Simpanan Brondong Tampan

Simpanan Brondong Tampan
Dina Dikerjai Renata


__ADS_3

Akhirnya Irfan pun menjelaskan sama Om dan Tantenya itu, kenapa ia bisa menikah secepat ini, ia pun memulai cerita dari awal Karisa yang ingin bunuh diri, sampai ke pada mereka memergoki calon suaminya itu, dan hingga dia yang menggantikan menjadi calon suaminya Karisa.


Setelah mendengar apa yang di ucapkan Irfan, kini Om sama Tantenya mulai paham dan menyetujui hubungan mereka.


"Tapi, bagaimana dengan orang tuamu, apakah mereka akan pulang?" Tanya Ibu Aldi.


"Tidak Tan, katanya mereka terlalu sibuk dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka. Aku hanya bisa bersabar mendengar itu walau hatiku juka sedikit luka, karena orang tuaku tak bisa hadir." Jelas Irfan lagi dengan nada yang sendu.


"Yasudah, kamu jangan sedih lagi, kita semua ini ada untukmu, dan Om sama Tante bakalan mengganti kan orang tua mu nanti, kalau kamu setuju." Ibu Aldi memberi saran, karena ia juga merasa kasihan sama Irfan.


"Terimakasih Tan, aku pasti setuju, karena aku udah anggap kalian sebagai orang tuaku sendiri." Walaupun ia sedih tapi ia juga sedikit lega karena masih memiliki Om sama Tantenya.


Om sama Tantenya pun tersenyum mengangguk, Irfan yang merasa bahagia, iapun langsung bangun dari tempat duduknya dan langsung memeluk Tantenya itu. Tantenya pun membalasnya sambil mengusap kepalanya.


Setelah berpelukan sebentar akhirnya Irfan meminta izin dan langsung pulang meninggalkan rumah Om dan Tantenya itu. Ibu dan Bapak Aldi pun mengantar sampai di pintu depan dan menatap pergi, kepergian Irfan.


***


Hari telah berlalu, di pagi yang cerah ini mereka semua sudah ke kantor. Hari ini Dina dan Ari juga sudah berada di kantor setelah kemarin pulang dari kampungnya.


Dina pun langsung ke ruangan sahabatnya untuk memberi oleh-oleh yang dia bawakan dari kampungnya itu.


"Renata, ni coba liat aku bawakan apa buatmu." Ucap Dina dengan girang.


Renata langsung menoleh ke arah Dina, ia pun melihat apa yang di bawakan Dina, ia melihat ternyata Dina membawa kue khas Kampungnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa Ren. Apa kamu tidak menyukai apa yang aku bawa." Tanya Dina yang merasa sedih karena sahabatnya itu hanya melihat apa yang di bawanya.


"Aku tidak mau, lebih baik kamu kasih ke orang lain saja." Jawab Renata ketus, ia sengaja berpura-pura tidak mau menerima apa yang di bawakan Dina, karena ia ingin balas dendam ke Dina yang telah mengerjai Aldi.


"Tapi kenapa, kenapa kamu marah sama aku, emang apa salahku?" Tanya Dina lagi dengan suana yang sudah tegang.


Maafkan aku Din, aku hanya berpura-pura karena aku kesal dengan mu. Batin Renata sambil tersenyum dalam hati


"Kau masih tidak tahu apa salahmu. Aku sangat kesal denganmu kenapa kamu berani-berani membohongi Aldi, yang mengatakan aku tidak akan pulang lagi." Ucap Renata dengan sengaja memelototi matanya, tapi ia sesekali membuang mukanya sambil tersenyum saat melihat Dina yang mau menangis.


Tapi Rena, aku hanya ingin membalas sakit hatimu, yang selama ini di perbuatkan Aldi." Jelas Dina yang air matanya sudah keluar.


"Apa aku pernah menyuruhmu, dan kamu kan tahu sendiri Aldi seperti itu karena ia sakit?" Ucap Renata yang semakin menjadi-jadi.


