
"Kamu kenapa Ren? Tanya Ibu, sesampainya mereka di rumah, karena melihat Renata di bopong sama Aldi dan Dina.
"Tadi Renata pingsan Bu di kantor, aku dan Dina langsung mengantar nya ke RS, sesampainya di sana, Dokter menyatakan kalau Renata hamil." Jawab Aldi.
Ibu sangat senang mendengar kabar bahagia yang keluar dari mulut Aldi, bagaimana juga karena sebentar lagi dia akan memiliki seorang cucu yang di kandung Renata.
"Alhamdulillah, Ibu sangat bahagia, ayo langsung bawa masuk, dan kamu harus banyak istirahat, biar kandungan mu jadi sehat."
Mereka semua mengangguk dan langsung membawa Renata masuk.
"Ren, Bu, aku dan Dina harus kembali ke kantor dulu, untuk mengambil peralatan kerja ku yang tertinggal di sana. Ibu aku titip Renata sebentar ya." Ucap Aldi.
"Sudah jangan bicara seperti itu, Renata anak Ibu walau bagaimanapun Ibu pasti akan selalu menjaganya, apalagi sekarang ia sedang mengandung cucu Ibu." Jelas Ibu.
"Ayo Din," Setelah mendengar apa yang di ucapkan Ibu, Aldi dan Dina langsung segera pergi ke kantor, dengan taksi yang mereka tumpangi tadi.
Kini mereka langsung menaikki Taksi, Aldi duduk di depan bersama sang sopir, sedangkan Dina duduk di belakang sendirian. Biarpun Dina teman dari Aldi tapi tetap saja Aldi menjadi jarak terhadapnya.
Sehingga tidak membuat ketidak salah pahaman di antara mereka, jangan kan dengan Dina, selama ini Aldi juga menjaga jarak dengan perempuan mana pun, karena ia tidak ingin membuat Renata cemburu.
Tak lama setelah mobil taksi tersebut melaju, akhirnya mereka pun sampai di kantor.
"Gimana keadaan Renata? Apa dia sudah membaik?" Tanya Irfan saat mereka baru saja melangkahkan kaki mereka di pintu lobi utama.
"Sudah Pak, dia langsung di bolehkan pulang, karena ia hanya lelah saja." Jelas Aldi yang tak sepenuhnya berbohong.
Di sini Aldi tidak memberi tahu, kalau Renata sebenarnya sedang hamil anaknya kepada Irfan, karena ia masih takut, dan belum siap untuk di ketahui oleh orang tuanya sendiri. Karena dia juga tidak tahu bagaimana reaksi orang tuanya, jika mereka mengetahui dirinya sudah menikah dengan Renata.
"Yasudah, kalau begitu kalian sudah boleh pulang, karena ini jam kantor juga sudah habis," Ucap Irfan lagi, dan langsung keluar bersama Karisa istrinya.
__ADS_1
"Baik Pak," Jawab Aldi dan Dina serentak, kemudian mereka langsung ke ruangan mereka masing-masing untuk berkemas.
Dina langsung di datangi Ari ke ruangan nya.
"Sayang Gimana kondisi Renata?" Tanya Ari saat sudah berada di ruangan Istrinya.
"Dia sedang hamil, makanya seperti itu, karena dia terlalu lelah selama ini." Jelas Dina.
"Oh, baguslah kalau dia tidak kenapa-napa, aku juga kepengen ni sayang kita cepat-cepat punya momongan." Seru Ari.
"Ya mas, aku juga inginnya seperti itu, semoga aja Allah cepat mengabulkan permintaan kita." Jawab Dina.
"Amin,,"
Ari pun ikut membantu Dina berkemas, karena setelah itu mereka akan pulang bersama kerumah Ari. Setelah kemarin mereka resmi menjadi sepasang suami-istri. Ari langsung mengajak Dina tinggal di rumahnya. Karena selama ini Dina hanya tinggal di rumah kontrakan di sini.
Di tempat lain.
