Simpanan Brondong Tampan

Simpanan Brondong Tampan
Tangisan Renata Pecah


__ADS_3

Aldi terus saja melajukan motornya dengan sedikit terburu-buru, karena ia sudah ingin berlama-lama dengan Renata. Biarpun hatinya mengatakan jika Renata tidak berbohong padanya, tapi tetap saja ia kokoh dengan pendiriannya.


Renata di belakang, juga sedikitpun membuka suaranya ke Aldi, karena dia juga sudah pasrah dan mungkin inilah waktunya untuk ia mengikhlaskan Aldi. Renata benar-benar lelah mengahadapi semua ini, matanya sudah sedikit membengkak dan memerah karena air matanya yang tak bisa berhenti mengalir.


Padahal Renata sangat berharap dan berharap agar Aldi kembali lagi seperti semula. Tapi apalah dayanya dia hanya insan biasa yang tak luput dari kesalahan.


Apa salah hamba ya allah sehingga kau membuat suamiku membenci dan sedikitpun tak percaya terhadap ku lagi. Batin Renata


Setelah mengendarai perjalanan yang lumayan panjang, kini mereka sampai si tempat konsumen yang mereka tujukan. Aldi segera memberikan cetakan konsumen tersebut. Dan tak sedikit menoleh ke arah Renata, setelah semuanya selesai, ia langsung segera kembali mengambil motornya untuk pulang.


Jika dulu mereka saat mengantarkan pesanan konsumen, pernah menghabiskan waktu bersama terlebih dahulu baru mereka pulang. Tapi kali ini berbeda mereka hanya diam-diaman saja. Renata juga sudah membersihkan matanya yang sedikit berair tadi, karena ia juga tidak mau di liat sama konsumen yang mereka temui.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Aldi segera melajukan motornya yang akan berangkat pulang kembali ke kantor. Tak lama mereka pun sampai di sana. Aldi langsung menuju ke ruang Pak Irfan untuk menyerahkan Notanya, sedangkan Renata ia langsung kembali ke ruangnya dengan wajah kusam, dan sedih, matanya juga masih sedikit membengkak dan memerah.


Dina yang melihat Renata seperti itu, langsung menyusulnya ke ruangan.


"Ren, kamu kenapa?" Tanya Dina yang baru saja sampai di dalam ruang Renata


Renata yang melihat Dina langsung menoleh ke arahnya dan segera menghamburkan pelukannya, sambil menangis sesedunya.


"Aldi Din, aku sudah menjelaskan semuanya, tapi ia tetap saja tidak mau mempercayai ku, ia tetap kokoh dengan pendiriannya. Dan semakin membenciku" Ujar Renata yang berada di pelukan Dina.


Mendengar hal itu Dina menjadi Iba. Ia langsung melepaskan Pelukan Renata dan menatap lekat padanya sambil kedua tangannya memegang bahu Renata.


"Emang penjelasan seperti apa yang sudah kamu katakan" Tanyanya, sambil sesekali menghapus ari mata sahabatnya itu.

__ADS_1


"Aku sudah mengatakan, kalau aku ini istrinya, maka dari itu aku tidak bisa menerima Irfan. Tapi ia malah lebih marah kepadaku. Padahal aku sudah menampakkan surat pernikahan kami, tapi yang lebih parahnya lagi, ia malah menuduhku membuat surat palsu." Ujar Renata sambil menangis.


"Astagfirullah,, bisa-bisanya dia berbicara seperti. Aku tak menyangka jika Aldi sekarang menjadi seperti ini, tapi apa yang akan kamu lakukan selanjutnya Ren" Tanya Dina kembali yang juga merasa sangat geram dengan ulahnya yang telah menyakiti sahabatnya itu.


"Aku gak tau Din, mungkin sudah saatnya aku pasrah dan berhenti berharap dengannya. mungkin hanya itu yang bisa kulakukan" Ucap Renata lagi dan kembali memeluk Dina sambil menangis.


"Yasudah jika itu memang keputusan mu aku juga akan mendukung mu. Kamu tenang saja, Aku dan Ari pasti akan selalu ada untukmu" Seru Dina, sambil membiarkan Renata memeluknya sebentar. Karena Dina juga merasa sangat kasian terhadap sahabatnya itu.


