
Tapi kantor ini tetap saja sepi jika tidak semua karyawan hadir, seperti saat ini Ari dan Dina yang sedang pulang ke kampungnya.
Kini Ari dan Dina telah sampai di kampungnya Dina. Karena orang tua dari Renata sudah menunggunya di depan teras jadi mereka tidak perlu lagi untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dina langsung memeluk Ibunya seraya melepaskan rindunya yang selama ini terhalang antara jarak. Ari hanya menatap saja ke arah Dina, kemudian ia juga menyalim kedua orang tua Dina itu.
"Ayok kita masuk dulu, pasti kalian capek kan?" Ayah Dina yang mengerti dengan kelelahan yang mereka rasakan di perjalanan langsung mempersilakan mereka masuk dan beristirahat terlebih dahulu.
Kini mereka semua langsung masuk ke dalam rumah, Ari langsung mendudukkan bokongnya di sebuah sofa sederhana yang terdapat di ruang tamu rumah tersebut. Setelah datang ke rumah Dina kini Ari sudah dapat menyimpulkan bahwa keluarga Dina bukanlah, keluarga yang kaya Raya. karena bisa terlihat dari rumahnya yang hanya memiliki dua kamar tidur dan juga ruang tamu yang tidak terlalu besar, tapi bukan terlalu kecil juga, bisa di bilang sedang lah.
Ibu Dina langsung ke belakang untuk menyiapkan makanan yang telah ia masak. Sebelum mereka sampai di sana, Ibu Dina sudah memasak semua makanan yang lumayan enak untuk menyambut mereka. Jadi berhubung sekarang mereka sudah sampai Ibu hanya tinggal menghidangkannya saja dan Dina juga ikut membantunya.
Ari terlihat gugup saat pertama sampai di rumah Dina, tapi karena Bapaknya Dina orang yang ramah, ia duluan menyadari dengan sikap seperti itu, maka karena itu Bapak mencoba untuk lebih banyak mengobrol dengannya sehingga Ari bisa menepis kegugupan nya itu.
"Sudah kamu jangan malu-malu di sini, saya juga pernah muda dan pernah mengalami hal yang seperti kamu."
"Benarkah Bapak dulu juga gugup seperti saya saat pertama kali melamar Ibu?" Tanya Ari yang penasaran, ia juga berpikir kalau Calon mertuanya itu mencoba untuk membohonginya, supaya ia terlihat tidak gugup lagi.
"Benar, kalau kamu tidak percaya nanti coba kamu tanyakan sama Ibu, tapi pada saat itu saya mencoba berpura-pura tegar saja di hadapan calon mertua saya, sehingga mereka tidak ada yang mengetahuinya." Jawab Ayah Dina dengan jujur.
"Kalau gitu saya kalah dong Pak ya.." Ujar Ari lagi.
"Makanya kamu juga harus semangat dong dan jangan gugup lagi. Anggap aja rumah sendiri." Sahut Ayah Dina sambil menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
Kini Ari pun sudah bisa menyesuaikan diri dengan Bapak Dina tersebut, terlihat sekarang mereka ngobrol begitu banyak dan juga sesekali tertawa bareng. sudah seperti sangat akrab saja.
Tak lama Ibu keluar dari dapur, dan berjalan ke arah mereka sambil berkata dan mengajak mereka untuk makan.
"Ayok Nak Ari, Bapak kita makan dulu, Nanti kita lanjut mengobrol lagi. Ibu sudah masak buat nungguin kalian."
Ari pun menoleh ke arah Ibu baru setelah itu ia mengangguk menyetujui permintaan Ibu dari Dina tersebut. Ia pun langsung bangun dari sofa tersebut untuk menuju ke meja makan, begitu pun dengan Bapak yang mengikuti Ari dari belakang.
Terlihat di sana Dina sudah duduk di kursinya, Ibu langsung mempersilakan Ari duduk di sebelah Dina, sedangkan Bapak dan Ibu duduk di hadapan mereka dan meja sebagai pembatas jarak antara mereka.
