Simpanan Brondong Tampan

Simpanan Brondong Tampan
Ari Dan Dina Segera menikah


__ADS_3

Mendengar apa yang dikatakan Aldi, Air mata Renata jatuh, karena dia tidak menyangka jika Aldi akan mengusirnya begitu saja, dia juga tidak menyangka jika Aldi akan semarah itu padanya. Hatinya seperti ter iris-iris pisau dan di taburkan bon cabe. begitulah rasa sakit yang saat ini Renata rasakan. mungkin jika bukan suaminya lain berbeda.


Renata langsung keluar dengan air mata yang tidak bisa ia tahan setelah mendengar ucapan Aldi yang merobek hatinya. Sebenarnya tadi ia ingin berlama-lama sebentar di sana tapi sayangnya Aldi tidak menyukai kehadiran nya.


Dina yang melihat Renata menangis langsung saja membuntutinya ke ruang Renata. Dina melihat Renata telah duduk di kursi kerjanya itu sambil mengelap air matanya dengan tisu, Dina langsung mendekatinya, karena ia juga tidak bisa melihat temannya seperti itu. Tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak.


"Kamu kenapa Ren, pasti habis di marahin Aldi lagi ya, kamu harus banyak sabar Ren ini ujian, terhadap hubungan kalian. Aku nyakin Allah pasti sudah menyiapkan kebahagiaan buat kalian di masa yang akan datang" Ucap Dina menyemangati temannya itu, sambil tangannya menggosok-gosok punggung Renata.


"Aku gak tahu Din sampai kapan aku bisa bertahan dengan hubungan seperti ini, Rasanya aku ingin Mati saja menghadapi cobaan seperti ini" Jawab Renata pasrah yang air matanya tidak bisa berhenti mengalir.


"Huftt!! Kamu tidak boleh bicara seperti itu, semua ini pasti akan ada hikmahnya. Aku tidak mau melihatmu bersedih lagi sebaiknya kita pulang bareng ayok, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu" Pinta Dina


"Emang kamu mau bicara apa" Tanya Renata bingung


"Sudah kamu ikut saja dulu, nanti juga pasti tahu sendiri" Jawab Dina sambil sedikit tersenyum yang membuat Renata semakin penasaran.


"Yasudah baiklah,, lihat saja jika kamu berbohong" Ketus Renata.


"Mana mungkin aku bisa berbohong Ren, sudah ayok buruan" Ajak Dina lagi buru-buru.

__ADS_1


Renata pun langsung bangun dari tempat duduknya, hatinya yang tadi sakit karena Aldi tiba-tiba saja menjadi hilang sedikit dan kini malah menjadi penasaran dengan apa yang akan di katakan Dina. Karena ia melihat Dina seperti mau berbicara serius dengannya karena bisa ia liat dari Raut wajah Dina yang sedikit berseri.


Kini Dina dan Renata sudah berada di parkiran kantor. Tiba-tiba mereka bertemu dengan Aldi, tapi karena melihat Renata, Aldi tak sedikit pun menoleh ke arah mereka, dan berlalu pergi begitu saja. Renata dan Dina hanya cuma menatap punggungnya saja melihat kepergian Aldi, dan kini mereka pun ikut pergi meninggalkan area perkantoran tersebut.


Renata dan Dina kini sudah berada di sebuah Cafe. Sambil menunggu pesanan mereka tiba, kini Dina langsung aja menceritakan semua yang tadi akan di ceritakan ke Renata.


"Ren, Aku dan Ari akan segera melangsungkan pernikahan. Ia bilang ia tidak mau berlama-lama pacaran tidak baik, dia juga sudah gak sabar ingin segera memilikiku, dan rencananya minggu depan kami akan pulang ke kampung ku. Ari akan meminta restu ke orang tua ku." Ujar Dina ke Renata panjang lebar.


"Wah, selamat ya, ternyata temanku juga akan segera menikah. Aku kira kamu akan betah jadi perawan tua hehhee" Jawab Renata dengan hati yang sangat gembira karena ia, tidak menyangka temannya akan segera menikah. Ia juga mengucapkan selamat sambil berjabat tangan.


