
Kring kring..
Suara ponselnya berdering saat Aldi terlarut dalam lamunannya. Ia pun segera menoleh ke arah layar ponselnya tersebut. Ternyata bang Irfan yang menelponnya, ia pun segera mengangkatnya.
"Halo,, Ada apa bang menelpon ku?" Tanya Aldi yang sedang kebingungan, kenapa tiba-tiba Bang Irfan menelpon.
"Gini Al, Abang mau minta tolong sama kamu, boleh kan?" Jawab bang Irfan yang tidak langsung mengutaratakan apa yang ingin ia katakan. Dan kembali meminta persetujuannya terlebih dahulu.
"Boleh bang, kalau aku bisa bantu pasti aku akan bantu" Jawab Aldi polos, yang tidak mungkin ia akan menolak permintaan dari Abang sepupunya itu. Karena ia tahu Bang Irfan telah terlalu baik kepadanya.
Irfan sudah mendengar jawaban yang keluar dari mulut sexy Aldi itu. Ia tidak membuang-buang waktu lagi, ia pun segera mengatakan apa yang ingin ia katakan.
"Gini Al,, Abang ingin memintamu untuk membantu abang dekat sama Renata?" Ujar Irfan tulus ke Aldi.
"Bukankah selama ini memang abang sudah dekat dengan Renata" Tanya Aldi kembali yang tidak mengetahui maksud dari permintaan Abang sepupunya itu.
"Maksud Abang itu, kamu bantu abang agar Renata bisa menjadi kekasihku" Jawab Irfan lagi to the point. Karena ia melihat Aldi yang tidak paham dengan maksudnya.
"Oh itu,, baiklah Aku akan membantu mu sebisa ku" Ucap Aldi santai seraya tak ada beban di kepalanya. Padahal kalau ia tahu kalau Renata itu istrinya. Pasti ia tidak akan mau dan beralasan segala cara agar bisa menolaknya.
Setelah Aldi menyetujuinya, mereka pun memutuskan obrolan mereka. Kini Aldi sedang memikirkan apakah ia sudah benar untuk mengambil keputusan yang akan membantu bang Irfan. Tapi ia juga tidak tahu apakah Renata mau. Ia pun berjalan mondar-mandir tak tau arah di kamarnya, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
***
Hari telah berlalu kini mereka semua sudah berada di kantor seperti biasanya. Renata hari ini terlihat begitu cantik dengan menggunakan tunik yang berwarna Abu-abu yang sangat cocok di badannya, juga di hiasi dengan dandanan yang sederhana sehingga ia terlihat begitu fresh. Tangannya sedang menari" di atas keyboard sedangkan mata nya menatap lekat pada layar monitor. Terlihat begitu serius dalam mengerjakan pekerjaannya.
Dina yang belum melihat Renata dengan matanya hari ini, ia bergegas pun masuk ke ruang Renata tanpa permisi. Setelah membuka pintu ia melihat Renata yang sedang serius bekerja. Tiba-tiba ide usil muncul di kepalanya, Ia pun berjalan pelan, sambil mengendap-endap kebelakang Renata dan langsung menepuk pundak Renata.
__ADS_1
Byuar.. Renata pun sangat terkejut dengan kelakuan Dina sehingga mouse di tangannya ingin ia lempar ke kepala Dina.
Sedangkan Dina yang berada di belakangnya, tertawa terbahak-bahak. Membuat Rena semakin kesal.
"DINA!!" Teriak Renata sambil memelototinya dengan mata coklatnya itu, Alisnya yang tebal ikut terangkat. Ia pun langsung segera membalas Dina kembali dengan memukul-mukul punggungnya. Mereka pun saling kejar-kejaran di ruang tersebut.
"Ampun,, ampun" Ucap Dina sambil lari cengengesan.
Renata pun berhenti memukulinya dan ikut tertawa bersama seperti gadis-gadis ABG, yang abis bertengkar terus ketawa bersama.
"Renata, Dina, kalian kenapa?" Tanya Ari yang mendengar suara kegaduhan dari Ruang Renata.
