Straight Devil

Straight Devil
Bukan Nyonya


__ADS_3

Dengan keterpaksaan dan langkah yang gontai, aku turun dari mobil, Audrey berhasil meyakinkan dan membujuk ku untuk pindah ke rumah itu, sebenarnya rumah ini pasti sangat nyaman, tapi sekarang sepertinya aku lebih menginginkan apartemen saja.


"Ayo masuk, jangan diam seperti itu." ucap Audrey, perlahan aku menaiki anak tangga, menuju pintu utama karena carport berada di bawah.


"Selamat datang nona." ucap sang pelayan wanita paruh baya itu, Apa Audrey menyiksa ku di Apartemen dan dia memiliki pelayan yang banyak di rumah ini? keterlaluan!


"Blevin, ini Nyonya Sinta dia yang akan membantu mu mengurus rumah ini, Nyonya Sinta, dia Blevin dia nyonya kalian, meski begitu kalian tidak boleh melakukan setiap hal yang dia perintahkan, kalian hanya boleh menurut dengan peraturan yang sudah ku buat kemarin, mengerti!" Suara Audrey berubah menjadi tegas, apakah dia selalu begini jika berhadapan dengan orang lain?


"Mengerti tuan." ucap para pelayan itu dengan seksama.


Aku mengikuti langkah kaki Audrey menuju kamar kami.


"Sekarang kita punya banyak kamar, terserah kau mau gunakan yang mana." ujar Audrey, apakah kita akan tidur terpisah? meski selama ini kita tidur di kamar yang sama, tentu saja terkadang aku memilih tidur di sofa.


"Kita tidak sekamar?" tanya ku.


"Di apartemen aku hanya punya satu kamar, dan kau selalu tidur terpisah dengan ku, lebih baik kau gunakan satu kamar lainnya daripada satu kamar tapi tidak tidur bersama ku di ranjang!" tegas Audrey, dia kemudian menunjukkan kamar yang akan aku tempati.


Aku masuk dan menatap sudut demi sudut, nuansa putih dan coklat, membuat ku sangat menyukai kamar ini, terkesan hangat dan elegan.


"Kau suka?"


"Tentu, Terimakasih Audrey." ucap ku tulus.


Aku merapikan pakaian formal ku kedalam lemari, namun saat aku membuka lemari, pakaian baru sudah tertata rapi disana, baik warna, model bahkan ukuran semuanya sama dengan kesukaan ku, apakah Audrey menyiapkan semuanya untuk ku.


Aku membuka lemari di sebelah ku, banyak tas tertata rapih disana, ada gaun tidur pula, dan aku baru sadar, lingerie biru tua yang Audrey bilang ternyata ada disini.


"Tuan Audrey, nyonya Haruka ingin menemui anda saat ini, bisakah sekarang?" tanya seorang pelayan, saat aku hendak berterima kasih kembali pada Audrey.


"Tentu, aku akan mengunjunginya, suruh dia tunggu di halaman belakang."


"Baik tuan."

__ADS_1


Aku menormalkan perasaan ku, aku ingin tau seperti apa wanita itu, dan sebenarnya siapa yang jatuh cinta duluan, mengingat tuan Benjamin sangat murka dengannya di kejadian tempo hari saat aku sakit.


Aku mengintip Audrey dari pintu kaca, yang menjadi pembatas antara kolam ikan dan halaman belakang.


Bagaimana Audrey bisa menolak wanita secantik dia, jujur saja aku saja yang wanita iri melihat, kulit putih bersih, mata senyum manisnya, rambut pirang berlikunya, bahkan tubuh tinggi dan langsingnya.


"Audrey." suaranya terdengar samar di telinga ku tapi aku tau dia memanggil Audrey, dia kemudian memeluk Audrey, Audrey menolak dan menjaga jarak, tapi wanita itu mengambil telapak tangan Audrey dan menyuruhnya mengelus perut yang sedikit membuncit itu.


"Nona, tidak baik mengintip pasangan suami istri seperti ini." ucap seorang di belakang ku.


"Siapa yang mengintip." ujar ku dengan wajah kesal.


"Kau mengintip Nyonya dan tuan, ingatlah jika kau perempuan baik baik kau tidak akan menggangu mereka."


Keterlaluan! jika aku pengganggu lantas wanita itu apa? Pestisida?