Aldi yang juga sudah berada di rumah langsung menjumpai istrinya yang sedang istirahat di kamar.
"Terimakasih ya sayang karena kau akan sedang mengandung anakku." Ucap Aldi sambil mengusap wajah istrinya. Di sangat senang karena sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah, walau umurnya yang masih terlalu muda.
"Iya, aku juga tidak menyangka kalau diriku sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu." Jawab Renata sambil tersenyum haru.
"Bagaimana kalau kamu tidak usah lagi bekerja selama kehamilan kamu ini, karena aku takut dan khawatir sama kamu dan calon anak kita." Saran Aldi.
"Tidak Bang, aku tidak mungkin berhenti bekerja, karena kamu tahu sendiri kan pendapat di sana juga tidak seberapa, aku tidak ingin terlalu membebani mu seorang diri." Jawab Renata
"Tapi apa kamu nyakin kamu akan kuat nanti?" Tanya Aldi lagi sambil menatap wajah istrinya.
__ADS_1
"Sudah kamu tenang saja, lagian kita satu kantor jika aku terjadi apa-apa kan ada kamu." Jelas Renata.
"Baiklah kalau begitu, yasudah kamu istirahat saja dulu, aku mau mandi terlebih dulu?"
Renata pun mengangguk yang membuat Aldi langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
Kembali lagi ke Ari dan Dina, setelah mereka melaksanakan shalat insya, mereka sudah tidak keluarga lagi dari kamar mereka. Karena hari ini mereka ingin melakukan aktivitas lebih awal. Karena juga tidak mau kalah dari Aldi dan Renata yang sudah mengandung saja.
"Apa kau sudah siap sayang?" Tanya Ari sambil menaikkan celananya, yang terlihat begitu lucu.
Dina tersenyum saat melihat lakinya seperti ABG labil seperti itu, kemudian ia pun mengangguk menyatakan "sudah".
Ari langsung mendekati Dina yang membuat Dina menjadi malu dan grogi, merekapun akhirnya saling tatap-tatapan. Ari langsung meraup bibir yang berwarna merah jambu milik istrinya tersebut.
Dina terdiam dan hanya menikmati permainan Ari, ia juga merasa desiran aneh pada dirinya sehingga ia juga membalas apa yang Ari lakukan kepadanya. Kini mereka pun berdua bercumbu dengan begitu lama dan begitu bergairah.
Tangan Ari kini menorobos kancing baju milik Dina, yang membuat Dina semakin bergairah sehingga, tangannya Dina juga kini membelai burung milik Ari yang masih terlapis dalam celana.
Kini mereka sudah melepaskan pangutan mereka yang berlangsung lumayan lama. Ari yang tidak tahan saat Dina membelai-belai burungnya, sehingga dirinya langsung melepaskan semua pakaian nya dan langsung melakukan aktivitasnya di dalam selimut.
Sehingga keringat mereka berdua keluar bercucuran membasahi diri mereka berdua dan juga selimut mereka sekaligus seprai nya juga ikut basah ulah keringat mereka. Sehingga mereka benar-benar mendapatkan pelepasan bersama barulah mereka menyudahi aktivitas mereka.
Ari langsung terkulai lemas di sebelah Dina yang baru saja melakukan satu ronde, sedangkan Dina tersenyum melihat Ari yang sudah terbaring lelah di sebelahnya.
Dina mencoba memeluk Suaminya itu dengan manja, Ari pun membelai lembut rambut istrinya walau dirinya sudah sangat lelah, setelah aktivitasnya yang sangat menegangkan.
"Kau sangat kuat sayang, sehingga diriku menjadi lelah seperti ini dibuatnya." Ujar Ari yang tak tahu malu.
"Tapi kamu juga kuat kok sayang, aku juga lelah dibuatmu." Jawab Dina yang tak ingin menyudutkan suaminya tersebut. Walau bagaimanapun tetap saja dia seorang suami yang lebih tinggi derajatnya daripada istri.
__ADS_1