
"Kamu kenapa, sakit ya, tapi bukankah dulu kita sudah pernah melakukannya?" Tanya Aldi seraya membelai lembut istrinya itu.
"Iya, aku gak tahu juga kenapa, mungkin ini karena tidak sudah lama tidak melakukannya." Ucap Renata sendu sambil menahan kesakitan di area intimnya.
Aldi yang melihat wajah istrinya seperti itu menjadi kasian. "Apakah kamu mau melanjutkan lagi".
Renata hanya mengangguk saja, biarpun ia merasa kesakitan tapi tetap saja ia tidak membiarkan si otong Aldi keluar dari sarangnya.
Karena Aldi sudah mendapat persetujuan dari pemiliknya, kini ia langsung menancap lebih dalam lagi si otongnya dengan perlahan, karena ia juga kasian dengan istrinya itu.
Saat Aldi memompa perlahan-lahan. Deggg
"Sayang ayok lebih cepat lagi." Suruh Renata dengan tiba-tiba yang sudah bisa menahan rasa sakitnya dan ingin menikmati tusukan si otong Aldi dengan lebih cepat biar ia merasakan gairahnya.
Mendengar hal itu, kini Aldi langsung bersemangat kembali, ia terus melajukan pompanya dengan begitu cepat sehingga suara ******* yang begitu kencang dari mulut istrinya itu keluar. Entah keluarnya sampai keluar kamar atau tidak mereka sudah tidak menghiraukan itu lagi. Aldi terus saja melakukan aksinya dengan begitu cepat sampai mereka mendapatkan pelepasan barulah mereka melepaskannya.
Aldi langsung tersungkur di sebelah Renata yang sudah di penuhi keringat membasahi tubuhnya, begitu juga dengan Renata. Kini Renata langsung memeluk tubuh Aldi dengan mesra dan menutup tubuh mereka dengan sebuah kain.
Aldi dan Renata pun kini tertidur bersama di dalam sebuah selimut besar, mereka tidak melanjutkan aksinya lagi, karena sudah terlalu lemah, dengan keseharian mereka di hari ini.
Malam ini Aldi tidak perlu harus bangun sepagi-pagi buta untuk menyelinap-nyelinap keluar dari rumah Renata. Karena hubungan mereka sudah di restuin sama orang tua Renata.
***
Pagi ini Aldi dan Renata telah sampai di kantor, mereka hari ini memang sengaja datang ke kantor lebih cepat dari biasa, sehingga sesampai di kantor belum satu orang pun karyawan di sana yang datang.
__ADS_1
Sebenarnya memang itu yang Aldi dan Renata harapkan, supaya mereka bisa bermesraan dulu sebelum akan memulai bekerja.
"Sayang kita ke pantry dulu ya?, aku ingin kamu membuat teh terlebih dulu kepadaku" Ajak Aldi yang merasa pas untuk ia bisa berduaan dengan istrinya itu.
"Siap bos," Jawab Renata sambil tersenyum terkekeh.
Aldi dan Renata langsung masuk ke ke dalam menuju ke pantry sambil bergandengan tangan. Mereka sekarang sudah merasa sangat bahagia seakan dunia ini miliknya berdua.
Renata langsung membuat teh untuk dirinya dan Aldi, dengan penuh rasa perhatiannya. Setelah itu ia segera membawa tehnya ketempat Aldi yang duduk di atas bangku panjang yang terbuat dari beton dan menempel ke dinding.
Aldi langsung mencoba teh tersebut, matanya ia kedip-kedip kan sehingga terlihat seperti orang merem melek menikmati sebuah minuman yang sangat enak. Padahal itu cuma teh ya biar gimana pun itu tetap teh, tapi Aldi sengaja seperti itu ia ingin menikmati teh tersebut dengan penuh kenikmatannya.
"Enak sekali sayang ini tehnya, aku aja minumnya sambil merem melek, benar-benar menikmati sayang." Ucap Aldi jujur yang memang merasa teh tersebut sangat enak di lidahnya.