Tanpa banyak bicara, aku melangkah menuju kamar ku, aku menelpon ibu mertua ku, aku bingung hanya dia saat ini yang mampu memberikan solusi dalam kasus rumit ini.


"Hallo, sayang kau apa kabar? kenapa jarang sekali menghubungi ibu?" Jawab ibu dari seberang sana.


"Kau menangis sayang? ada apa? Audrey menyakiti mu?"


"Ibu, sebenarnya siapa Haruka, kenapa dia sangat sempurna, bahkan semua orang di rumah ini menganggap ku pengganggu?" tanya ku dengan ekting luar biasa ku.


"Sayang, ibu akan mengurusnya untuk mu, kau dimana sekarang?"


"Kami baru saja pindah ke rumah itu ibu."


"Dengarkan ibu, Haruka adalah anak dari Benjamin, Haruka memang sangat mencintai Audrey, tapi sepertinya selama ini Audrey tidak pernah memiliki perasaan apapun padanya, ibu berpesan pada mu, biarkan saja saat ini mereka tidak menganggap mu sebagai nyonya, tapi kau harus bisa membuat Audrey menjauh darinya."


"Dengan cara apa ibu?"


"Kau harus mengambil hati Audrey, dan tidak memberikan kesempatan apapun pada wanita itu, Haruka gadis yang baik, tapi mungkin ibu salah menilainya, lagi pula yang menjadi menantu ku sekarang adalah kau sayang."

__ADS_1


"Terimakasih ibu, ku mohon beri aku sedikit bantuan supaya Audrey bisa menjauh darinya."


"Ibu akan memarahi Audrey, tenang saja!" Dan sambungan di matikan sepihak oleh ibu ku yang sangat baik itu.


Aku sedang memikirkan sesuatu saat ini, dan aku tau caranya, aku akan mengikuti permainan mu Audrey, kau di peluk, aku bisa meremas mu, kau di cium aku bisa mencubit mu, kau melakukan hal yang memalukan, aku bisa lebih menyakitkan!


"Blevin! Blevin?" Audrey memanggil ku, aku baru saja mandi dan keramas, bahkan aku juga memakai baju mandi ku.


"Ada apa?" tanya ku pada Audrey yang masuk kedalam kamar ku.


"Kita akan makan malam dan Aku akan memperkenalkan mu pada Haruka." memperkenalkan? yang ada kau mengejek ku tuan!


"Baiklah, 10 menit lagi aku akan turun." Aku membalikan badan dan membuka lemari.


"Kau bicara apa pada ibu?" Audrey bertanya dan itu menghentikan gerak tangan ku.


"Aku hanya bilang, jika kita pindah rumah dan ada Haruka di sini, kau bisa keluar sekarang atau tidak, nanti Haruka akan menunggu terlalu lama." ucap ku sedikit menyindir.


Aku sudah mengenakan baju dan tidak bermake-up, karena memang aku tidak suka.


Audrey dan Haruka duduk di bangku meja makan, Audrey berada di ujung meja, sementara Haruka berada di kiri Audrey.


Aku tersenyum menyapa keduanya, para pelayan itu menatap ku seakan mau menguliti ku.


"Selamat malam." ucap ku membungkukkan badan, memberi rasa hormat pada wanita yang mereka anggap sebagai nyonya itu.


"Malam, kau siapa?" tanya wanita itu, dan Audrey tidak berniat sama sekali memperkenalkan ku, padahal tadi dia bilang akan memperkenalkan ku.


"Nyonya, tanyakan siapa aku pada suami mu, ibu mertua ku pernah mengajarkan sesuatu, jika seorang tamu, patutnya di perkenalkan oleh orang yang membawanya, namun jika dia datang tanpa di undang, sebaiknya memperkenalkan dirinya sendiri bukan? Aku di bawa oleh SUAMI mu , dan bertanyalah padanya." ujar ku dengan ketus, biar saja.


"Audrey, siapa dia?" ucap wanita itu dengan lembut.


"Dia yang mengambil masa depan ku." Audrey hanya mengatakan itu, dan dia mulai menyuruh para pelayan itu pergi dari meja makan, pertanda makan malam akan di mulai.

__ADS_1


Hanya hening, aku maupun Audrey hanya diam, perjanjian tetap perjanjian Audrey kau tidak boleh menjawab ataupun bertanya pada wanita itu di hadapan ku.


__ADS_2