
Kini Renata dan Sina langsung saja menuju ke pantry bersama. Sesampainya mereka di sana langsung saja mereka membuat tehnya, karena tak ingin berlama sebab jam kerja sudah mulai.
Setelah selesai membuat Tehnya Renata langsung masuk ke ruangannya dengan membawa secangkir teh tersebut. Sedangkan Dina ia terlebih dulu mengantar Teh milik Ari baru setelah itu ia juga ke ruangannya.
Di tempat lain Irfan yang telah melaksanakan makan siangnya bersama Karisa, kini Irfan akan mengantar Karisa pulang terlebih dahulu, baru setelah itu dia juga pulang ke kantor.
"Ayok, aku anterin kamu pulang, soalnya aku harus segera balik ke kantor" Ucap Irfan.
"Yasudah ayok, tapi kamu janji ya akan menjumpai orang tua ku dalam waktu dekat ini" Ujar Karisa dengan nada memelas kasihan.
"Insyaallah" Jawab Irfan lagi.
Irfan dan Karisa langsung berdiri dan segera melangkah kan kakinya ke luar restoran tersebut. Tak lupa Karisa selalu mengandeng tangan Irfan, ia merasa sangat ingin selalu bersama Irfan orang yang dicintainya saat ini. Tapi ya mau gimana lagi karena Irfan juga harus kembali ke kantor.
Irfan langsung membuka kan pintu mobilnya untuk Karisa baru setelah itu ia kembali ketempat kemudinya. Di perjalanan mereka hanya diam saja tetapi Karisa selalu saja merebahkan kepalanya ke bahu Irfan. Ia tak mau jauh-jauh dari orang yang di cintai nya.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di Rumah mewah keluarga Karisa, Irfan segera menurunkan Karisa dan buru-buru kembali ke kantor. Ia tidak ingin mampir terlebih dahulu ke rumah tersebut, berhubung waktu sudah terlambat akan ia ke kantor.
"Daa, Mas" Ucap Karisa senyum sambil melambaikan tangannya.
"Daa!!" Irfan juga membalasnya. Setelah itu Irfan langsung kembali masuk ke dalam mobilnya itu, dan tancap gas menuju ke kantor.
__ADS_1
Mobilnya ia kemudikan agak sedikit cepat, karena dia tidak mau begitu terlambat sampai di kantor. Berhubung juga masih ada tugas yang harus di urus di sana.
Tak lama setelah melewati beberapa pepohonan yang rindang dan pemandangan yang Indah di jalanan, kini Irfan sudah sampai di kantornya sendiri. Ia segera memarkirkan mobilnya ke parkiran, terus ia segera melangkah kan kakinya ke dalam kantor. Setibanya di sana Ia langsung meminta Aldi dan Renata untuk menemui di ruangan. Karena ada tugas yang harus di suruh ke mereka.
"Aldi, Renata. Kalian ke ruangan ku segera ya, ada tugas yang ingin ku sampai kan ke kalian" Ucap Irfan sambil berjalan masuk ke ruangannya dengan Nada sedikit keras. Agar dapat di dengar oleh Renata dan Aldi yang berada di ruangan sendiri.
Aldi dan Renata yang mendengar kan suara Pak Irfan, langsung saja dengan segera keluar dari ruangnya menuju ke ruang Pak Irfan.
"Ada apa Pak, apa tugas yang akan kami kerjakan sekarang" Tanya Aldi yang juga mewakili Renata setibanya mereka di depan Pak Irfan.
"Ohia Al, rena, kalian aku tugaskan untuk mengantarkan cetakan konsumen yang telah siap ke sana ya" Ucap Irfan.
"Baiklah,," Jawab Aldi dan Renata
Kini Aldi langsung menuju ke parkiran untuk mengambil motornya, dan di ikuti oleh Renata di belakangnya. Mereka hanya diam saja saat sedang berdua seperti ini. Renata langsung naik ke motor yang sudah Aldi kendarai. setelah itu Aldi langsung tancap gas tanpa berbicara apapun.
Renata sangat berharap Aldi akan mau memaafkan dia lagi. Sehingga mereka bisa bersama lagi, biarpun Aldi belum ingat akan identitasnya. Tapi saat melihat Aldi tak juga sedikitpun berbicara dengannya walau lagi dalam satu kendaraan, hatinya menjadi sakit.
"Al, Kamu masih belum memaafkan aku juga" Tanya Renata memecahkan kesunyian diantara mereka.
"Sudah aku tidak mau berbicara lebih baik kau diam saja" Sentak Aldi.
__ADS_1
"Al, Aku sudah meminta maaf lo sama kamu dari sejak kejadian itu, kenapa sulit sekali untukmu memaafkan ku" Ucap Renata lagi dengan nada sedikit emosi.
"Yah, kenapa kamu jadi yang marah. Bukankah itu hak-ku untuk tidak berbicara padamu?" Tanya Aldi yang membuat Renata semakin marah.
"Ya aku tahu itu hak mu, tapi kamu tahu tidak aku ini siapa" Jawab Renata yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Emang siapa, Bukankah kita juga teman satu kantor tidak lebih" Jawab Aldi santai.
"Aku ini Istrimu Aldi. Makanya aku tidak ingin kau mendiami ku terus seperti ini, hatiku hancur yang melihat suamiku sendiri tidak mengingatku dan sekarang malah memusuhiku" Ujar Renata yang sudah tidak bisa merahasiakan lagi hubungannya dengan Aldi. Air matanya langsung berhamburan begitu saja dan tak bisa ia tahan lagi.
"Apa!!, Bagaimana bisa aku ini kau anggap sebagai suamimu, kau jangan mengada-ada." Ucap Aldi dengan hati yang kacau dan juga tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang di katakan Renata.
Kini Aldi menghentikan Motornya di pinggir jalan, setelah mendengar apa yang di katakan Renata hatinya menjadi kacau, karena merasa ia tidak mungkin telah menikah dengan seorang perempuan yang lebih tua dari nya.
"Jika kamu tidak percaya ini aku nampain surat jika kita telah resmi menikah" Ucap Renata lagi sambil menunjuk sebuah surat nikah, yang telah tertanda tangan olehnya dan Aldi. Air mata Renata terus jatuh karena ia tidak menyangka jika Aldi akan seperti ini.
"Tidak aku tidak percaya dengan ini semua, ini pasti akal-akalan kamu saja, yang sudah membuat surat palsu." Emosi Aldi semakin menjadi, bukannya ia mempercayai Renata tapi ia malah semakin membenci Renata.
"Selama ini aku tidak menerima Irfan oleh sebab itulah, .karena aku sudah menjadi istrimu, tapi jika kamu tidak percaya yasudah. Setidaknya aku sudah menjelaskan semuanya." Hati Renata sangat sakit mendengar Aldi yang bisa-bisanya menuduh ia membuat surat pernikahan palsu. Renata juga mencoba untuk tegar menghadapi ini semua.
"Sudah kau tidak perlu berbicara apapun lagi, karena aku juga tidak akan mempercayai. Mulai sekarang aku juga tidak akan mau berbicara denganmu lagi, aku membencimu camkan itu baik-baik." Jawab Aldi dengan tegas
__ADS_1
Kini mereka melanjutkan perjalanan mereka setelah bertengkar hebat di tengah perjalanan. Air mata Renata terus berjatuhan ia tidak menyangka jika hubungannya akan berakhir seperti ini. Ia juga merasa jika dulu Aldi menikah dengannya. Aldi masih belum mencintai nya. makanya sekarang dengan mudahnya Aldi melupakannya.