Simpanan Brondong Tampan

Simpanan Brondong Tampan
Keinginan Memiliki Junior Semakin Berat


__ADS_3

Renata dan Aldi kini telah tiba di rumah Renata, setelah perjalanan panjang mereka yang melelahkan. Lagi-lagi malam ini Aldi menginap di rumah Renata.


Keinginan mereka untuk memiliki sang buah hati sudah tidak sabar lagi. Orang tua Aldi di rumah merasa cemas karena selalu mendapat kabar dari Aldi kalau ia tidur di rumah temannya.


"Pa,, Apa papa nyakin Aldi tidur di rumah temannya? Karena sudah beberapa hari ia tidak pulang." Tanya Ibu Aldi ke ayahnya karena merasa khawatir dengan putranya tersebut.


"Sudah Bapak nyakin, Aldi pasti jujur, toh juga selama ini ia tidak pernah berbuat yang macam-macam." Jawab Ayahnya lagi.


Biarpun mereka tidak tahu apa yang dilakukan Aldi di luar rumah tetap saja, mereka percaya ke putranya itu.


"Baiklah Pa, semoga saja apa yang Bapak katakan benar."


Setelah mengobrol sebentar kini Ibu ke dapur untuk membuat secangkir kopi ke suaminya itu, sedangkan Ayahnya Aldi tunggu sambil duduk menonton TV.


Di tempat lain kini Aldi dan Renata sudah berada di kamarnya, mereka asik mengobrol dan bermesraan di sana.


"Sayang semoga kamu cepat ada ya?" Ucap Aldi sambil memegang perut istrinya itu.


"Amiin!!" Jawab Renata sambil tersenyum, karena dia juga menginginkan apa yang di inginkan Aldi.


Karena di dalam rumah tangga tanpa kehadiran seorang buah hati maka kita akan selalu merasakan kesepian, dan dengan kehadiran buah hati tersebut juga semakin memperketat hubungan antara suami dan istri.


"Apa kamu juga menginginkan nya sayang?" Tanya Aldi.


"Iya, semoga saja secepatnya aku bisa memberikan keturunan kepada mu. Dengan kehadiran bayi maka akan semakin erat ikatan kita." Jawab Renata lagi


"Ya sayang semoga saja Allah cepat mengabulkan permintaan kita." Ucap Aldi sambil mencium kening istrinya itu.


"Amiin!!"


Setelah mengobrol sebentar kini Aldi memeluk tubuh istrinya itu dari belakang sambil duduk. Terlihat mereka sangat romantis walau perbedaan umur yang jauh tak membuat Cinta mereka pudar. Begitulah yang di katakan kalau suka jodoh.

__ADS_1


Renata kini berbalik arah sambil duduk di pangkuan suaminya, ia juga membalas pelukan Aldi. Mereka sangat menikmati pelukan hangat mereka.


Tiba-tiba Aldi langsung meraup bibir merah muda milik istrinya itu, ia sangat candu sekarang dengan bibir tersebut, begitu pula dengan Renata dia juga membalas ciuman bibir Aldi yang telah menaikkan gairahnya.


Akhirnya ciuman mereka pun terjadi sangat lama dan juga mereka melakukan beberapa kali, tidak hanya sekali. Sambil bibir mereka berpangutan tangan nakal Aldi juga memainkan bukit kembar istrinya itu.


Sungguh benar-benar nikmat yang saat ini mereka rasakan, seakan dunia ini hanya milik mereka berdua. Tapi kali ini Renata lebih agresif dalam memainkan aktivitas nya, kini ia sedang meraup beberapa kali leher Aldi setelah tadi puas berpangutan bibir.


"Geli sayang." Ucap Aldi cengengesan.


Renata tidak memperdulikan hal itu, malah ia terus saja mencumbui leher Aldi, bahkan tidak puas di leher saja dia juga mencumbui seluruh badan Aldi, yang membuat Aldi tak bisa berhenti ketawa cengengesannya.


