
Setelah makan pagi yang terlambat itu Blevin dan Audrey memilih untuk kembali ke rumah mereka, keduanya nampak bungkam sejak tadi.
"Nenek aku dan Blevin pulang sekarang, ada banyak pekerjaan yang harus segera ku tangani di kantor, begitu pula dengan Blevin."
"Lain kali datanglah kemari, kau juga harus menyiapkan waktu luang lebih banyak untuk istri mu, kelihatan dia sangat bosan sendirian di rumah." ucap anak perempuan nenek Tagashi.
"Baiklah, bibi, nenek aku dan Audrey pamit." Blevin ingin sekali secepatnya sampai di rumah dan menjauh dari Audrey.
Didalam perjalanan keduanya masih sama sama bisu hanya sebuah lagu yang mengudara diantara keduanya saat ini.
Audrey mencuri pandang pada wajah Blevin yang menatap tajam dasboard mobil.
"Jika mau marah silahkan." ucap Audrey.
Blevin masih tak menjawab, dia benar-benar bungkam.
"Tidak bisakah sedikit saja kau memaafkan ku atas kejadian semalam?" Desak Audrey.
"Aku bahkan enggan berciuman dengan Zain, padahal aku mencintainya, mungkin Zain pergi meninggalkan ku karena aku tidak bisa memberikan apapun untuknya, tapi kau?"
Blevin kembali teringat peristiwa semalam, dimana dirinya menyerah dengan perlakuan Audrey padanya.
"Aku tidak mencintai dirimu, bahkan kau juga hanya ingin membalaskan kekesalan mu pada ku bukan? lalu karena teh itu..." Blevin terisak dia tidak sanggup meneruskan perkataan.
"Blevin, kau salah." Audrey menepikan mobilnya dan menatap mata Blevin, jelas penyesalan ada pada mata keduanya.
"Kau salah, aku perlahan mulai merasakan bahwa kau milikku, perlahan aku bisa merasakan bahwa perasaan yang selama ini tak terjamah oleh orang lain, ternyata berlabuh padamu." Audrey mengucapkan perasaannya dengan sangat jelas.
"Kau?"
"Ya... selama ini aku coba untuk memastikan semuanya, dan ternyata aku mulai merasakan hati ku yang bergetar."
"Audrey, kenapa kau melakukan semuanya pada ku? aku tidak bisa membalas perasaan mu itu. Kau tau Zain melukai ku sangat dalam dan jika kau memang tetap ingin mendapatkan balasannya, maka coba untuk sembuhkan luka ku." tantang Blevin padanya.
__ADS_1
"Mulai dari awal?" Blevin mengangguk menangapi pertanyaan Audrey, Audrey tersenyum mendapatkan kartu kuning dari Blevin.
Sesampainya dirumah, Haruka meminta Audrey untuk berbicara padanya.
"Bisa kita bicara berdua Audrey?" Audrey mengangguk dan meninggalkan Blevin.
"Ada apa lagi?" tanya Audrey.
"Ayah ku sudah mengetahui keberadaan ku, dan pria itu akan datang menjemput ku paksa, Audrey aku tidak mau kembali, tolong aku Audrey."
Audrey mulai bimbang di sini, dia tidak mau melunturkan kembali kesempatan yang diberikan oleh Blevin padanya.
"Suruh mereka datang aku akan menemui mereka secara baik-baik." ucap Audrey dingin, sementara itu Haruka merasakan keanehan pada diri Audrey.
"Kau berubah." ucap Haruka.
"Berubah seperti apa?"
"Harus ku perjelas Haru, aku telah memiliki kehidupan ku sendiri, Haru, sedari awal aku telah mengatakan semuanya pada mu, bahwa aku tidak mencintaimu, mengerti lah, jalani hidup mu bersama suami mu dan aku bersama istri ku."
Haruka luruh dia memeluk Audrey, tidak terlalu rapat karena perut buncitnya itu menghalangi mereka.
"Jaga bayi mu baik baik, dia tidak bersalah atas apapun, cintai dia dan mulailah belajar menerima." Audrey kemudian melangkah menuju kedalam rumahnya.
Tanpa disuruh Audrey mendatangi Blevin yang berada dikamar.
"Kau baik-baik saja?" Blevin menatap Audrey.
"Memangnya aku harus bagaimana?" tanyanya kembali.
"Blevin, kenapa kau selalu bersembunyi dalam rasa sedih mu? kenapa kau tidak pernah menjelaskan semuanya pada orang tua mu?"
"Audrey, jika aku menceritakan semuanya apa yang bisa mereka lakukan untuk ku? mereka sudah cukup pusing dengan Bella, lalu apakah aku pantas membuat mereka semakin pusing dengan semua rasa sedih ku, aku tersingkir aku diasingkan sampai harus tinggal terpisah, aku cukup mengerti semua karena aku sudah melampaui batas, tapi ada sesuatu yang membuat diriku harus memberontak dan salah faham saat itu."
__ADS_1
"Aku minta maaf atas kejadian lampau 3 tahun lalu yang membuat dirimu harus tersiksa begitu lama."
"Tidak papa, aku hanya sedikit kesal dengan mu, kenapa juga aku harus marah, harusnya kaulah yang marah pada ku, kau yang aku jual di jaringan prostitusi."
Keduanya tertawa menanggapi kebodohan masing-masing.
"Audrey maukah kau jujur?"
"Tentang?"
"Bayi Haruka." Audrey nampak cemas dengan pernyataan Blevin.
"Kau tidak berfikir bahwa itu anak ku kan?"
Blevin menggeleng, dia menatap Audrey dengan teduh.
"Haruka mengatakan bahwa seharusnya aku mencurigai kehamilannya, sayang nya aku sangat mengenal mu, sampai tadi malam."
"Maksud mu?"
"Sampai tadi malam aku masih berfikir bahwa kau adalah seorang pria sejenis Davi."
"What????" Audrey membelak, Blevin tidak cemburu padanya sama sekali?
"Memang awalnya aku mulai ragu, tapi karena aku selalu mendapat fakta bahwa kau menjurus ke arah sana, jadi aku pikir kau memang begitu, tapi sejak semalam aku tau, aku salah." Blevin menunduk dan Audrey tersenyum licik.
"Jadi sekarang kau berfikir apa?"
"Aku hanya butuh penjelasan mu."
"Anak itu anak Haruka dan suaminya, aku hanya sebagai penolong, sebagai teman yang membalas budinya, itu saja." Lalu Audrey mengangkat dagu Blevin.
"Yang bisa menjadi ibu dari anak ku hanya kau Blevin Victoria Clark, I Love You." ucapnya lalu mengecup kening Blevin mesra.
__ADS_1