Simpanan Brondong Tampan

Simpanan Brondong Tampan
Hati Irfan Pilu


__ADS_3

"Sudah jangan nangis lagi, Ayok kita turun dari sini terlebih dahulu" Ucap Irfan sambil menghapus air mata Karisa yang jatuh di pelupuknya.


"Ayok" Angguk Karisa, dia juga sangat senang karena Irfan ternyata akan datang ke tempatnya. Jika Irfan tidak datang mungkin sudah benar saja ia akan mengakhiri hidupnya. Karena telah lelah dengan paksaan orang tuanya.


Kini Irfan mengajak Karisa ke sebuah restoran ternama, berhubung hari sudah siang ia ingin mengajak Karisa sarapan terlebih dahulu. Karisa merasakan senang yang luar biasa karena Irfan sudah memberi kembali perhatiannya ke dia. Karisa langsung saja menghamburkan pelukan manja ke Irfan yang sedang mengemudi.


Irfan sebenarnya merasa risih dengan kelakuan Karisa, karena ia sedang mengemudi membuat ia tidak bisa mengemudi dengan nyaman. Tapi ia juga tidak bisa menolak karena melihat kondisi Karisa yang sedang beginian.


Hati Irfan menjadi pilu karena saat ini sudah ada dua wanita di hatinya, disisi lain dia belum menyerah dengan Renata dan saat ini mendengar apa yang di katakan oleh Karisa juga ia tidak mau menyepelekan lagi. Tapi ia bingung jika harus memilih siapa yang akan ia pilih untuk saat ini.


Setelah melajukan mobil dengan kecepatan sedang, dan melewati beberapa pemandangan di jalan. Kini mereka sudah berada di sebuah restoran ternama di kota tersebut. Irfan langsung turun dari mobilnya dan juga membuka pintu untuk Karisa. Setelah itu mereka masuk ke restoran tersebut. Tangannya ia gandeng oleh Karisa, karena Karisa merasa sudah sangat lama tak menikmati momen seperti ini dengan Irfan.


Kini mereka sudah duduk di dalam restoran tersebut. Irfan langsung memesan makanannya dan makanan kesukaan Karisa. Irfan tidak bertanya terlebih dulu ke Karisa karena ia sudah tahu apa yang akan di pesan Karisa jika sudah berada di restoran seperti ini.


"Kamu kenapa tadi ingin mengakhiri hidupmu?" Tanya Irfan yang sudah melihat Karisa tenang.


Orang tua ku akan menikahkan ku minggu depan dengan Anton. Aku tidak mau tapi mereka memaksaku, makanya aku seperti ini. Dan aku berharap juga kamu datang, jika tadi kamu tidak datang mungkin aku sudah kuat dengan keputusanku. Kamu mau ia datang ke rumahku dan menyakinkan orang tuaku, agar mau membatalkan pernikahan ini." Jawab Karisa menjelaskan semuanya ke Irfan dengan jujur. matanya sesekali mengeluarkan cairan saat teringat orang tuanya yang akan menikahkannya dengan Anton.


"Tapi bagaimana jika orang tuamu tidak mau membatalkannya" Tanya Irfan kembali, karena hatinya saat ini sedang bimbang.

__ADS_1


"Jangan berpikir pesimis dulu, setidaknya aku mau kamu berusaha terlebih dulu. Atau mungkin kamu tidak mau, dan kamu sudah memiliki perempuan lain sekarang?" Tanya Karisa yang melihat Irfan seperti seseorang yang sedang gundah.


"Tidak, aku tidak memiliki perempuan lain, kamu jangan berpikir yang macam-macam." Ujar Irfan


"Tapi perempuan kemarin yang bersamamu itu siapa?" Tanya Karisa lagi


"Oh itu, dia karyawanku. Aku harap kamu meminta maaf padanya karena telah menyiramnya waktu itu, karena salah paham." Ucap Irfan


"Benarkah seperti ini dia cuma karyawanmu, jika begitu aku akan minta maaf padanya. Kuharap kamu juga tidak berbohong tentang nya" Jawab Karisa dan juga sedikit mencurigai Irfan.