Setelah badan Aldi merah semua barulah ia puas, dan tersenyum ke arah Aldi.


"Ih,,kamu nakal sekali, sekarang terima ini giliranku." Aldi langsung menarik badan Renata dan membawa nya ke bawah tubuh Aldi, sehingga sekarang posisi Aldi sudah berada di atas Renata.


Ia langsung melakukan pembalasan yang setimpal ke istrinya itu, dengan mencumbui bagian lehernya dan juga seluruh tubuhnya, Renata beberapa kali menolak kepala Aldi karena tak tahan dengan sentuhan lidah Aldi yang membuat ia terasa sangat geli.


"Kau sungguh hebat sayang, aku tak menyangka kau biar seliar itu, sungguh malam ini aku puas di buatmu." Ucap Aldi sambil membelai Rambut istrinya.


"Kau juga sama sayang, malam ini aku juga sangat bahagia dan puas atas permainan mu." Jawab Renata kembali dan juga menghadiahi Aldi sebuah kecupan mesra di keningnya.


***


Kini mereka semua telah masuk kerja seperti biasanya, Ari dan Dina juga sudah masuk bekerja kembali setelah acara pernikahan mereka selesai.


"Cie-cie ada pengantin baru ni." Goda Renata kepada Dina dan Ari.


"Ih,, kamu ini bisa aja bikin orang malu, coba lihat itu sekarang semua mata jadi tertuju pada kami kan." Jawab Dina.


Renata melirik ke arah yang karyawan lain, ternyata benar apa yang di katakan Dina, memang sekarang semua mata sedang tertuju pada Dina dan Ari.

__ADS_1


Tapi karena Aldi juga berada di sana, ia langsung memelototi matanya ke arah mereka sehingga mereka langsung memalingkan matanya ke arah yang lain.


"Ya maaf deh, tapi kapan kalian akan berbulan madu?" Tanya Renata


Setelah menanyakan hal itu tiba-tiba Renata merasa aneh pada dirinya, ia terlihat mual-mual dan langsung pergi menuju ke kamar mandi.


"Kamu kenapa Re?" Tanya Aldi dengan nada cemas.


Renata tidak menjawab ia langsung pergi meninggalkan mereka semua dan menuju ke toilet, sedangkan Dina yang melihatnya ia langsung mengikutinya dari belakang.


Aldi dan Ari hanya terdiam dan tak bisa berbuat apa-apa karena mereka tidak bisa mengikuti Renata yang sedang ke toilet perempuan.


"Kamu yang tenang aku nyakin Renata tidak apa-apa?" Ucap Ari.


Aldi tak menjawab apa-apa ia hanya terdiam seperti patung dan tak tahu harus berbuat apa walau saat ini sebenarnya ia sangat panik dengan kondisi Renata.


"Kamu kenapa Ren? Tanya Dina yang sudah berada di toilet dengan Renata.


"Aku tidak tahu, tiba-tiba aku merasa pening dan mual-mual, mungkin aku hanya masuk angin, karena selama ini terlalu lelah." Jawab Renata.


"Apa jangan-jangan kamu hamil!! bagaimana kalau kita periksa ke Dokter saja?" Saran Dina


Renata menoleh ke arah Dina dia kaget saat mendengar kalau Dina berkata dirinya hamil.


"Aku gak tahu Din, kalau saat ini mungkin aku lebih baik tidak ke dokter dulu, sebab aku juga tidak nyakin kalau diriku hamil." Jawab Renata dengan ragu, tapi tetap aja ia berharap dirinya benar-benar hamil.


"Yasudah kalau begitu, tapi kalau kamu sedang tidak sehat lebih baik kamu istirahat saja dulu." Ucap Dina lagi.


"Tidak aku tidak boleh terlalu manja seperti ini, aku nyakin sebentar lagi rasa peningnya pasti hilang."


"Yasudah kalau gitu aku setuju-setuju aja, tap seperti aku bilang kalau nanti tambah parah, lebih baik kita ke dokter saja."

__ADS_1


__ADS_2