
Aku terbangun dengan tubuh sangat lemas, kepala ku sedikit berdenyut, ada yang berbeda di tubuh ku tapi apa? sepertinya lipatan daging diantara ************ ku sedikit kaku.
Aku mengenyahkan segala perasaan yang membuat ku semakin takut.
"Kau sudah bangun Sayang?" itu iblis pengganggu hidup ku, mengapa dia baru keluar kamar mandi? jam berapa sekarang? dia juga keramas dan hanya menggunakan handuk menutupi tubuh bawahnya.
"Apa kata mu? sayang?" dan bodohnya aku belum menyadari apapun.
"Apakah masih terasa sakit? kau bermain dengan kasar semalam nyonya Januardy." apa maksud dari perkataan dirinya itu.
"Sekarang mandilah sayang? atau kau belum bisa berjalan karena semalam?" aku mulai paham dengan perkataan Audrey, aku sadar saat menatap selimut yang membungkus tubuh ku melorot.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA KU AUDREY!" bentak ku dengan nada tinggi, bahkan aku menangis saat tau kenyataannya, aku benar-benar membenci Audrey saat ini.
Aku memang melucuti pakaian ku sendiri aku ingat itu, tapi setelah perasaan ingin buang air kecil itu datang aku sudah tidak tau apa-apa lagi.
"Kau perlu bukti bukan? aku bukan seperti apa yang kau maksud, selama ini kau mencari tau tentang ku, kau mempertanyakan kelakian ku bukan, dan semalam aku membuktikannya." dengan seenaknya dia berkata.
Sungguh jika semalam tonik itu memang membuat ku tidak sadar akan apa yang aku lakukan, semua ini karena ayah.
"Tapi semalam kau sadar, mengapa kau melakukannya?" geram ku semakin tak tahan dengan pengakuan Audrey.
__ADS_1
"Aku pria normal, dan jujur saja aku tergoda dengan mu, makanya aku berfikir untuk memanfaatkan itu." ucap Audrey memang membuat ku terasa tersiksa.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang bodoh! kau harus tanggung jawab!" geram ku, jika saat ini hukum tidak berlaku maka aku akan segera membunuhnya.
"Tentu, aku suami mu, dan seharusnya kau bangga memberikan milik mu pada ku."
"Audrey! aku telah mengkhianati diriku, kau tau aku menjaganya untuk orang yang ku cintai dan kau orang yang ku benci malah mengambilnya!" teriak ku marah.
"Audrey, Blevin! apa yang kalian perdebatkan?" tanya ibu yang sekarang sudah masuk kedalam kamar kami.
oh tidak... ibu melihat ku dengan keadaan kacau, dan Audrey yang belum mengenakan bajunya.
"Sudahlah, sekarang bersihkan dirimu dan kenakan pakaian dengan kerah tinggi, tanda ku masih terlihat di leher mu." apa? dia gila bahkan menandai ku!
Aku mandi dan bercermin, aku menangis dalam diam, sakit rasanya di permainkan seperti ini dengan seorang iblis.
Aku enggan menyentuh makanan yang di antar pelayan ke kamar ku, ibu dan ayah sudah pulang sejak tadi, sejak melihat ku dengan iblis itu tanpa busana.
"Kau tidak mau makan nyonya Januardy?" tanyanya dengan senyum yang paling aku benci.
"Pergi dari hadapan ku! pemerkosa!" ucap ku lantang.
__ADS_1
"Aku suami mu, aku berhak atas tubuh mu nyonya." ujarnya dengan wajah yang sudah kesal sepertinya.
"Suami! aku tidak pernah setuju dengan pernikahan itu, bahkan kau mengambil semuanya dari ku dengan paksaan!" aku semakin mengeluarkan emosi ku.
"Nyonya Januardy, kau tau semalam adalah malam terindah untuk ku, ******* mu membuat ku menjadi pria paling beruntung, tapi sayangnya kau melupakan semua kenangan indah itu pagi ini, kau melupakan bagaimana nikmatnya sebuah permainan yang kita lakukan bersama."
Dan kau tau dia tertawa dengan terbahak bahak, sialan dia menertawakan apa?
"Nyonya terimakasih kau sudah memberikan hal berharga dalam hidup mu kepada ku, terimakasih sudah menjadikan ku yang pertama." Dia terus saja bicara, sementara aku hanya menatapi kemalangan diri ku ini.
"Blevin, maafkan aku, aku hanya membuat kissmark itu, aku tidak menyentuh mu, dan kau benar aku tidak bisa memaksa mu, meski aku suami mu, dan aku bukan seorang pemerkosa." ucapnya santai.
"Brengsek! puas kau mempermainkan aku! apa salah ku pada mu!" teriak ku dengan keras.
"Salah mu adalah bermain dengan pria seperti ku, kau fikir aku tidak takut? aku hampir di perkosa oleh teman mu itu, untung saja petugas kamar hotel itu datang dan aku bisa kabur, keterlaluan kan dirimu?" Benar memang semua salah ku, memiliki ide gila seperti itu bahkan aku menawarkan Audrey pada seorang gay.
"Maaf, tapi aku tidak pernah menyesal pernah melakukannya kau pantas, dan ku pikir kau memang membutuhkan teman kencan saat itu." ujar ku tak kalah kasarnya.
Setelah bertengkar hebat dengan Audrey aku memutuskan untuk kembali ke kota, dan meninggalkan vila, malangnya aku menjadi lelucon bagi seorang iblis seperti Audrey.
Aku tidak perduli lagi pada Audrey dia meneriaki ku, tapi aku seolah menutup telinga, aku menjalankan mobil miliknya dengan emosi dan ini kali pertamanya aku menangis.
__ADS_1