Setelah mereka berbicara panjang lebar, kini mereka langsung menyantap makanan yang telah datang ke mejanya, sesekali Karisa menyuapkan Irfan begitu juga sebaliknya.


Kini Renata, Ari, dan Dina masih saja mengobrol si kantin setelah selesai makan berhubung waktu masuk kerja belum masuk. Jadi mereka memilih bersantai-santai di kantin terlebih dahulu.


"Ari, Dina. cerita dong sudah sampai mana ni hubungan kalian, Aku ikut bahagia mendengar kalian yang akan segera menikah" Ujar Renata


"Darimana kamu tahu Ren, kita akan menikah?" Tanya Ari dengan bingung bagaimana bisa Renata mengetahui rencananya akan menikah dengan Dina.


"Aku yang kasih tahu Mas, dia kan sahabat kita dan dia juga selalu menceritakan masalahnya ke kita. Jadi aku juga tidak mau menutupi masalah ini." Jawab Dina jujur

__ADS_1


"Oh yasudah Ren kalau kamu sudah tahu semuanya. Ya begitulah seperti yang sudah di ceritakan Dina, aku tidak mau berlama-lama pacaran toh juga tidak baikkan. Aku juga merasa cintaku ke Dina sudah sangat besar makanya aku tidak ingin menunda-nunda lagi." Jawab Ari dengan summeringah


"Selamat ya Ari dan juga kamu Din. Aku pasti akan selalu mendukung kalian. Tapi apakah kalian juga akan keluar dari kantor ini setelah menikah, seperti karyawan-karyawan pada umumnya?" Tanya Renata ke mereka. Di hatinya berharap mereka tidak keluar dari tempat ini. Karena pasti dia tidak ada kawan lagi.


"Kalau itu sih belum kita pikirkan, kita lihat saja dulu gimana nanti ke depan bagusnya. Aku juga belum memberi tahukan ini kepada Pak Irfan. Karena mungkin lusa kami akan ke kampung Dina meminta Restu dan wali nikah untuk Dina." Jawab Ari lagi, dia juga tak tahu harus kemana jika akan keluar dari pekerjaan ini.


"Yasudah ayok kita kembali ke ruangan ini sudah jam masuk kerja lagi" Ajak Renata.


Ari dan Dina langsung mengangguk bertanda "ia mereka mau".Mereka langsung saja berjalan masuk ke ruangan. Saat baru saja hendak masuk ke ruangan mereka sontak saja melihat Aldi juga datang dan akan masuk ke ruangannya. Tapi Aldi tidak menoleh atau pun menyapa mereka ia langsung saja kembali sendiri ke ruangannya.


Renata juga tidak mau menyapanya dan membiarkan saja Aldi bersikap seperti itu terlebih dahulu. Biarpun hatinya sakit karena di diemin sama suaminya tapi ia mencoba untuk tetap tabah. dan menunggu waktu yang cepat untuk menjelaskan semuanya ke Aldi. menurut Renata mungkin ini sudah waktunya dia mengatakan ke Aldi siapa dirinya dan mengapa ia menolak Irfan begitu saja.


Dia juga berharap setelah mengatakan itu semua Aldi bisa menerimanya walau ingatannya belum pulih. Tapi ia tidak mempermasalahkan itu, baginya yang terpenting adalah Aldi miliknya walau bagaimanapun keadaanya ia tetap menerimanya dengan senang hati.


"Dina, Ari, aku ke pantry dulu ya, ingin bikin teh terlebih dulu untuk menemani ku bekerja" Ucap Renata


"Yasudah kalau gitu ayok Ren kita pergi berdua saja" Jawab Dina yang juga ingin membuat teh.


"Kok aku gak di ajak" Ucap Ari dengan menyemurutkan mukanya.

__ADS_1


"Kamu tunggu di ruang saja nanti aku bikinin. Tidak perlu ikut kami, sebab ini urusan perempuan" Jawab Dina yang membuat Renata sedikit ketawa.


__ADS_2