
"Sayang makanannya enak sekali, ini benaran kamu yang masak? ucapku, yang sengaja menanyakan hal itu. Padahal aku sudah tahu jika dia sendirian di rumah. karena orang tua nya masih di luar kota.
"Ia bang,,kan kamu tahu sendiri dengan siapa aku di rumah," ucap renata menyakinkan perasaanku.
"Aku tidak menyangka sayang kamu pinter masak. kalo nanti kita sudah tinggal serumah. Aku pasti sangat betah di rumah terus" ucapku memuji istriku
"Kamu bisa aja ngegombalnya" sahut renata sambil senyum-senyum senang. karena aku memuji nya.
"Tapi memang benar sayang, masakan mu ini enak sekali di lidah ku." ucapku berkata jujur, serius.
"Terima kasih ya sayang" ucap renata sambil mencium pipiku
Kami pun segera melahap, semua makanan yang di bawakan istriku. Tapi aku yang lebih banyak memakannya, karena bagi ku masakan ini benar-benar enak. mengguga selera.
"Ohia sayang,, Nama masakan ini apa sih?" tanyaku penasaran. karena orang tua jarang memasak seperti ini.
"Ini masakan putih, cumi-cumi sayang" ucap renata menjelaskan padaku.
"Yasudah nanti jika aku punya uang, kamu masakin lagi ya. Aku yang akan menyiapkan cumi-cumi, beserta bumbu-bumbu dapur nya" ucapku.
"Baik bang, Insyaallah aku akan selalu menurut, apa yang kamu suruh. karena sekarang kamu Imam ku." ucap renata yang membuatku bahagia.
Akhirnya pak Irfan datang ke kantor. langsung memberi pengumuman bahwa akan segera di adakan rapat. Semua karyawan di persilahkan menuju ke ruangan meeting.
Aku, Renata, Mbak Dina. dan beberapa karyawan lainnya langsung menuju ke ruang meeting. Saat dalam perjalanan tiba-tiba seorang karyawan mendekati kami. Ari.ya Ari nama karyawan tesebut. ternyata selama ini Ari selalu mencoba mendekati renata, dia diam-diam suka terhadap renata. tapi renata tidak pernah menghiraukannya.
"Kira-kira apa ya re,, yang akan di bahas sama pak bos?" ucapnya menanyakan pertanyaan tersebut hanya kepada renata.
Aku diam saja melihatnya, tapi hati ku sangat kesal. melihat ada cowok seperti itu.
*K*enapa dia harus bertanya istriku padahal kami disini bertiga batinku kesal
Istriku yang melihat ku hanya diam saja. Dia sudah tahu apa yang kupikirkan. Dia pun menjawab pertanyaan Ari biasa aja.
__ADS_1
"Kita ke sana aja dulu nanti pasti tahu sendiri" ucap renata datar
kami pun masuk ke ruangan meeting, yang sudah di tunggu bang Irfan.
"Berhubung semuanya sudah berkumpul langsung saja, kita mulai rapatnya." ucap bang irfan
"Perusahaan kita semakin hari semakin ramai. saya berencana, akan membuka lowongan untuk satu atau dua orang. Dari kalian jika ada saudara yang menganggur bisa memberi kabar. Dan bagaimana kalo pekan depan kita berlibur bersama. Untuk mengadakan sedikit syukuran di pantai, saya harap kalian semua setuju" ucap bang irfan lagi
Kami pun senang mendengar apa yang di katakan pak Irfan, Akhirnya kami pun menjawab.
"SETUJU" kompak semua yang membuat suara terdengar sedikit lebih besar dari biasanya.
"Kalo begitu rapat hari ini cukup sampai disini saja,kalian bisa kembali ke tempat masing-masing" tegas pak Irfan.
"Ohia sebentar, kamu Aldi sama Renata harus mengantarkan cetakan ini dulu kepada konsumen di Alue bilie." suruh bang irfan
Kami pun merasa senang karena bisa berduaan lagi.