"Sudah Ren, jangan nangis lagi, aku ikut sedih jika kamu terus begini, mendingan ayo kita pulang sekrang" Ucap Dina lagi setelah sekian lama mereka berpelukan


Renata pun mengangguk dan menghapuskan air matanya yang masih terjatuh. Begitupun dengan Dina dia juga membantu Renata membersihkan air mata sahabatnya itu. Setelah semuanya selesai mereka langsung keluar untuk pulang. Tapi Dina terlebih dahulu mengantarkan Renata ke rumahnya baru setelah itu ia juga pulang ke rumahnya.


Kini Dina dan Renata sudah sampai di rumahnya Renata. Hari ini Dina masuk terlebih dulu ke rumahnya Renata, karena sudah lama juga ia tak pernah mampir lagi ke rumah Renata.


"Kamu duduk di sini dulu ya Din, aku bikin air dulu untukmu di dapur" Ucap Renata sambil menunjuk kan sebuah sofa ruang tamu untuk Dina menunggu.


"Aku juga tidak tahu, mungkin saja di dapur. Setelah ini aku liat" Jawab Renata


"Oke, baiklah"


Renata langsung menuju ke dapurnya untuk membuat secangkir minuman ke sahabatnya itu. Saat sudah di dapur di melihat Ibu sedang asyik memasak.


"Oh Ibu lagi memasak toh, pantesan aku tadi tidak melihatmu," Ujar Renata yang langsung menyalim tangan Ibunya baru setelah itu membuat minuman ke Dina.


Renata pun mengambil sebuah gelas di Rak piringnya dan juga sebuah botol sirup yang akan dia sajikan ke Dina sahabatnya, karena sudah bertamu ke rumahnya.

__ADS_1


"Untuk siapa itu kamu bikin minuman?" Tanya Ibu yang melihat Renata sedang membuat segelas sirup.


"Oh ini Buk, Buat Dina itu dia lagi bertamu ke rumah kita. Tadi dia mengantar ku dan mampir sebentar ke sini" Jelas Renata


"Oh yasudah, kalau gitu nanti suruh makan dulu disini, baru ia boleh pulang" Ujar Ibu lagi yang tidak ingin tamunya pulang terus tanpa makan dulu. Berhubung dia lagi masak.


"Baiklah Buk, nanti ku sampaikan padanya." Jawab Renata dengan sedikit menebarkan senyuman di wajahnya.


Renata yang sudah selesai membuat minumannya, ia langsung mengantar nya ke Dina. Dengan Langkah yang penuh hati-hati.


"Ini Din, kamu minum dulu. Ohia tadi kata Ibu ku, kamu gak dikasih pulang dulu sebelum makan malam disini, karena Ibu sedang memasak" Ucap Renata


"Jadi Ibu mu mengancam ku ini, aduh gimana ya takut juga aku kalau di ancam sama orang tua hahaha" Ledek Dina.


"Huff!! jangan besar-besar nanti Ibu dengar ia bisa marah." Seru Renata sambil mengisyaratkan jari telunjuknya menutup mulut.


"Maaf-maaf, aku ke bawa suana, abis Ibu mu selalu gitu, hahaha." Jawab Dina lagi sambil tertawa.


Renata juga ikut tertawa melihat tingkah temannya itu seperti ABG labil.


Setelah larut dalam obrolannya, tak terasa sudah terdengar suara azan magrib di mesjid, Renata dan Dina langsung segera mengambil wudhu ke kamar mandi dan segera melaksanakan kewajiban yang satu itu, sebagai umat muslim.


Setelah selesai shalat terdengar suara ketukan pintu dari luar. Renata langsung segera bangun dan membukanya terlebih dahulu.


"Ayah,, Ayah baru pulang?" Tanya Renata yang melihat Ayahnya pulang saat membuka pintu.

__ADS_1


"Ia, Ayah baru pulang, karena sudah magrib tadi Ayah terlebih dulu mampir ke mesjid" Jawab Ayah jujur


"Yasudah kalau gitu Ayah masuk dulu" Suruh Renata.


__ADS_2