Straight Devil

Straight Devil
Kado dan Hukuman


__ADS_3

Semenjak kepulangan kami dari Maladewa, pekerjaan kantor ku menumpuk, sungguh kali ini aku hampir menyerah dengan banyaknya program yang sedang berjalan dibawah kendali Bu Misye, sampai akhirnya aku mulai menghadap ke ruangan paman Anderson.


"Masuk!" Suara paman begitu menggema, saat aku datang ke ruangannya.


"Paman, aku datang hanya ingin menyampaikan surat pengunduran diriku ini, jujur saja pekerjaan ku terlalu banyak di bagaian marketing, sudah 3 hari ini aku terus terusan kerja lembur karena promosi bulanan yang dijalankan oleh IDE."


"Itu sudah menjadi tanggung jawab mu Be."


"Paman, aku tidak mungkin selalu tidur di hotel, kau tau Audrey sudah marah besar pada ku saat ini, dia memberikan pilihan pada ku, untuk tetap bekerja dan kembali ke apartemen atau tetap di rumah itu tapi berhenti bekerja, paman aku tidak mau kembali mencuci baju dan menjadi babu Audrey, ditambah dengan segudang pekerjaan yang tidak bisa diprediksi." Jelas ku pada paman.


"Baiklah, itu kemauan mu, jika ingin kembali kesini, paman akan menempatkan mu pada bagian yang lebih ringan lagi, sekarang untuk sementara jadilah istri yang baik dan mengurus rumah tangga saja." ujar paman.


Entah mengapa, siang hari ini sangat terik, aku ingin sekali minum es kelapa di pinggir jalan, aku menepikan mobil dan membeli sebuah kelapa hijau, aku menyeruput air didalam kelapa itu, rasanya sangat segar, coba bayangkan di siang terik seperti sekarang, segarnya air kelapa bersama es dan juga sedikit sirup gula, ini surga dunia.


Pukul dua akhirnya aku sampai dirumah, Audrey belum pulang dari kantor, disini hanya ada Sinta dan tukang kebun, satpam dan juga beberapa pelayan yang membantu membersihkan rumah dan mengurusi kebutuhan kami, sebenarnya aku ingin memecat beberapa pelayan disini, karena sebenarnya mereka tidak terlalu dibutuhkan.


Aku masuk kedalam kamar, dan perut ku terasa mual, aduh apalagi ini?


"Uwekkkk... Huwekkk..." Aku menatap pantulan wajah ku di cermin, wajah ku sedikit pucat, aku memilih untuk beristirahat sebentar, bagaimana tidak pucat dan muntah, sepertinya aku terlalu lelah, tiga hari terakhir aku melewatkan makan siang, makan pagi ku hanya selembar roti gandum dan teh, kemudian malam harinya aku makan nasi itu juga kalau ingat, tidur ku kurang dari 4 jam, dan itu juga harus mencari hotel terlebih dahulu, mangkanya, Audrey marah besar dan mengancam ku.


Tok... tok...


Pintu kamar ku diketuk, aku hanya bisa berteriak tanpa membukanya.


"Siapa?" teriak ku.


"Ini Ibu sayang?" ujar seseorang yang mengetuk pintu tadi, aku tau itu ibu mertua ku, yang memanggil ku sayang hanya dia.


"Masuk saja Bu, aku di dalam."


Kemudian ibu mertua ku itu masuk dan dia nampak kaget melihat ku.

__ADS_1


"Sayang kamu kenapa? wajah mu pucat sekali, kau juga belum berganti pakaian rumah, ketiduran?" tanyanya.


"Iya ibu, aku kurang enak badan, aku muntah tadi, dan belum sempat mengganti pakaian."


"Yasudah, ganti pakaian dulu, setelah itu turun kebawah, ibu membawakan makanan untuk mu."


Aku menurut, mandi menggunakan air hangat sepertinya cukup membuat badan ku lebih segar, dan sebelum mandi aku kembali muntah.


Selesai dari berpakaian, aku turun kebawah menuju dapur, begitu banyak makanan di ruang makan, saat aku menatap jam dinding ternyata ini memang waktunya makan malam.