"Tapi ongkos perjalanan pak" ucap istriku yang tidak mau rugi
Di perjalanan aku bertanya pada Renata.
"Sayang kamu senang tidak jika kita disuruh-suruh begini terus" tanyaku
"Senang sayang, kan kita bisa berduaan, terus di kantor aku jadi tidak ada pekerjaan. Aku juga bosan di kantor terus, jadi kalo ada seperti ini aku merasa bisa refreshing gitu sayang" ucap renata gemas.
"Ia sayang, aku juga senang seperti apa yang kamu katakan. Nanti kita makan sate giman" tanyaku
"Baiklah sayang aku juga suka makan sate" ucap Renata
Kami pun sampai di tempat tujuan. aku segera mengangkat cetakan dan memberikan ke pada konsumen tersebut. Aku juga mengeluarkan nota serah, terima dan menyuruh konsumen tersebut menanda tangani. Yang artinya barang telah di terima.
***
__ADS_1
Hari pun telah siang kami berencana mencari warung sate yang ada di kota ini. Akhirnya kami pun menemui warung sate yang kami carikan. Aku segera memarkirkan motorku, dan masuk bersama dengan istriku ke warung sate tesebut.
Saat kami telah duduk tiba-tiba datang seorang pelayan yang bertanya.
"Mau pesan apa mas, mbak sambil memberi pulpen dan nota?" ucapnya ramah
Kami pun segera menulis pesanan kami di nota tersebut.
Aku memesan Sate dan jus Alpukat sedangkan istriku memesan Sate dan jus jeruk.
"Baiklah mas, dan mbak, silahkan ditunggu pesanannya" ucapnya lagi
Tak lama setelah itu pesanan kami pun tiba di meja. Kami segera melahapnya sambil saling memerhatiin satu sama lain.
Aku tersenyum saat melihat istriku makam belepotan seperti anak kecil.
"Bang kamu kenapa senyum begitu, kamu mengejek ku ya" ucap renata sedikit kencang
Aku pun tidak segera menjawab apa yang di tanyai istriku melainkan mengambil tissue dan mengelap terlebih dahulu bibir istriku yang belepotan. Saat aku sedang mengelap bibir istriku semua mata tertuju pada kami. Tapi aku sudah tidak perduli dengan orang lain yang tidak mengenalku. karena kebahagiaan ku sendiri lebih penting. setelah itu aku baru menjawab.
"Gimana aku tidak senyum-senyum aku melihat tanteku makan seperti anak kecil" ucapku terkekeh
"Ih kamu bisa aja bikin aku malu" ucap renata senyum-senyum
Kenapa sekarang aku merasa seperti seumuran dengannya ya, bahkan aku malah melihat diriku yang lebih muda darinya. batin renata merasa aneh pada dirinya saat bersamaan dengan suaminya.
Akhirnya kami pun menghabiskan semua makan kami tanpa tersisa sedikit. berhubung sate yang kami makan terasa sangat enak di lidah kami. Aku pun langsung memanggil pelayan di sana untuk datang ketempat kami. dan mengira semuanya berapa.
"Semuanya segini mas. mas bisa langsung mengambil ini dan membayar ke kasir" ucap pelayan tesebut dan memberi nota
Aku pun segera bangun dan menuju ke kasir, untuk membayar semua makanan yang telah kami makan, dengan uang yang telah di berikan oleh pak Irfan kepada kami.
"Sayang ayok kita pulang, jangan sampai telat nanti di marahin pak Irfan lagi" ucapku
__ADS_1
",Yasudah ayok sayang"
Aku pun segera mengambil motorku dan menyuruh istriku naik. Istriku pun langsung dan melingkarkan tangannya di pinggang ku. Aku pun langsung berangkat pulang menuju ke kantor dan meninggalkan tempat tersebut.