Sedangkan Renata hanya tertawa di dalam hati melihat Dina seperti itu, sampai akhirnya ia mencoba mendekati Dina dan mengambil mukanya sambil mengelap air mata temannya itu, seperti dulu ia yang pernah di lap air matanya oleh Dina.


"Maaf ya Din, aku tadi hanya becanda dan hanya ingin mengerjai mu." Ucap Renata sambil tersenyum dan tertawa melihat temannya menangis karena ulahnya.


"Benarkah, kau tidak marah denganku?" Tanya Dina kembali karena merasa senang karena sahabatnya itu tidak benar-benar marah kepadanya, ia pun tidak ingin membalas Renata lagi karena ia merasa Renata Lah sahabatnya satu-satunya.


Renata pun hanya mengangguk dan memeluk Dina, sebenarnya ia tadi tidak ingin memaafkan Dina secepat itu, tapi karena ia tidak tega melihat Dina yang sudah menangis seperti itu, akhirnya ia pun luluh dan tidak melanjutkan aksinya itu.


Setelah sekian berpelukan, Renata pun mengambil oleh-oleh yang di bawakan Dina.


"Boleh aku buka sekarang tidak?" Tanya Renata

__ADS_1


"Janganlah, apa kamu tidak ingin makan bersama Aldi?" Tanya Dina kembali.


kenapa aku tidak kepikiran Aldi ya, apa karena aku terlalu menyukai apa yang di bawakan Dina ya sehingga aku lupa sama Aldi, maafkan aku ya sayang. Batin Renata


"Iya, benar juga ya apa yang kamu katakan, aku nyakin jika aku makan sama Aldi kue ini bakalan menjadi lebih enak." Jawab Renata tersenyum.


"iya dong, kan itu makanan khas kampung aku." Ucap Dina lagi dengan girang.


"Makasih ya Din." Kini mereka pun langsung berpelukan lagi, sambil Renata juga menciumnya karena terlalu senang.


Setelah itu, kini Dina langsung kembali ke tempat ia bekerja, sedangkan Renata langsung melangkah kan kakinya ke ruangan Aldi sambil membawakan oleh-oleh yang Dina berikan tadi.


"Sayang coba lihat ini, aku di beri ini oleh Dina, awalnya tadi aku berpura-pura untuk tidak menerimanya, karena aku kesal ia telah mengerjaimu dulu. Tapi ia langsung nangis sesedu mungkin membuatku langsung tidak tega dan memaafkannya." Jelas Renata yang baru masuk ke Ruang Aldi, padahal Aldi tidak menanyakan.


"Tapi bukankah dulu kamu bilang ingin balas sangat dia memberikan undangan pernikahan nya." Tanya Aldi bingung.


"Iya, awalnya aku pikir juga begitu, tapi melihatnya tadi, seperti kesempatan untuk melakukannya sekarang. Aku langsung aja ngerjain nya. Kamu tahu tidak, dia menangis sambil meminta maaf dan sangat menyesali perbuatannya, membuat ku menjadi kasian dan tidak tegaan." Ucap Renata lagi.


"Benarkah kamu melakukan seperti itu?" Aldi bertanya lagi seraya ingin menyakinkan sekali lagi apa yang di ucapkan istrinya itu.


"Benar, aku juga tidak menyangka kalau tidak tidak mengetahui kalau aku sedang mengerjainya." Jelas Renata lagi.


"Rasain kamu Dina, siapa suruh kamu ngerjain aku duluan, sekarang kamu tahu kan kalau istriku sangat pandai untuk mengerjai mu.!!!" Aldi pun tertawa girang karena merasa puas setelah Renata membalas perlakuan Dina kepadanya.


Melihat Aldi tertawa, Renata pun ikut tertawa karena bahagia. Biarpun ia tidak lama mengerjai si Dina, tapi melihat Dina yang seperti itu ia juga merasa senang dan puas.

__ADS_1


__ADS_2