
Ari langsung membawa Dina ke dalam pelukan nya dan tertidur bersama di bawah kain. Ari dan Dina merasa sangat bahagia setelah melakukan pernikahan mereka, karena mereka sama-sama saling menghargai satu sama lain.
***
Kini mereka semua telah berada di kantor setelah melewati panjangnya malam mereka. Terlihat Dina berjalan sedikit mengangkang, walau permainan Ari semalam tidak terlalu kuat, tapi Dina sedikit merasakan ke perihan di area intimnya yang membuat dirinya susah untuk berjalan.
"Kuat juga permainan lo bro ya, sehingga Dina tak bisa berjalan?" Goda Aldi ke Ari dengan sedikit menyunggingkan senyuman di wajahnya.
Ari kaget karena dia tidak paham apa yang di maksud Aldi, sehingga dia melihat ke arah Dina, saat dia melihat ternyata benar aja Dina sedang berjalan seperti orang kesusahan. Dan seperti ada yang mengganjal di selangkangannya.
"Ya, mau gimana lagi, aku kan juga tidak mau kalah darimu yang ingin cepat-cepat memiliki buah hati juga." Jawab Ari polos
"Haha, yasudah gas terus jangan kendor." Jawab Aldi sambil tertawa.
"Ish,,sudah jangan besar-besar ketawanya nanti di dengar orang lain, aku bisa malu." Ketus Ari.
"Yaya, sorry, habis aku ketawa mendengar apa yang kamu katakan. Yasudah kalau gitu aku mau kerja dulu," Ucap Aldi lagi, kemudian Aldi pun pergi begitu juga sebaliknya dengan Ari ia juga balik ke ruang kerjanya.
Renata yang juga masuk ke kantor hari ini, dia harus bekerja santai karena tidak boleh terlalu lelah, oleh sebab itu ia sering berkunjung ke ruangan Dina untuk sekedar mengobrol, tapi tiba-tiba dia juga melihat Dina yang berjalan sedikit aneh.
"Din, kamu kenapa jalannya seperti itu?" Tanya Dina yang penasaran juga sedikit khawatir.
"**** ***** ku sedikit perih, akibat ulah Ari semalam" Jawab Dina setelah melihat ternyata Renata yang bertanya.
Renata sedikit tersenyum mendengar apa yang di ucapkan temannya itu, karena jujur banget dia berani menjawab apa yang di lakukannya semalam dengan Ari.
"Kuat juga Ari ya, sampai kamu segitunya? Tapi semoga saja kalian cepat nyusul aku mengandung ya." Sahut Renata kembali dengan senyuman muncul di bibirnya.
"Amin,, doain ya biar bisa nanti kita sekolahin bareng, aku juga udah gak sabar ingin cepat-cepat memiliki keturunan, biar gak sepi di kehidupan aku." Jawab Dina
"Ya, pasti aku doain, semoga aja cepat terkabulkan."
__ADS_1
Ya memang begitulah kehidupan, awalnya pingin cepat-cepat menikah, terus sekarang setelah menikah keinginan kita cepat memiliki buah hati, nanti begitu juga seterusnya.
"Boleh aku pegang perutmu Ren? aku ingin merasakan bayimu di dalam gimana?" Tanya Dina dengan penasaran.
"Boleh sih, tapi ya sekarang belum ada dampak apa-apa kan baru juga seminggu kehamilan ku." Jawab Renata.
"Benar juga ya, tapi yasudahlah kali aja dia bayi ajaib yang langsung nendang-nendang." Seru Dina, kemudian dia pun langsung mendekatkan dirinya ke pada Renata.
Dina mengusap-usap lembut perut Renata dia berharap ada sesuatu yang di dapatkan, tapi tetap percuma saja karena tetap saja tidak membuahkan hasil.
"Benar Ren, bayi mu masih belum bergerak." Ucapnya lagi setelah memegang perut Renata.
"Kan aku juga udah bilang, kecuali janinku udah tumbuh seperti bayi itu baru, mungkin kita dapat ngerasain dia bergerak." Jawab Renata.