"Wajarlah bang kan tadi sedikit ku kasih racun bang." Ucap Renata dengan memasang wajah serius.
"Hahaha, wajahmu lucu sekali bang, sebenarnya tadi aku hanya memberi sedikit Racun Cinta. Tapi kamu udah meren-merem gitu." Goda Renata kembali sambil tertawa puas penuh kemenangan.
"Ah kamu ini ada-ada saja, aku pikir kau ingin membunuhku dengan menuba ku seperti cerita Hasan dan Husen cucu Nabi." Ucap Aldi dengan wajah yang sudah cemberut.
Renata yang melihat sikap suaminya itu yang menggemaskan, langsung menempelkan bibirnya ke bibir Aldi. Rasanya ia sudah semakin candu dengan bibir Aldi yang sexy itu.
Awalnya Aldi hanya terdiam dan menikmati saja permainan dari Renata, tapi lama kelamaan ia juga membalasnya, yang tak kalah dahsyat dari Renata. Setelah merasa nafasnya sudah habis barulah mereka melepaskannya.
"Kamu sekarang sudah mulai nakal ya!!" Goda Aldi sambil mengedipkan matanya dan sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Kan aku bisanya karena kamu telah mengajariku, coba dulu dari awal kamu tidak pernah mengajariku sudah pasti aku tidak akan bisa dan berani seperti sekarang ini." Jelas Renata dengan manja.
"Istriku ini bisa aja deh ngelesnya!!" Ucap Aldi sambil mencubit hidungnya lalu memeluk istrinya itu dengan bahagia.
Tak lama kemudian terdengar suara orang masuk ke kantor dari depan, mereka langsung pergi dari pantry untuk melihat siapa yang masuk, sampai di sana mereka melihat ternyata Pak Irfan yang datang.
Tapi kali ini Irfan tidak datang sendirian melainkan dia datang dengan seorang pria yang memiliki badan lebih tegap darinya, terlihat sepertinya pemuda tersebut sering berolah raga sehingga badannya terlihat kekar.
Namanya Handi, dipanggil dengan sebutan Han, ia adalah seorang bodyguard sekaligus asistennya yang baru saja di pekerjaan oleh Irfan untuk menjaga dirinya dan juga orang-orang di sekelilingnya. Karena dia masih baru Irfan masih belum sepenuhnya percaya kepadanya. Dan Irfan ingin melihat dulu bagaimana ke depan kerjanya, baru mungkin ia akan percaya penuh padanya.
"Pak Irfan, baru datang Pak?" Sapa Renata.
"Iya saya baru saja sampai, ohiya kenalin ini Han dia aku pekerja kan di sini sebagai asisten dan bodyguard ku." Jawab Irfan.
Akhirnya tanpa harus bertanya terlebih dahulu teryata Irfan sudah memberi tahu mereka terlebih dahulu.
"Han hari ini urusan mu di sini sudah selesai dulu, nanti kau haru menjemput ku di jam istirahat siang. Jangan sampai terlambat." Ucap Irfan dengan tegas
"Baik Bos," Jawab Han yang kemudian langsung keluar meninggalkan kantor tersebut dengan mobil milik Irfan. Biarpun ia menyerahkan mobilnya begitu saja kepada Han, tetap saja Irfan bisa mengetahui kemana saja mobil itu akan pergi, karena ia telah memasang GPS ke mobil tersebut yang tersambung dengan handphonenya.
"Kenapa kamu langsung menyuruhnya pergi, bukankan dia bisa membantu-bantu terlebih dahulu di sini?" Tanya Renata lagi.
"Mungkin kedepannya seperti itu, tapi hari ini biarlah dia tidak mengganggu ku dulu." Jawab Irfan lagi.
Kini Renata dan Aldi sudah paham dengan jawaban yang Irfan berikan, merekapun langsung pamit ke ruang mereka masing-masing untuk bekerja, karena hari pun sudah tidak pagi lagi.
__ADS_1
Tapi kantor ini tetap saja sepi jika tidak semua karyawan hadir, seperti saat ini Ari dan Dina yang sedang pulang ke kampungnya.