
Kami sampai di villa saat hari mulai beranjak petang, suasana alam sangat hangat menyambut kami, bahkan jaket yang ku kenakan terasa tidak berguna.
"Audrey, kamar mu dan Blevin ada di lantai dasar, di samping kolam renang, kalian istirahatlah, ayah dan ibu juga akan beristirahat, nanti malam kita berkumpul di ruang makan untuk makan malam." Ayah berbicara dengan tatapan teduhnya.
"Baiklah ayah, sampai berjumpa nanti malam." ujar ku, aku beriringan dengan Blevin menuju ke kamar kami yang berada di dekat kolam renang.
"Kau mau kemana Blevin?" tanya ku pada Blevin yang sudah mengambil baju renang miliknya.
"Aku mengambil baju renang, bukan baju tidur bodoh!" ucapnya dengan nada kasar, memang seperti itu biarkan saja.
Matahari semakin turun dan Blevin baru selesai dari aktivitas berenangnya.
oh No! kenapa dengan dia?
"Kenapa kau hanya memakai baju renang mu saat keluar dari kolam?" tanya ku, bagaimana tidak bertanya, kali pertamanya aku melihat Blevin memakai baju ketat yang lebih mirip ****** ***** itu.
"Kenapa?"jawabnya ketus.
"Aku..." baru saja ingin menjawab Blevin lebih dulu berujar.
"Kau penyuka sesama jenis jadi aku tidak takut kau terkam!" ujarnya sembarangan.
Suara ku naik satu oktaf, "Jika aku bukan pria presto seperti Davi apakah kau akan memakai pakaian seperti ini juga?" tanya ku.
"Tentu tidak, aku tidak akan menyerahkan aset ku pada pria yang aku benci!" lalu dia melangkah menuju kamar mandi dan memakai pakaian tepat di depan ku, dia membuka baju mandinya dan memakai dress selutut di hadapan ku, walau dia tidak sepenuhnya tanpa benang, tapi aku juga sudah berdiri dengan pemandangan itu.
"Blevin, bisakah kau mengenakan baju di kamar mandi saja." tegas ku.
"Kenapa? kau tergoda, syukurlah berarti kau masih memiliki hasrat pada perempuan, dan kau bisa sembuh tuan." Menyebalkan apa maksudnya, dia pikir aku benar-benar gay.
Kami makan malam dengan santai, ayah dan ibu mertua ku juga membicarakan beberapa hal tentang Bella kembaran Blevin.
__ADS_1
"Ya, maka dari itu setelah kepergian Bella aku meminta Blevin kembali." ujar ibu mertua ku.
"Saya turut berduka Bu." ucap ku.
Nyonya Victoria tersenyum dan menatap Blevin.
"Harapan kami mendapat cucu hanya pada Blevin, sekarang mengingat Adam memiliki kelainan pada jantungnya membuat ku semakin ragu jika dia bisa memiliki anak secara alami." nyonya Victoria kelihatan bersedih menatap Blevin.
"Ibu, kak Adam adalah pangeran terbaik, dia di pilih tuhan untuk menjadi ladang pahala untuk mu Bu, percayalah kak Adam akan menemukan cinta sejatinya dia akan sembuh dan dia akan memberi penerus untuk keturunan Clark." Blevin yang bicara sekarang, dia sudah menangis tersedu mengingat kakaknya yang terkena kelainan jantung.
"Setelah makan malam kalian berdua istirahat lah, ibu dan ayah juga sudah lelah, merencanakan pernikahan kalian dari awal bukanlah hal yang mudah." keluh nyonya Victoria.
Setelah makan malam selesai aku masuk kedalam kamar, Blevin sudah lebih dulu berada di kamar, dia juga sudah mengganti baju tidurnya, namun salah satu pelayan mengetuk pintu kamar kami, dan aku harus keluar untuk menemuinya.
"Tuan Audrey, ini dari tuan Diego, katanya ini tonik untuk kesehatan, tuan." ujar sang pelayan, dan aku tau itu apa.
"Terimakasih, aku akan meminumnya, sekarang pergilah." dan pelayan itu pergi, tonik itu ku letakan di atas meja rias milik Blevin.
"Blevin... kau meminum air di gelas ini?" tanya ku saat cangkir yang berisi tonik itu sudah kosong dan tidak ada sedikit air pun tergenang.
"Kenapa? itu teh herbal yang di antar pelayan bukan, tapi hari ini rasanya sedikit hangat dan pahit." gawat... Blevin salah meminum herbalnya!
"Teh mu ada di gelas kaca di sisi tempat tidur mu Blevin." ujar ku dan dia kaget.
"Lalu? apa yang ku minum Audrey?" tanyanya pada ku panik.
"Itu obat gila Racikan Mertua ku, yang tak lain adalah ayah mu." ucap ku tertawa menatapi Blevin yang bodoh.
"Kau! mengapa kau menaruhnya disini, kau sangat bodoh tuan!" geram Blevin.
"Aku ingin membuangnya tadi, dan kau malah meminumnya, lalu apakah kau tidak bisa membedakan rasa teh hijau dengan tonik, kemudian warnanya juga beda!" sanggah ku.
__ADS_1
"Lalu? apa efeknya?"tanyanya yang mulai khawatir.
"Lihat saja nanti kau akan berubah menjadi monster." ujar ku menakuti Blevin.
Dua jam kemudian aku pura pura tidur dengan selimut yang tidak terlalu menutup tubuh ku, aku mulai merasakan Blevin yang berada di sofa sedang membaca buku mulai naik ke atas tempat tidur.
Blevin mulai resah mungkin tubuhnya panas sekarang, dia membuka kancing baju tidurnya, dia melepaskan jubahnya dia bolak balik ke kamar mandi, dia mulai meraba-raba punggung ku, meminta pertolongan.
"Ada apa Blevin?" tanya ku dengan suara yang ku buat serak seperti orang bangun tidur.
"Audrey kenapa rasanya seperti ini? aku berulang kali ke kamar mandi untuk membasuh bagian bawah ku yang basah." ujarnya bersamaan dengan ******* yang keluar dari mulutnya.
******* Blevin mulai terdengar gusar, aku bangun dan duduk menatapnya ide jahil mulai bersarang dalam otak cerdas ku.
"Dengar, sekarang kau buka seluruh baju mu, kemudian, pijat bagian yang menurut mu tegang." Blevin menurut dengan yang ku katakan, karena dia menganggap ini sebagai pertolongan.
Aku menarik tangannya saat kedua jarinya itu masuk kedalam benda berharga miliknya.
"Jangan Blevin, biarkan saja, jangan kau masukan, itu berbahaya, biar aku saja." ucap ku dengan nada tidak rela, aku bahkan tidak rela bila tangan Blevin sendiri yang pertama menikmati itu.
"Lalu kau? ahh... tidak Audrey!" desahnya.
Setelah Blevin mendapatkan apa yang di butuhkan dirinya, dia mulai tidur dan tidak bereaksi lagi.
Aku melakukan cumbuan agar apa yang aku rencanakan terlihat real. Aku bahkan tidak sedikit pun menyentuh Blevin di bagian sana.
Obat gila buatan mertua ku memang menyenangkan, terutama saat tujuannya adalah mengerjai putri nya.
Lihat nanti pagi pasti seisi vila akan hancur oleh Blevin.
Bahagianya aku saat ini tidak bisa di bayarkan oleh apapun.
__ADS_1