"Yasudah, semoga aja kamu dan bayimu selalu sehat, karena aku udah gak sabar ingin melihat dia keluar ke sini." Ujar Dina lagi.
"Amin."
"Sayang, kenapa kamu kemari, harusnya kamu banyakin istirahat saya di ruangmu, jangan banyak jalan-jalan." Ujar Aldi.
"Aku lagi kangen dengan mu Bang, makanya aku kemari mampir sebentar." Jawab Renata sendu.
"Yasudah, sini duduk dekatku aja." Suruh Aldi.
Renata mengangguk dan langsung berjalan duduk di dekat Aldi. Renata pun langsung menemani Aldi bekerja, sambil sesekali menyapu keringat Aldi yang keluar membasahi wajahnya.
Aldi terus saja pokus dalam kerjanya, ia hanya terdiam dan sangat menikmati perhatian dari istrinya itu. Kini Aldi menoleh ke arah Renata, ia menatap saja sambil menikmati apa yang di lakukan Renata.
"Makasih ya sayang." Ucap Aldi sambil kini memegang tangan istri mengehentikan apa yang di lakukan kepadanya.
"Ya, sama-sama ini sudah kewajiban ku untuk selalu mengabdi kepadamu."
__ADS_1
Aldi terharu mendengar ucapan dari istrinya yang membuat dirinya selalu betah berada di dekat istrinya itu. Kemudian ia pun memberikan sebuah kecupan hangat di keningnya. Dan aldi langsung kembali bekerja lagi, hingga sampai tak terasa jam istirahat telah tiba.
"Sayang, kita istirahat di luar saja ya, aku kayak kepengen yang asam-asam?" Pinta Renata
"Baiklah, berarti itu kamu lagi ngidam sayang, yasudah ayok."
Aldi dan Renata pun keluar berdua menuju parkiran, untuk mengambil motornya, setelah itu mereka pun langsung keluar dari kantor tersebut. Mereka mencari di mana ada orang yang berjualan rujak, karena Aldi tidak ingin jika anaknya nanti akan ngences, kalau dirinya tidak memenuhi keinginan istrinya itu.
Aldi terus saja mengendarai motornya, sambil melihat-lihat dimana ada yang menjual rujak, atau sejenisnya yang asam-asam.
"Gimana sayang, kamu ada lihat tidak, penjual rusaknya?" Tanya Aldi.
"Belum bang, coba saja kita jalan aja dulu mungkin nanti di depan ada." Ujar Renata.
Aldi pun terus melajukan motornya mereka masih saja melirik kesana-kemari. Tapi tiba-tiba mereka merasakan hal yang aneh di motor mereka, Aldi segera menghentikan motornya tersebut, terus ia melihat ke bawah, ternyata ban motor nya bocor.
"Sayang, bannya bocor kamu naik aja di atas motornya biar aku dorong, sebab aku gak tega lihat kamu jalan dengan kondisi sedang mengandung." Ucap Aldi.
"Sudah Bang tidak usah khawatir aku pasti kuat," Jawab Renata.
Benar-benar sial yang Aldi rasakan, padahal niatnya baik untuk mencari ke inginan istrinya itu, tapi ya mau gimana lagi ban motornya bocor di tengah jalan.
"Yasudah, tapi kalau tidak kuat kamu bilang."
Kini Aldi langsung mendorong motornya seraya melihat-lihat di mana ada bengkel tambal ban, sedangkan Renata terus berjalan mengikuti dirinya sambil memegang motor yang lagi di dorong Aldi.
"Bang coba lihat itu ada bengkel tambal ban di depan," Ucap renata sambil menunjuk ke arah depan.
"Iya benar, Alhamdulillah akhirnya setelah kita jalan beberapa jarak, dapat juga bengkelnya."
Kini Aldi dan Renata langsung mendorong kan motor mereka ke arah bengkel tersebut yang sudah terlihat oleh mereka.
__ADS_1