Kini mereka langsung melahap makanan mereka dengan selahap mungkin, tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka, hanya saja suara piring dan sendok yang bersentuhan.
"Pak, Buk, saya ingin meminta Restu sekali lagi kepada kalian, karena sebelumnya saya hanya memintanya di telpon tapi saya kali ini datang kemari untuk meminta restu kembali, dan langsung berbicara langsung dengan kalian." Ucap Ari to the point, yang membuat terpecahnya kesunyian di antara mereka.
"Tapi saya juga merasa tidak enak Pak jika cuma mengatakan lewat handphone saja. Saya juga ingin mengatakan Pak kalau dua minggu saya Dan Dina akan menikah di sana, dan saya minta Bapak untuk menghadirinya sebagai saksi." Ucap Ari lagi.
Bapak dan Ibu Dina yang sudah mengetahui itu dari sebelumnya, karena Dina sudah lebih dulu memberitahu mereka. Langsung mengangguk dan menyetujui permintaan Ari. Karena mereka juga tidak mau menghalang-halangi niat baik seseorang kepada putrinya tersebut. Apalagi mereka sudah mengetahui jika umur putrinya memang sudah layak untuk menikah.
Dina Ikut bahagia yang duduk di sampingnya, dan mengeluarkan air mata karena sangking terharunya jika sebentar lagi ia akan menjadi istri orang.
"Kamu kenapa menangis Dina, apa kamu tidak bahagia menikah denganku?" Tanya Ari yang tiba-tiba melihat Dina mengeluarkan air mata
"Tidak sayang, bukan gitu, tapi aku terharu karena mengingat sebentar lagi, aku akan melepaskan masa lajangku." Jelas Dina.
__ADS_1
"Oh,, aku kirain kamu kenapa." Ingin sekali Ari memeluknya tapi tidak mungkin di saat seperti ini, sebab ada orang tuanya.
Di tempat lain..
Kini Irfan, Karisa dan juga Han sedang berada di sebuah butik untuk mencari pakaian yang nanti akan di pakai di hari pernikahan mereka. Irfan dan Karisa langsung masuk ke dalam. sedangkan Han hanya menunggu di mobil.
Karisa langsung melihat-lihat gaun mana yang akan di pakainya nanti.Hingga matanya tertuju pada sebuah gaun yang berwarna putih terlihat sangat Indah dengan bertaburan swarovski dan juga ia memilih Jas hitam dan kemeja putih untuk di kenakan Irfan nanti.
Setelah itu mereka langsung pulang untuk mengantarkan Karisa terlebih dulu. Irfan dan Karisa langsung naik dengan pintu mobil yang sudah di buka Oleh Han. Setelah Han pun kembali masuk untuk menjalankan mobil tersebut.
Setelah mereka mengantar kan Karisa, Irfan dan Han langsung kembali ke kantor. Ia juga harus memberi tahu kepada Aldi tentang rencananya yang akan menikah itu dengan semendadak ini.
Kini Irfan sudah masuk ke dalam ruangan setelah sampai di kantor. Sedangkan Han sebagai asisten ia hanya menunggunya Pak Bos nya itu di luar dan berdiri di depan pintu.
Irfan langsung mengambil ponselnya dari saku celana, ia langsung mencoba menelpon orang tuanya yang berada di luar sana, untuk memberi tahu tentang pernikahannya.
Tut tut tut.
Tak lama ponselnya pun tersambung dengan ponsel Ibunya.
"Hallo Assalamualaikum Bu." Ucap Irfan
"Waa'laikum salam Irfan, Ibu kangen sekali sama kamu Nak, gimana kabar mu di sana?" Ibu Irfan bertanya berbasa-basi terlebih dahulu karena sudah sangat lama tak bertemu dengan putra semata wayangnya itu.
__ADS_1