.
"Mas jangan gitu, nanti jika ada yang liat gimana" Bisik Dina dengan sedikit ketakutan dan gugup.
"Sudah tidak apa-apa, gak ada yang liat disini cuma kita berdua, berhubung juga Pak Irfan lagi ke Rumah Sakit." Jelas Ari.
Mendengar hal itu Dina mulai terdiam, karena memang benar apa yang di katakan Ari, hanya mereka berdua saja yang berada di sana.
Ari yang melihat Dina sudah tidak menolaknya lagi langsung memperkuat pelukannya tersebut. Dan juga sesekali mencium leher Dina, sehingga Dina melayang kemana-mana. Merasa tak puas sampai di situ, kini ia membalikkan badan kekasihnya itu ke arahnya, sehingga kini mereka sudah berhadapan.
Kini wajah mereka saling tatap-tatapan, terlihat wajah Dina bersemu kemerahan karena merasa malu. Ari yang melihat Dina tersemsem malu, langsung menempelkan bibirnya yang kenyal itu ke bibir Dina yang berwarna merah muda.
__ADS_1
Dina sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Ari terhadapnya, tapi ia juga tidak bisa menolak perlakuan Ari, karena dia juga merasakan gejolak yang sangat berbeda di dirinya. Karena baru kali ini dia berciuman dengan lelaki, sebelumnya ia tidak pernah dan juga tidak tahu bagaimana rasanya.