"Ia Ren makasih ya," Ujar Dina


Di tempat lain..


"Ibu sedang masak apa" Tanyanya.


"Ini Ibu lagi tumis Ayam, Kamu suka tidak"Jawab Ibu dan seraya menanyakan kembali.


"Pasti aku suka dong Ibu, semua masakan Ibu pasti aku suka, tapi aku ke kamar mandi dulu ya bu Udah bau asem ni" Ucap Aldi sambil sedikit menggoda Ibunya.

__ADS_1


"Yasudah ke sana gih" Usir Ibu sambil tersenyum dan sedikit menggeleng-gelengkan kepala.


Aldi segera beranjak ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Tapi saat akan mau masuk ke kamar mandi ia kepikiran sesuatu. pikiran nya merayap kemana-mana. Dia berpikir kenapa selalu saat akan bersikap kasar ke Renata tapi ada yang tidak bisa dia utarakan yang menusuk hatinya. Seakan kata hatinya melarang untuk ia membenci Renata.


Kenapa denganku ini, padahal sikapku sudah benar memang seharusnya aku membenci Renata karena telah mengecewakan Irfan. Tapi kenapa dada ku terasa sakit seakan aku tak boleh membencinya. Ya Allah kenapa denganku ini berikanlah petunjuk mu. Batin Aldi.


Aldi langsung melangkah kan kakinya ke kamar mandi, karena dia tidak mau terus-terusan kepikiran dengan pikirannya yang aneh, dia juga tidak tahu kenapa pikiran tersebut tiba-tiba saja muncul. Padahal selama ini ia baik-baik saja.


Tanpa berpikir panjang lagi Aldi langsung mengambil gayung dan menyiramkan air ke tubuhnya. Matanya ia tutup sambil menikmati desiran air yang terjatuh di tubuhnya. Pikirannya pun sedikit demi sedikit menjadi lega kembali seiring berjalannya air yang membasahi tubuhnya.


Setelah selesai mandi dan berpakaian kini Aldi keluar dari kamarnya dan duduk ikut makan bersama Ibunya seperti biasa. Aldi membuka satu persatu tutup saji dan tutup-tutup semua bangkok yang berada di atas meja yang ada di depannya itu. Lidahnya mengeliur seakan tidak ingin menunggu waktu lama lagi untuk ia menyantapnya. Ia pun langsung saja menaruh nasinya dan lauknya tersebut karena memang sudah tak sabar. Baginya masakan Ibunya hari ini sangat enak.


"Pelan-pelan aja Al ambilnya, nanti malah tumpah" Ucap Ibu menasehatinya. Ibunya juga heran melihat sikap Aldi hari ini seperti sangat menginginkan masakannya itu. Padahal biasanya dia terlihat biasa saja tidak berlebihan seperti ini..


"Tenang Bu, menurutku ini masakan sangat enak yang Ibu masakan hari ini, makanya aku tidak membuang-buang waktu terlalu lama untuk menyantapnya." Jawab Aldi summeringah


"Kamu ada-ada saja, padahal menurut Ibu ini sama aja seperti masakan yang sebelumnya" Ucap Ibu kembali.


Tanpa menjawab lagi apa yang dikatakan Ibunya Aldi sudah langsung melahap makanannya ke mulut, benar saja memang masakan Ibunya ahri ini sangat enak di lidahnya.

__ADS_1


"Nahkan benar bu, ini sangat enak" Ucap Aldi sambil tangannya melahap dengan rakus masakan Ibunya tersebut.


"Yasudah Ibu senang dengarnya jika kamu menyukai masakan Ibu," Ucap Ibu dengan nada bahagia, karena melihat Aldi makan yang antusias seperti itu. Sebenarnya sudah jarang Ibu melihat Aldi makan selahap itu, setelah dirinya kecelakaan tersebut.


__ADS_2