"Ibu, ibu menyiapkan ini semua?" tanya ku.


"Iya, hari ini ulang tahun Audrey, jadi sengaja ibu masak banyak dan membawanya, ayah sedang mengambil pesanan kue ulang tahunnya, kau duduklah.


Audrey ulang tahun? aku tidak tau, bahkan aku tidak punya kado apapun.


"Selamat malam semuanya." sapa Audrey saat baru saja tiba di rumah, ayah ibu ku juga datang membawa kado untuk Audrey, sementara aku masih bingung, kepala ku sakit dan aku mau muntah lagi sepertinya, saat kami sedang menyantap makan malam, semua orang mengucapkan selamat untuk Audrey, sementara aku memilih duduk diam di sudut sofa dan menciumi telapak tangan ku yang penuh minyak angin.


Ibu mertua ku adalah orang yang sangat perhatian dan cukup panik saat itu, sementara ibu kandung ku seakan tidak perduli dia begitu tenang tanpa rasa khawatir.


"Audrey cepat angkat Blevin ke tempat tidur, badannya sudah dingin dan lemas." ucap ibu mertua ku.


"Aku akan memanggil dokter." Ayah mertua ku mengambil inisiatif, setelah aku merasa isi perut ku di kuras, ibu mertua ku menanyakan jadwal bulanan ku.


"Kapan terakhir kau menstruasi, sayang?" tanyanya.


"Seminggu yang lalu ibu, aku baru saja selesai datang bulan." jelas ku, aku tau kemana pertanyaan mereka menjurus.


Dokter datang dan memeriksa keadaan ku, dan dia juga menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Nyonya Blevin hanya kelelahan, ditambah sepertinya lambungnya mengalami masalah, dan ada keracunan juga, ini ringan tapi nyonya perlu istirahat dengan baik untuk pemulihan." ucap sang dokter.

__ADS_1


Ibu mertuaku dan ibu ku yang tadi nampak senang langsung berubah drastis, ada raut kecewa disana.


"Jadi kalian tidak membawa oleh-oleh untuk kami?"Pasrah ibu ku.


"Tidak papa, masih banyak waktu, Audrey rawatlah menantu ku dengan baik, perhatikan makanan dan istirahatnya, jangan terus memikirkan pekerjaan mu sendiri Audrey!" Ibu mertuaku sedikit memarahi anaknya itu.


"Bu, aku selalu memperhatikan dia, tapi dia yang selalu menyanggupi semuanya, tiga hari ini Blevin tidak pulang dia menginap di hotel karena pekerjaannya yang mengharuskan dia lembur, aku marah tapi dia tetap tidak perduli." Audrey mulai menyalakan ku lagi, memang aku yang salah.


"Yasudah, kami pulang, selamat ulang tahun untuk mu, semoga bulan depan kami mendapat kabar baiknya." ucap ibu ku, dia memang sengaja supaya menantu kebanggaannya tidak terus disalahkan oleh besannya.


Setelah mereka semua pulang, aku mengajak Audrey untuk bicara.


"Selamat ulang tahun, semoga selalu dalam lindungan Tuhan, maaf aku tidak punya kado." ucap ku jujur.


"Tidak papa, aku tidak butuh kado apapun." ucapnya ketus, benar benar Audrey yang semula ku kenal, dingin dan jutek.


"Aku sudah keluar dari kantor."


"Bagus." jawabnya singkat.


"Masih marah? Audrey."


"Aku tidak marah, aku hanya ingin kau lebih perhatian pada dirimu sendiri!" tegasnya.


"Kau mau kado apa? kau sedang berulang tahun, jujur saja aku tidak tau kalau saat ini kau ulang tahun."


"Hem..." dia menarik nafas, dan mendekatkan wajahnya kepada ku, matanya menatap ku dengan tajam.


"Audrey!" pekik ku kaget, bagaimana tidak kaget dia menghisap bibir bawah ku seperti vakum cleaner.


"Itu ku hitung kado darimu, sekalian dengan hukuman mu, karena tidak mendengarkan perintah ku!" Apa apaan manusia ini, oh bukan bukan manusia, dia adalah King Devil.

__ADS_1


__ADS_2