"Tadi ada tikus pak, aku dan Dina sudah mengusirnya" Jawab Renata berbohong agar bisa lolos dari pertanyaan Ari. Karena ia takut jika ada yang mengetahui mereka sedang bergurau. Bisa-bisa dapat surat peringatan.
"Oh yasudah, aku kira kalian kenapa ribut-ribut" Ucap lari lagi yang langsung lanjut bekerja.
"Kamu aja yang tidak menyadari kalau aku udah pinter dari dulu,, Renata gituloh" Jawab Renata sambil menyombongkan dirinya.
"Yasudah aku mau bekerja lagi, kamu juga kerja lagi sana gih" Usir Renata yang merasa sudah sangat lama mengobrol sama Dina.
Dina pun akhirnya keluar dari Ruang Renata untuk melanjutkan kembali pekerjaannya. Ia juga merasakan yang sama seperti Renata rasakan, jika ia sudah terlalu lama mengobrol.
"Rena, ke kantin yuk?" Ajak Aldi yang baru datang ke ruangan Renata. Ia sengaja mengajaknya ke kantin, supaya bisa mengatakan apa yang di suruh Irfan.
"Ayok,," Jawab Rena dengan hati gembira karena sang suami yang mengajaknya. Biarpun saat ini Aldi lupa dengannya. Tapi apapun yang berhubungan dengan Aldi pasti selalu mengikutinya.
Mereka pun jalan beriringan tapi tidak gandengan, Keluar lobi kantor yang akan beranjak ke kantin. Tak lama mereka pun sama di kantin. Aldi pun memilih tempat duduk yang berada sedikit di pojokan, yang tak terlalu dekat dengan pengunjung lain.
__ADS_1
Aldi dan Renata pun duduk berhadapan yang di halangi sebuah meja datar.
"Rena sebentar ya, aku pesan makanan dulu buat kita" Aldi pun langsung berjalan beberapa langkah ke arah pemilik kantin, yang sedang duduk di meja kasir.
Kini Aldi telah kembali dengan membawa makanan pesanan dan Renata. mereka pun langsung menikmati makanan tersebut dengan gesit tanpa bersuara.
"Mbak boleh aku ngomong sesuatu" Tanya Aldi yang memecahkan keheningan di antara mereka.
"Ngomong aja tidak perlu minta segala, kamu seperti orang lain aja." Jawab Renata dengan nada santai.
Mbak,, Aku mau kamu jadi kekasih bang Irfan, biar kita jadi keluarga yang seutuhnya, karena bang Irfan kan sepupu ku." Jawab Aldi polos yang baru mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Renata.
Sontak saja membuat Renata sangat terkejut sampai-sampai ia tersendak.
"Uhuk,, uhukk!!"
Aldi langsung sigap menoleh ke arah Renata dan memberinya minum seraya bertanya "Mbak kamu kenapa?"
"Tidak Al,, Mbak hanya terkejut dengan pertanyaan mu itu" Jawab Renata yang tidak tahu kenapa tiba-tiba Aldi menyuruhnya untuk menjadi kekasih Pak Irfan. Ia pun bingung harus menjawab apa, sebab ia tahu Aldi berbicara seperti itu karena sedang lupa ingatan. Kalau ia jujur tentang dirinya siapa sekarang ke Aldi, pasti Aldi tidak akan percaya, membuatnya dirinya akan membencinya. Itulah yang tidak ia inginkan.
Melihat Renata termenung Aldi pun menanyakan kembali."Jadi gimana Mbak" Desak Aldi lagi
"Maaf Al, Aku tidak bisa menjawab sekarang" Jawab Renata sendu, ia tak habis pikir, bagaimana bisa suaminya sendiri menginginkannya menjadi kekasih sepupunya.
"Baiklah Mbak, aku tidak memaksamu menjawab sekarang, tapi aku serius dengan pertanyaan ku. Ku harap Mbak segera menemukan jawabannya" Ujar Aldi yang sangat berharap Renata mau menerima bang Irfan menjadi kekasihnya.
Ya Allah kenapa jadi rumit seperti ini, keputusan apa yang hamba harus ambil. Batin Renata meminta pertolongan Allah.
__ADS_1